Yield USTreasury Anjlok Setelah Data Penjualan Ritel AS Meleset dari Ekspektasi
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah AS (USTreasury) turun pada Selasa (10/2/2026) setelah laporan terbaru penjualan ritel gagal memenuhi ekspektasi pasar.
Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun, yang menjadi acuan, turun lebih dari 5 basis poin menjadi 4,141%, demikian pula imbal hasil tenor 30 tahun yang melemah ke 4,781%. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 2 tahun turun lebih dari 3 basis poin menjadi 3,452%.
Baca Juga
Penurunan imbal hasil terjadi setelah data penjualan ritel Desember tercatat stagnan secara bulanan, jauh di bawah perkiraan Dow Jones yang memperkirakan kenaikan 0,4%. Penjualan liburan yang lemah ini mengikuti kenaikan 0,6% pada November, berdasarkan data yang disesuaikan musiman namun belum memperhitungkan inflasi.
“Bahkan dengan pasar saham yang menguat, konsumen terus menunjukkan kurangnya kepercayaan diri. Ruang kesalahan ekonomi kini sangat tipis dan data hari ini membuktikan bahwa masyarakat tidak hanya khawatir terhadap kondisi keuangan pribadi mereka, tetapi kemungkinan juga sudah terlalu terbebani oleh utang,” urai Todd Schoenberger, kepala investasi CrossCheck Management, seperti dilansir CNBC.
Pasar kini menantikan serangkaian data ekonomi lain yang tertunda akibat penutupan sebagian pemerintah AS. Salah satu rilis utama adalah laporan nonfarm payrolls Januari, yang kini dijadwalkan pada Rabu setelah sebelumnya ditunda dari Jumat lalu.
Baca Juga
Inflasi AS Desember Melandai, Trump Kembali Desak Pemangkasan Suku Bunga
Perhatian juga akan tertuju pada data inflasi konsumen Januari yang akan dirilis Jumat. Perkiraan menunjukkan inflasi tahunan akan sedikit melandai menjadi 2,5%, berdasarkan survei yang sama.
Selain itu, data klaim awal tunjangan pengangguran mingguan akan dirilis pada Kamis.
Sementara itu, investor juga terus memantau perkembangan di China setelah Bloomberg News melaporkan bahwa otoritas setempat mendorong bank-bank untuk mengurangi eksposur terhadap obligasi Treasury AS, menyusul kekhawatiran atas risiko konsentrasi dan volatilitas.

