AI Journey 2025 Tekankan Pentingnya Etika dan Kolaborasi Global dalam Ekosistem AI
Poin Penting
|
MOSKOW, Investortrust.id - Konferensi AI Journey 2025 kembali digelar di Moskow dan menjadi ajang pertemuan para pemimpin teknologi, peneliti, serta pelaku industri dari berbagai negara untuk membahas perkembangan terbaru kecerdasan buatan (AI) dan dampaknya terhadap masyarakat global. Pada diskusi pleno bertajuk “Future with AI”, Presiden Rusia Vladimir Putin tampil sebagai pembicara utama dengan CEO sekaligus Ketua Dewan Eksekutif Sberbank, Herman Gref, sebagai moderator.
Dalam pemaparannya yang dikutip Senin (24/11/2025), Presiden Putin menekankan bahwa AI telah mengalami lompatan besar dalam beberapa tahun terakhir dengan kemampuan mengambil keputusan secara otonom. Ia menyebut AI sebagai elemen strategis yang tengah diperebutkan negara-negara maju melalui pengembangan model fundamental.
Menurutnya, AI menjadi bagian dari upaya inovasi teknologi terbesar dalam sejarah, termasuk bagi negara-negara seperti Indonesia yang kini mempercepat pemanfaatan AI di berbagai sektor.
Putin juga menyoroti pentingnya memperkuat infrastruktur pengembangan AI, seperti pusat data dan komponen elektronik, serta penerapan regulasi dan standar etika untuk memastikan kedaulatan teknologi. Ia menegaskan bahwa kolaborasi internasional, baik melalui kerja sama bilateral maupun organisasi antarpemerintah, menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem AI yang aman dan berkelanjutan.
Pada kesempatan itu, ia mengapresiasi Sberbank dan AI Alliance yang berhasil menyatukan pemerintah, dunia usaha, dan akademisi dalam mendorong kemajuan teknologi.
CEO Sber Herman Gref dalam sambutannya menyampaikan bahwa AI telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, sains, pendidikan, ekonomi, hingga industri. Tantangan terbesar saat ini, menurutnya, adalah membantu masyarakat beradaptasi dengan perubahan cepat yang dihadirkan teknologi tersebut.
Baca Juga
AI Class ASEAN Buka Jalan 5,5 Juta Pelajar Kuasai Kecerdasan Buatan
Sejumlah ahli dari berbagai negara juga hadir dalam diskusi tersebut. Evgeny Burnaev, Kepala AI Center Skoltech, menjelaskan bahwa AI akan membawa industri bergerak dari otomatisasi menuju proses yang sepenuhnya otonom. Ia memperkirakan sistem AI akan saling berinteraksi dalam mengelola sektor manufaktur, logistik, energi, hingga layanan publik, yang akan memunculkan profesi baru di bidang desain program yang berfokus pada keamanan dan verifikasi sistem.
Rektor Sai University India, Dr. Ajith Abraham, memaparkan hasil studi International AI Alliance yang menunjukkan bahwa AI generatif mampu mempercepat riset ilmiah secara signifikan. Proses yang sebelumnya memakan waktu berbulan-bulan kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan hari atau minggu.
Chen Qiufan, penulis fiksi ilmiah “AI-2041: Ten Visions for Our Future”, menggambarkan masa depan di mana setiap orang memiliki dokter AI di ponsel untuk deteksi dini penyakit, serta multiagen AI yang berfungsi sebagai tutor, manajer keuangan, instruktur yoga, hingga psikolog. Menurutnya, perkembangan tersebut akan mengubah kehidupan manusia secara fundamental.
Gref juga menegaskan bahwa Rusia termasuk dalam tujuh negara yang memiliki rangkaian lengkap teknologi AI paling maju. Perhatian besar dari pemerintah dinilai membantu menjaga momentum dan mendorong minat mahasiswa, peneliti, serta pelaku usaha terhadap teknologi ini. Pengalaman tersebut disebut dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia dalam memperkuat tata kelola dan implementasi AI.
Ia menekankan bahwa dunia tengah memasuki era baru yang berlangsung jauh lebih cepat dari Revolusi Industri, sehingga diperlukan upaya bersama untuk memastikan masyarakat dapat bertransisi tanpa guncangan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota International AI Alliance atas komitmen mereka dalam mengembangkan teknologi kunci abad ini.
AI Journey 2025 turut menandai bertambahnya jumlah anggota International AI Alliance. Dari sebelumnya 17 asosiasi di 14 negara, kini bergabung 11 asosiasi dan institusi dari Brasil, Chile, Kongo, Mesir, India, Kenya, Oman, Afrika Selatan, Tanzania, Turki, dan Vietnam. Penambahan ini menunjukkan meningkatnya kesadaran global bahwa kolaborasi lintas negara menjadi kunci untuk memastikan perkembangan AI yang aman, etis, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

