Bagikan

Degradasi ke Kasta Ketiga, Leicester City Alami Kerugian Total Rp7,5 Triliun Sejak 2019

Poin Penting

Leicester City terdegradasi ke League One dan mencatat akumulasi kerugian hingga £375 juta (Rp7,5 triliun) sejak 2019.
Beban finansial kian berat akibat utang lebih dari £100 juta (Rp2 triliun) kepada Macquarie serta penurunan drastis pendapatan setelah turun kasta.
Struktur gaji tinggi dan keterbatasan dana dari King Power Group membuat proses kebangkitan Leicester penuh tantangan.

LEICESTER, investortrust.id – Leicester City menghadapi krisis besar setelah dipastikan terdegradasi ke kasta ketiga Inggris, League One. Hasil imbang 2-2 melawan Hull City di King Power Stadium bukan hanya menjadi penutup pahit, melainkan juga terungkap fanta soal akumulasi kerugian £375 juta (Rp7,5 triliun) sejak 2019.

Penurunan ini terasa makin menyakitkan karena Leicester menjadi salah satu dari sedikit klub yang mengalami degradasi beruntun hingga ke level ketiga. Situasi tersebut memicu kekecewaan suporter, yang bahkan melakukan aksi protes terhadap pemilik klub, King Power Group.

Dari sisi performa, hasil buruk sepanjang musim menjadi penyebab utama. Leicester hanya meraih dua kemenangan dari 19 laga liga sepanjang 2026, bahkan dihantam pengurangan poin akibat pelanggaran aturan keuangan.

Baca Juga

Usul Italia Gantikan Iran di Piala Dunia 2026 Mungkin Ditolak FIFA

Namun, persoalan terbesar justru datang dari kondisi finansial. Klub dilaporkan mencatat kerugian sebesar £71,1 juta (Rp1,4 triliun) untuk musim 2024/2025. Jika ditotal sejak 2019, akumulasi kerugian mereka telah mencapai £375 juta (Rp7,5 triliun).

Untuk menutup kebutuhan operasional, Leicester mengandalkan pinjaman besar, termasuk dari Macquarie dengan nilai lebih dari £100 juta (Rp2 triliun). Pinjaman tersebut bahkan melibatkan pendapatan masa depan, seperti cicilan transfer pemain dan dana siaran.

Fans Leicester menghadiri pertandingan di King Power Stadium. (www.instagram.com/lcfc)
Source: www.instagram.com/lcfc

Pakar keuangan sepak bola Kieran Maguire menilai situasi ini sangat mengkhawatirkan. Menurut dia, Leicester seperti “menggunakan uang masa depan untuk membiayai kebutuhan saat ini,” yang bisa menjadi masalah besar setelah turun kasta.

Pendapatan klub diprediksi anjlok drastis di League One. Jika sebelumnya mereka bisa menghasilkan sekitar £100 juta (Rp2 triliun) di Championship, kini angka itu berpotensi turun hingga kisaran £60-70 juta (Rp1,2–1,4 triliun), bahkan tanpa benar-benar menerima dana parasut karena sudah digunakan sebelumnya.

Di sisi lain, beban gaji pemain tetap tinggi. Saat masih di Liga Premier, Leicester memiliki total gaji mencapai £150 juta (Rp3 triliun). Meski diperkirakan turun, angka tersebut tetap jauh di atas standar League One yang rata-rata hanya sekitar £9,5 juta (Rp190 miliar).

Sejumlah pemain dengan kontrak panjang seperti Oliver Skipp, Jannik Vestergaard, dan Harry Winks masih terikat kontrak, sehingga menyulitkan upaya efisiensi.

Foto mendiang Vichai Srivaddhanaprabha, pemilik Leicester City asal Thailand yang meninggal kecelakaan helikopter, beberapa tahun lalu. (www.instagram.com/lcfc)
Source: www.instagram.com/lcfc

Masalah semakin kompleks karena regulasi League One membatasi pengeluaran skuad hanya 60 persen dari dana yang disuntikkan pemilik. Artinya, King Power Group harus mengeluarkan dana tambahan besar jika ingin membangun ulang tim.

Di tengah tekanan tersebut, kondisi finansial pemilik klub juga tidak sepenuhnya stabil. Sejak pandemi COVID-19, bisnis utama King Power mengalami tantangan dan harus melakukan restrukturisasi.

Dengan sebagian besar sumber pendapatan masa depan sudah digunakan, pertanyaan besar kini muncul: siapa yang akan membiayai kebangkitan Leicester? Jika tidak segera menemukan solusi, Leicester City berisiko terjebak lebih lama di kasta bawah, dengan dampak finansial yang semakin berat di musim-musim mendatang.

Baca Juga

Cedera Paha, Pemain Bayern Muenchen Serge Gnabry Absen di Piala Dunia 2026

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024