Perang Mudah Dimulai, Sulit Dihentikan: Dilema Trump dan Dampak Ekonomi Global
Poin Penting
|
“Dalam perang modern, yang paling mahal bukan peluru, tetapi ketidakpastian.”
Oleh: Primus Dorimulu
CEO Investortrust.id
JAKARTA, Investortrust.id — Eskalasi konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran memasuki fase yang semakin berbahaya. Serangan terus berlanjut, ancaman meningkat, tetapi satu hal justru semakin kabur: bagaimana perang ini akan diakhiri.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berada di pusat dilema tersebut. Di satu sisi, Trump meningkatkan tekanan militer dan melontarkan ultimatum keras, termasuk ancaman terhadap infrastruktur strategis Iran jika jalur energi global terganggu. Namun di sisi lain, ia juga beberapa kali menyatakan perang bisa segera diakhiri dan membuka ruang negosiasi.
Kontradiksi ini mencerminkan satu hal: kebuntuan strategis. Tujuan perang yang awalnya difokuskan pada penekanan program nuklir Iran kini melebar ke isu yang lebih kompleks, mulai dari keamanan Selat Hormuz hingga tekanan terhadap stabilitas rezim. Ketika tujuan bergeser, definisi kemenangan ikut berubah. Dan ketika kemenangan tidak jelas, jalan keluar menjadi semakin sulit dirumuskan.
Baca Juga
Dampaknya kini tidak hanya terasa di kawasan Timur Tengah, tetapi juga mengguncang ekonomi global. Harga minyak dunia melonjak tajam, dengan Brent sempat menembus di atas US$100 per barel dalam beberapa sesi terakhir, dipicu kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Kenaikan harga energi ini langsung menekan negara-negara importir, termasuk Indonesia. Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak berarti tekanan ganda. Pertama, beban subsidi energi dalam APBN berpotensi membengkak, terutama jika pemerintah tetap menahan harga BBM dan LPG. Kedua, tekanan terhadap nilai tukar rupiah meningkat seiring memburuknya neraca perdagangan migas.
Data menunjukkan sekitar 70% kebutuhan LPG nasional masih bergantung pada impor. Dengan harga global yang naik, risiko lonjakan subsidi LPG menjadi semakin nyata, bahkan lebih cepat dibandingkan tekanan dari sisi BBM.
Baca Juga
Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz, Harga Minyak WTI Melonjak di Atas 2%
Di pasar keuangan, ketidakpastian geopolitik juga mulai tercermin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjungkal, dengan sektor-sektor berbasis konsumsi dan manufaktur menghadapi tekanan akibat potensi pelemahan daya beli dan kenaikan biaya energi.
Investor global cenderung menghindari risiko (risk-off), mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS dan emas, yang pada gilirannya menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di dalam negeri Amerika Serikat sendiri, Trump juga menghadapi tekanan yang tidak ringan. Harga energi yang meningkat berisiko memicu inflasi domestik, sementara opini publik mulai menunjukkan kelelahan terhadap konflik berkepanjangan.
Situasi ini menciptakan dilema klasik: mengakhiri perang terlalu cepat berisiko dianggap gagal, tetapi melanjutkan konflik justru memperbesar biaya ekonomi dan politik.
Baca Juga
Teheran Tolak Ultimatum Trump, Serangan Infrastruktur Iran Bisa Menjadi Kenyataan
Sementara itu, Iran tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah. Penolakan terhadap berbagai proposal gencatan senjata sementara mengindikasikan bahwa Teheran menginginkan solusi yang lebih permanen dan menguntungkan secara strategis.
Dengan demikian, konflik ini memasuki fase yang paling berbahaya: bukan ketika perang dimulai, tetapi ketika tidak ada pihak yang memiliki jalan keluar yang jelas.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi domestik sangat rentan terhadap gejolak global, terutama di sektor energi. Ketergantungan pada impor migas dan LPG membuat setiap lonjakan harga global langsung berdampak pada fiskal dan daya beli masyarakat.
Dalam konteks ini, reformasi energi dan penguatan ketahanan domestik bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Karena pada akhirnya, perang di Timur Tengah mungkin terjadi jauh dari Indonesia. Tetapi dampaknya —melalui harga energi, inflasi, dan pasar keuangan— akan terasa sangat dekat.
“Perang mungkin terjadi di satu kawasan, tetapi biayanya selalu dibayar oleh dunia.”

