Trump Bantah Berdialog dengan Putin Sebelum Tangkap Maduro
Poin Penting
|
FLORIDA, Investortrust.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah telah berdialog dengan Presiden Rusia Vladimir Putin tentang rencana penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro ketika ia berkomunikasi via telepon dengan Putin pada Senin 29 Desember 2025 lalu.
Sebagaimana diberitakan, Trump berkomunikasi dengan Putin usai menggelar pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, di Negara Bagian Florida, AS bagian selatan, pada Minggu (28/12/2025) untuk membahas proposal 20 poin guna mengakhiri invasi Rusia.
"Tidak, kami tidak pernah bicara soal penangkapan Maduro," ujar Trump menjawab pertanyaan seorang jurnalis saat konferensi pers terkait penangkapan maduro, yang digelar di Mar-a-Lago club in Palm Beach, Florida, Sabtu (3/1/2026) waktu setempat atau Minggu (4/1/2026) WIB.
"Saya tidak terkesan dengan Putin, dia telah membunuh banyak orang," ujar Trump.
Baca Juga
Trump Sebut Narkoba dan Minyak Jadi Alasan AS Serang Venezuela
Sekadar informasi, Rusia telah lama mendukung Venezuela di arena internasional, terutama di PBB dan forum-forum internasional lainnya. Rusia menentang sanksi-sanksi yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, terhadap Venezuela dan rezim Maduro. Selain itu, Rusia juga mendukung Maduro dalam menghadapi oposisi domestik, termasuk ketegangan politik internal yang terus berlangsung di Venezuela.
Melanjutkan jawabannya, Trump justru menyampaikan bahwa ia telah berusaha menyelesaikan konflik yang terjadi antara Thailand dan Kamboja, dan baginya ia harus ikut berperan dalam mengakhiri setiap peperangan dan pertumpahan darah yang terjadi di belahan dunia lainnya. Pernyataannya seperti menyentil Putin yang justru melakukan agresi atas Ukraina, dan mengakibatkan pertumpahan darah di Ukraina.
Sebelumnya dalam kesempatan yang sama Trump menyampaikan sejumlah alasan mengapa AS harus melakukan serangan terbatas pada Venezuela dan menangkap presidennya, Nicolas Maduro. Trump menyatakan operasi militer AS terhadap Venezuela didorong oleh dua faktor utama, yakni peredaran narkoba dan penguasaan sumber daya minyak. Trump menuding pemerintahan Presiden Venezuela Nicolás Maduro sebagai biang narkoterorisme yang mengancam keamanan AS.
Selain itu Trump juga menyampaikan bahwa sektor energi Venezuela telah hancur akibat salah kelola rezim Maduro. Untuk itu ia akan melibatkan perusahaan minyak besar untuk memulihkan industri energi Venezuela.
“Kami akan membawa perusahaan minyak besar Amerika untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak dan mulai menghasilkan uang bagi negara itu,” katanya.

