Trump Beri Iran “Satu Kesempatan Terakhir untuk Damai”, Teheran Sebut Klaim Negosiasi sebagai “Fake News”
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran masih memiliki “satu kesempatan terakhir untuk damai” di tengah eskalasi perang yang telah memasuki pekan keempat. Pernyataan itu disampaikan setelah Washington menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari, menyusul klaim adanya pembicaraan antara kedua negara.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui media sosial dan dikutip NBC News, Senin (23/3/2026) waktu AS atau Selasa (24/3/2026) WIB, Trump menyebut telah terjadi “pembicaraan yang produktif” dengan Teheran untuk mencapai “penyelesaian total konflik di Timur Tengah”. Penundaan serangan tersebut langsung berdampak pada pasar global, dengan harga minyak dan gas turun seiring meredanya kekhawatiran eskalasi jangka pendek.
Baca Juga
Namun, klaim Washington segera dibantah oleh Iran. Ketua parlemen Iran menyebut laporan mengenai adanya negosiasi sebagai “fake news” yang bertujuan memanipulasi pasar energi global. Pemerintah Iran juga menegaskan tidak ada pembicaraan langsung maupun tidak langsung dengan Amerika Serikat, dan menilai langkah Trump hanya upaya untuk menekan harga energi sekaligus memberi waktu bagi persiapan militer lanjutan.
Ketegangan ini terjadi di tengah ancaman sebelumnya dari Trump yang akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Penutupan atau gangguan di jalur tersebut telah mendorong lonjakan harga energi global dalam beberapa pekan terakhir.
Menurut laporan International Energy Agency, krisis energi saat ini bahkan disebut lebih parah dibandingkan krisis minyak pada 1970-an. Konflik ini telah mengganggu pasokan minyak dan gas global serta meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.
Di lapangan, serangan militer terus berlangsung. Ibu kota Iran, Teheran, serta Beirut di Lebanon masih menjadi sasaran serangan. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 1.039 orang tewas sejak konflik dimulai pada akhir Februari 2026. Secara keseluruhan, lebih dari 2.000 orang dilaporkan meninggal di kawasan Timur Tengah, termasuk lebih dari 1.200 korban di Iran akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, menurut data Bulan Sabit Merah Iran.
Baca Juga
Harga Minyak Dunia Anjlok Hampir 11% Setelah Trump Tunda Serangan ke Infrastruktur Energi Iran
Kekhawatiran global juga datang dari Eropa. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan situasi energi global saat ini “sangat kritis” dan menekankan pentingnya solusi diplomatik. Dalam pernyataannya di Canberra, Australia, ia menegaskan bahwa negosiasi menjadi satu-satunya jalan untuk menghentikan konflik dan menjaga stabilitas pasokan energi global.
“Dampaknya sudah dirasakan pada harga minyak dan gas, bisnis, serta masyarakat. Sangat penting kita mencapai solusi melalui negosiasi,” ujarnya pada Selasa (24/3/2026), seperti dilaporkan berbagai media internasional.
Sejumlah negara juga mulai mengambil langkah darurat. Jepang, misalnya, mengumumkan akan mulai melepas cadangan minyak strategis pada akhir Maret 2026 untuk meredam dampak gangguan pasokan dari Timur Tengah, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Baca Juga
CEO BlackRock Larry Fink Peringatkan Risiko “Market Timing”, Tekankan Pentingnya Tetap Berinvestasi
Perkembangan yang cepat dan saling bertolak belakang antara pernyataan Washington dan Teheran menunjukkan betapa tidak terduganya arah konflik saat ini. Di satu sisi, sinyal negosiasi sempat menenangkan pasar. Namun di sisi lain, bantahan Iran dan berlanjutnya serangan militer menegaskan bahwa risiko eskalasi tetap tinggi.
Dengan Selat Hormuz sebagai titik krusial dan energi sebagai kepentingan utama, konflik ini tidak hanya menjadi perang regional, tetapi juga ujian besar bagi stabilitas ekonomi global.

