Bos Xiaomi Prediksi Harga Ponsel ‘Flagship’ China Bakal Tembus Rp 20 Juta di Akhir 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Xiaomi, Lu Weibing memberi sinyal harga ponsel kasta tertinggi yang menjadi andalan (flagship) asal China berpotensi naik drastis menjadi 10.000 yuan atau sekitar Rp 22 juta pada akhir 2026. Lonjakan harga komponen memori menjadi salah satu faktor utama yang membebani industri smartphone global.
"Xiaomi bahkan masih membahas strategi harga untuk lini perangkat berikutnya karena harga komponen dinilai masih sangat fluktuatif," kata Lu Weibing dalam keterangan resmi, dikutip dari Gizmochina, Minggu (12/5/2026).
Xiaomi 17 Ultra sebelumnya diluncurkan di China dengan harga mulai 6.999 yuan atau sekitar US$ 980 untuk varian 12GB/512GB. Namun, tekanan biaya produksi disebut terus meningkat seiring melonjaknya permintaan industri kecerdasan buatan (AI) dan pusat data.
Baca Juga
Kuasai Pasar Smartphone Tanah Air, Xiaomi Siap Ekspansi Ekosistem di 2026
Lu menjelaskan, pembangunan pabrik memori baru membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga bisa berproduksi massal. Di sisi lain, kebutuhan chip memori terus meningkat untuk server AI dan perangkat komputasi berkinerja tinggi.
“Tekanan harga memori kemungkinan akan terus berlangsung hingga 2027, bahkan mungkin sampai 2028,” ujar Lu.
Kondisi tersebut membuat peluncuran Xiaomi 17 Max menjadi sorotan pasar. Ponsel yang dijadwalkan meluncur di China pada Mei ini disebut akan berada di segmen premium atas dengan spesifikasi kelas flagship.
Di Indonesia, harga smartphone juga diprediksi akan semakin meningkat akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pengamat teknologi Heru Sutadi menyebut kondisi ini membuat produsen harus menaikan harga jual.
Baca Juga
Menperin Agus Rayu Xiaomi untuk Investasi Mobil Listrik di Indonesia
"Selain krisis chip AI, rasanya banyak komponen dalam dolar AS yang mau tidak mau akan menaikkan harga produksi," kata dia, Jumat (15/5/2026).
Di sisi lain, sejumlah produsen smartphone sejatinya sudah menaikkan harga di Indonesia di kisaran Rp 100-300 ribuan. Namun dengan kondisi seperti sekarang, kenaikan harga diprediksi kembali terjadi.
Samsung dan Apple masih menguasai segmen premium di Tanah Air, namun tekanan biaya produksi disebut akan mempersulit penetrasi smartphone China, seperti Xiaomi, Oppo, Vivo, dan Honor. Kenaikan harga komponen akan mengubah pola persaingan industri smartphone China yang selama ini dikenal agresif dalam menawarkan harga murah.

