Saham Berjangka AS Melemah, Ultimatum Trump ke Iran Picu Ketidakpastian Baru
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham Amerika Serikat masih berada di bawah tekanan setelah empat pekan berturut-turut mengalami penurunan. Kontrak berjangka (futures) bergerak nyaris datar dan cenderung melemah pada Minggu (22/3/2026) malam di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Futures untuk indeks Dow Jones Industrial Average bergerak stagnan. Sementara itu, futures S&P 500 turun 0,1% dan Nasdaq-100 melemah 0,2%.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Terseret Eskalasi Konflik Timur Tengah, Dow Anjlok Lebih 400 Poin
Sentimen pasar tertahan oleh ultimatum terbaru Presiden AS Donald Trump kepada Iran. AS mengancam akan menyerang pembangkit listrik jika Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi global—tidak segera dibuka kembali.
Iran merespons dengan ancaman balasan, menyatakan akan menargetkan infrastruktur yang terkait dengan AS, termasuk fasilitas energi dan instalasi desalinasi di kawasan Teluk, jika Washington melancarkan serangan.
Baca Juga
Iran Ancam Hancurkan Secara Permanen Infrastruktur Energi Regional
Di pasar energi, harga minyak kembali menguat pada awal perdagangan Minggu. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,5% ke US$98,73 per barel, sementara Brent juga menguat 0,5% ke US$112,76 per barel.
Ben Emons, CIO dan pendiri Fed Watch Advisors, menilai Iran tidak menunjukkan tanda-tanda mundur. Ia memperingatkan bahwa sentimen “risk-off” berpotensi memburuk dalam pekan ini, terutama dengan rilis data ekonomi global yang krusial.
“Penyesuaian risiko portofolio kemungkinan akan berlanjut, menjadikan investor kembali beralih menempatkan aset pada ‘cash’,” ujarnya, seperti dikutip CNBC
.
Pelaku pasar kini menanti rilis data S&P Global Flash U.S. PMI pada Selasa, yang diperkirakan akan memberikan gambaran awal dampak konflik terhadap aktivitas ekonomi.
Tekanan teknikal juga mulai terlihat. Indeks S&P 500 pada pekan lalu menembus ke bawah rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya sejak Mei—indikator penting yang sering dianggap sebagai sinyal pelemahan tren jangka panjang.
Sepanjang pekan lalu, indeks Dow dan Nasdaq masing-masing turun sekitar 2%, sementara S&P 500 melemah 1,5%. Bagi Dow, ini menjadi penurunan empat minggu berturut-turut pertama sejak 2023.

