Pasar Asia Tertekan, Eskalasi Perang Timur Tengah Picu Kekhawatiran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar Asia Pasifik diperkirakan tertekan di tengah konflik yang makin panas di kawasan Timur Tengah. Kelompok Houthi di Yaman menyatakan bahwa mereka telah menembakkan rudal ke Israel, menandai keterlibatan langsung mereka dalam perang yang dipimpin Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Baca Juga
Dikutip dari CNBC, Senin (30/3/2026), indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,94% pada awal perdagangan.
Indeks Nikkei 225 Jepang diperkirakan melemah, dengan kontrak berjangka di Chicago berada di 50.630 dan kontrak Osaka di 51.250, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di 53.373,07.
Futures indeks Hang Seng Index Hong Kong berada di 24.630, lebih rendah dari penutupan terakhir di 24.951,88.
Di Amerika Serikat, kontrak berjangka yang terkait dengan Dow Jones Industrial Average turun 253 poin, atau 0,6%. Futures S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun 0,5%.
Dalam sebuah unggahan di X, Sabtu (28/3/2026), juru bicara Houthi, Yahya Saree, menyatakan kelompok tersebut meluncurkan rentetan rudal balistik ke apa yang mereka sebut sebagai lokasi militer sensitif Israel, sebagai bentuk dukungan terhadap Iran dan sekutunya Hezbollah di Lebanon.
Serangan ini menandai eskalasi lebih lanjut dalam konflik yang dimulai dengan serangan udara AS dan Israel terhadap target Iran pada 28 Februari.
Harga minyak naik pada awal perdagangan Asia. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate naik 2,58% menjadi US$102,19 per barel.
Koreksi
Pada Jumat lalu, Dow Jones Industrial Average anjlok dan masuk ke wilayah koreksi. Indeks berisi 30 saham tersebut turun 793,47 poin, atau 1,73%, menjadi ditutup di 45.166,64. S&P 500 turun 1,67% dan berakhir di level terendah tujuh bulan di 6.368,85. Nasdaq Composite turun 2,15% dan ditutup di 20.948,36.
Baca Juga
Indeks S&P 500 mencatat penurunan mingguan kelima berturut-turut, turun 2,1% dalam periode tersebut. Nasdaq yang didominasi saham teknologi melemah 3,2% dalam sepekan.

