Manfaatkan Momentum Imlek, Brand Mewah Global Incar Konsumen China
Poin Penting
|
BEIJING, investortrust.id - Di etalase butik mewah Beijing dan Shanghai, warna merah dan emas kembali mendominasi. Namun di balik gemerlap jelang perayaan Imlek di Tahun Kuda Api, tersimpan pertaruhan besar: mampukah merek-merek Barat merebut kembali hati—dan dompet—konsumen China yang kini jauh lebih selektif, nasionalis, dan sadar geopolitik?
Baca Juga
Pemerintah Luncurkan Logo Kuda Api Imlek Festival 2026, Kaya Makna Budaya Indonesia
Dari Harry Winston hingga Loewe, rumah mode global berlomba meluncurkan koleksi khusus Imlek. Harry Winston memperkenalkan jam tangan edisi terbatas berbahan emas mawar seharga US$81.500 dengan bezel berlian dan kuda berlapis lak merah. Chloé merilis koleksi kapsul mulai dari syal sutra hingga tas kulit ular dengan detail kepala dan ekor kuda. Gucci dan Loro Piana menghadirkan gantungan tas bermotif kuda.
Momentum ini bukan sekadar perayaan budaya. Ia datang di saat ekonomi China masih bergulat dengan perlambatan pertumbuhan, tekanan di sektor properti, dan sentimen konsumen yang belum sepenuhnya pulih. Pasar mewah China diperkirakan bernilai sekitar 350 miliar RMB pada 2024. Meski sempat terkontraksi, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat seiring penguatan pasar saham dan meningkatnya kepercayaan konsumen kelas atas. Namun lanskapnya telah berubah drastis.
Lebih Selektif
Sebelum pandemi, konsumen China menyumbang sekitar sepertiga pasar barang mewah global. Kini porsinya menyusut menjadi sekitar 23%. Jika dulu wisatawan China memborong tas dan jam tangan di Paris atau Milan, pembatasan perjalanan selama pandemi menggeser belanja kembali ke dalam negeri—dan kebiasaan itu tak sepenuhnya berbalik.
Perubahan ini terjadi bersamaan dengan memburuknya hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China yang masih dibayangi tarif impor, pembatasan teknologi, serta ketegangan geopolitik yang meluas hingga isu Taiwan dan perang dagang teknologi. Sentimen nasionalisme ekonomi pun menguat. Dukungan terhadap merek domestik premium tumbuh, dari fesyen hingga otomotif dan teknologi.
Dalam kaitan itu, konsumsi barang mewah bukan lagi sekadar simbol status global, tetapi juga pernyataan identitas. Konsumen kelas atas China—yang telah berkeliling dunia, makan di restoran terbaik, dan berbelanja di butik paling eksklusif—menjadi jauh lebih kritis. Mereka tidak lagi terpesona hanya karena label “Made in Europe”.
“Interpretasi Imlek yang sekadar formalitas tidak akan berdampak besar,” ujar analis Bernstein Luca Solca, dilkutip dari CNBC, Minggu (15/2/2026).. Bagi generasi muda urban, penghormatan terhadap tradisi harus terasa autentik, bukan tempelan musiman demi penjualan.
Budaya yang Dihormati
Imlek identik dengan merah dan emas—simbol keberuntungan dan kemakmuran. Setiap tahun diwakili satu dari 12 zodiak China. Namun, di tengah modernisasi pesat dan lonjakan kesejahteraan kelas atas, hubungan masyarakat China dengan tradisi juga mengalami transformasi.
Generasi muda tetap menghormati budaya leluhur, tetapi menginginkan interpretasi yang lebih kontemporer. Mereka tumbuh di era digital, terbuka pada dunia, namun juga percaya diri dengan identitas nasionalnya. Di sinilah tantangan bagi brand Barat: bagaimana merangkai narasi yang menghubungkan warisan China dengan visi global modern?
Pendekatan yang terlalu literal—sekadar menempelkan simbol kuda pada tas atau jam—berisiko dianggap malas, bahkan tidak sensitif. Sebaliknya, pengalaman imersif dan kolaborasi budaya dinilai lebih efektif. Valentino, misalnya, menggelar festival lentera tiga hari di Tianhou Palace, Shanghai. Burberry meluncurkan kampanye besar dengan duta merek China, butik pop-up, hingga arena seluncur es di Beijing.
Strategi ini mencerminkan pergeseran dari sekadar menjual produk menjadi membangun pengalaman dan kedekatan emosional.
Imlek di Tengah Geopolitik
Bagi merek Barat, Imlek kini bukan hanya momentum komersial, tetapi juga diplomasi budaya. Di tengah hubungan China–Barat yang diwarnai isu tarif, pembatasan investasi, dan fragmentasi rantai pasok global, setiap langkah korporasi asing di pasar China memiliki dimensi simbolik.
Baca Juga
Melambat Kuartal IV, tapi Pertumbuhan Ekonomi China 2025 Capai Target 5%
Kesalahan kecil dalam promosi dapat memicu boikot daring. Sebaliknya, penghormatan yang tulus dapat memperkuat loyalitas jangka panjang. Di era ketika politik dan konsumsi saling bertaut, strategi pemasaran menjadi semakin sensitif.
Tahun Kuda mungkin membawa optimisme hati-hati bagi industri produk mewah. Namun lebih dari itu, ia menjadi cermin bagaimana China telah berubah: dari pasar dengan permintaan terpendam menjadi pasar dengan tingkat kecanggihan tertinggi, dari konsumen yang mengagumi Barat menjadi konsumen yang menuntut respek setara.
Gemerlap emas dan merah boleh saja memikat mata. Tetapi bagi brand global, yang benar-benar dipertaruhkan adalah pemahaman mendalam atas jiwa pasar China—di tengah ekonomi yang bertransisi, geopolitik yang memanas, dan masyarakat yang semakin percaya diri pada budayanya sendiri.

