IMF Peringatkan Risiko Fiskal Jepang, Ini Alasannya
Poin Penting
|
TOKYO, investortrust.id - Dana Moneter Internasional (IMF) mendesak Jepang untuk terus menaikkan suku bunga dan menghindari pelonggaran fiskal lebih lanjut. Lembaga keuangan itu memperingatkan bahwa pemangkasan pajak konsumsi akan mengikis kapasitas negara tersebut dalam merespons guncangan ekonomi di masa depan.
Baca Juga
Rekomendasi ini muncul setelah kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang dikenal dovish, memicu perhatian pasar apakah ia akan menolak kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral. Takaichi juga berjanji menangguhkan pajak konsumsi 8% atas penjualan makanan selama dua tahun.
IMF menyatakan bahwa “independensi dan kredibilitas berkelanjutan” Bank of Japan akan membantu menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali, dan memperingatkan pemerintah agar tidak terlalu mencampuri kebijakan moneter.
“BoJ secara tepat menarik akomodasi moneter, dan kenaikan bertahap harus terus dilakukan untuk membawa suku bunga kebijakan menuju level netral,” beber IMF dalam rekomendasi awal kebijakannya, dikutip dari CNBC, Rabu (18/2/2026).
BoJ mengakhiri program stimulus besar-besaran pada 2024 dan telah beberapa kali menaikkan suku bunga, termasuk pada Desember lalu ketika suku bunga kebijakan dinaikkan ke level tertinggi dalam 30 tahun sebesar 0,75%.
Baca Juga
Dengan inflasi melampaui target 2% selama hampir empat tahun, BoJ memberi sinyal kesiapan untuk terus menaikkan suku bunga.
IMF menyatakan Jepang harus menghindari pemotongan pajak konsumsi karena akan “mengikis ruang fiskal dan menambah risiko fiskal.” Jepang memerlukan disiplin fiskal untuk menjaga stabilitas pasar obligasi.
Utang yang tinggi dan defisit fiskal yang memburuk membuat ekonomi Jepang rentan terhadap berbagai guncangan. IMF memperingatkan pembayaran bunga diproyeksikan meningkat dua kali lipat dari 2025 hingga 2031 seiring pembiayaan ulang utang pada imbal hasil lebih tinggi.
Sekitar seperempat belanja Jepang dibiayai oleh utang, dan hampir separuhnya dimiliki BoJ setelah bertahun-tahun pencetakan uang besar-besaran.
IMF juga menyambut komitmen otoritas terhadap rezim nilai tukar fleksibel, dengan menyatakan fleksibilitas yen membantu menyerap guncangan eksternal dan mendukung stabilitas harga.

