Serangan AS ke Iran Makin Gencar, Trump Minta “Penyerahan Tanpa Syarat”
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id - Presiden Donald Trump mengatakan dalam sebuah unggahan media sosial pada Jumat (6/3/2026) bahwa tidak akan ada kesepakatan untuk mengakhiri perang Amerika Serikat melawan Iran sebelum ada “penyerahan tanpa syarat” dari Iran.
Baca Juga
Enam Tentara AS Tewas, Trump Perkirakan Perang Iran Bisa Berlangsung Lebih Lama
Indeks saham di Wall Street anjlok setelah tuntutan Trump. Sedangkan, harga kontrak berjangka minyak naik.
Trump mengatakan bahwa setelah penyerahan tersebut dan “pemilihan pemimpin yang hebat & dapat diterima, pihaknya bersama banyak sekutu dan para mitra, akan bekerja tanpa lelah untuk membawa Iran kembali dari ambang kehancuran, menjadikannya secara ekonomi lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat dari sebelumnya.
“Iran akan memiliki masa depan yang besar. ‘Make Iran Great Again (MIGA!)’,” tulis Trump, seperti dikutip CNBC. Ia kembali menggemakan nama gerakan politiknya “Make America Great Again.”
Tuntutan Trump muncul ketika Iran belum memilih pemimpin baru untuk menggantikan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas akhir pekan lalu dalam serangan udara pada awal perang oleh Amerika Serikat dan Israel.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, ketika ditanya wartawan mengenai calon pemimpin Iran di masa depan, mengatakan, “Saya tahu ada sejumlah orang yang sedang dipertimbangkan oleh badan intelijen kami dan pemerintah Amerika Serikat, tetapi saya tidak akan menjelaskan lebih jauh.”
Trump pada Juni lalu juga mengajukan tuntutan identik berupa “penyerahan tanpa syarat” kepada Iran dalam unggahan media sosial lain ketika ia mempertimbangkan meluncurkan serangan militer terhadap negara tersebut.
Harga kontrak berjangka minyak global Brent crude naik dan menembus US$90 per barel setelah Trump memposting tuntutan terbaru agar Iran menyerah tanpa syarat.
Baca Juga
Iran Tutup Selat Hormuz di Tengah Meningkatnya Ketegangan di Timur Tengah, Harga Minyak Meroket
Menteri Energi Qatar, Saad al-Kaabi, memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak akibat perang melawan Iran “dapat menjatuhkan ekonomi dunia.”
Al-Kaabi mengatakan kepada Financial Times bahwa harga minyak mentah bisa mencapai US$150 per barel dalam beberapa minggu jika kapal tanker tidak dapat melewati Selat Hormuz. Terakhir kali harga minyak melampaui US$100 per barel terjadi ketika Rusia menginvasi Ukraina pada 2022.

