Siapa Sabotase Pipa Gas Nord Stream, Masih Jadi Misteri
JAKARTA, Investortrust.id - Pada tanggal 26 September 2022, sejumlah ledakan merusak pipa-pipa Nord Stream sehingga memutus jalur utama ekspor gas Rusia ke Eropa, dan memperburuk ketegangan geopolitik yang sudah meningkat akibat invasi Rusia ke Ukraina.
Sedikit informasi, Nord Stream adalah sistem pipanisasi distribusi gas alam yang menghubungkan Rusia dengan Eropa, khususnya dengan negara-negara di sebelah barat Eropa. Proyek ini terdiri atas dua jalur pipa utama yang melintas di dasar Laut Baltik, dan mengirimkan gas alam dari wilayah produsen gas di Rusia ke pasar Eropa. Pipa Nord Stream dirancang untuk mengangkut gas alam dalam jumlah besar, dan telah menjadi sumber gas penting bagi beberapa negara Eropa.
Proyek Nord Stream telah menjadi subjek kontroversi dan ketegangan geopolitik, terutama terkait ketergantungan Eropa pada pasokan gas alam dari Rusia. Beberapa negara Eropa mendukung proyek ini sebagai cara untuk mendiversifikasi pasokan gas mereka, sementara yang lain khawatir bahwa proyek ini dapat meningkatkan ketergantungan Eropa pada Rusia dalam hal energi.
Nah, setahun berlalu setelah terjadinya ledakan di pipa Nord Stream, meskipun telah dilakukan penyelidikan di tiga negara, pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab atas tindakan sabotase yang berani ini tetap belum terjawab.
Rusia, Ukraina dan AS Jadi Tertuduh
Dengan minimnya bukti yang kuat, muncul berbagai teori yang menuding Ukraina, Rusia, atau Amerika Serikat sebagai pelaku sabotase. Namun ketiga pihak telah membantah keterlibatan mereka.
Mundur sedikit pada September 2022 lalu, pada akhir September yang lalu, serangkaian ledakan di bawah air merusak tiga dari empat pipa yang membentuk Nord Stream 1 dan Nord Stream 2, menyebabkan gas bocor ke Laut Baltik. Perusahaan energi Rusia, Gazprom sebelumnya memang telah menghentikan aliran gas melalui Nord Stream 1 pada Agustus, yang merupakan saluran utama bagi gas alam Rusia ke Jerman menyusul perselisihan kedua negara terkait perang di Ukraina.
Sementara itu pipa kembar Nord Stream 2 yang baru selesai dibangun tidak pernah beroperasi karena Berlin membatalkan proyek tersebut beberapa hari sebelum pasukan Rusia memasuki Ukraina pada tanggal 24 Februari 2022. Nord Stream 2 senilai US$10,6 miliar telah lama menjadi kontroversi dan ditentang oleh Ukraina, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa Timur karena khawatir hal itu akan memberikan terlalu banyak pengaruh Rusia terhadap keamanan energi Jerman.
Karena kebocoran terjadi di zona ekonomi eksklusifnya, maka Denmark dan Swedia membuka penyelidikan terhadap dugaan serangan tersebut, demikian pula dengan Jerman. Ketiga negara tersebut menjaga kerahasiaan penyelidikan mereka dengan ketat, yang menurut para analis bukan hal yang mengherankan mengingat besarnya potensi dampak diplomatik dari temuan yang mereka dapatkan.
Jaksa publik Swedia, Mats Ljungqvist, mengatakan bahwa "asumsi utama adalah bahwasuatu negara berada di balikledakan tersebut." Swedia saat ini "berada dalam tahap akhir penyelidikan," katanya kepada AFP pekan ini, demikian dilansir Channelnewasasia.com, Sabtu (23/9/2023).
Penyelidikan Tak Buahkan Hasil
Jaksa Federal Jerman diberitakan telah melakukan penyelidikan pada sebuah yacht yang berlayar pada bulan Januari, yang diduga digunakan untuk mengangkut bahan peledak. Mereka menyita barang-barang dari kapal tersebut dan menemukan jejak bahan peledak.
Sayangnya mereka menolak berkomentar terkait spekulasi media bahwa sebuah tim terdiri dari lima pria dan satu wanita yang menyewa yacht layar "Andromeda" dari pelabuhan Rostock telah melaksanakan operasi sabotase tersebut.
"Identitas pelaku dan motif mereka" tetap menjadi subjek penyelidikan yang sedang berlangsung, demikian kantor jaksa federal mengatakan kepada AFP.
Sejumlah jurnalis media pun ikut melakukan investigasi, dan mencoba melakukan penelitian untuk mencari tahu siapa pelaku di balik insiden Nord Stream. Sayangnya sejumlah hasil laporan mereka kadang lebih bernuansa sensasional, meskipun belum terkonfirmasi.
Menurut siaran NOS dari Belanda dan surat kabar Jerman Die Zeit dan ARD pada bulan Juni, intelijen militer Belanda telah memberi peringatan kepada CIA tentang rencana Ukraina untuk meledakkan pipa-pipa tersebut tiga bulan sebelum serangan terjadi. The Washington Post pun mengeluarkan laporan serupa.
Di lain pihak Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, telah berulang kali membantah negaranya terlibat dalam sabotase tersebut. "Saya tidak akan pernah melakukan itu," katanya kepada surat kabar Jerman Bild pada bulan Juni, dan menambahkan bahwa ia "ingin melihat bukti".
The New York Times menulis pada bulan Maret bahwa pejabat AS telah melihat intelijen menunjukkan bahwa sebuah "kelompok pro-Ukraina" bertanggung jawab, tanpa pengetahuan Zelenskyy.
Sementara itu sejumlah media di Jerman memusatkan perhatian mereka pada yacht "Andromeda,". Media seperti majalah Der Spiegel dan radio ZDF mencoba merekonstruksi perjalanan yang oleh awak berjumlah enam orang.
Menurut laporan mereka, sebuah paspor palsu yang digunakan untuk menyewa kapal layar tersebut dapat ditelusuri kembali ke seorang prajurit Ukraina, sedangkan biaya penyewaan dibayarkan oleh sebuah perusahaan yang terdaftar di Polandia, ternyata terkait dengan seorang wanita di Kyiv.
Namun, media Denmark melaporkan bahwa sebuah kapal perang Rusia yang mengkhususkan diri dalam operasi kapal selam, yaitu SS-750, telah terekam dalam gambar berada di dekat lokasi ledakan beberapa hari sebelum serangan terjadi.
Pernyataan dan laporan yang sangat mengemuka muncul dari jurnalis investigasi Amerika Serikat, Seymour Hersh, yang pada bulan Februari lalu menyebutkan bahwa AS berada di balik serangan tersebut, dan bahwa Norwegia membantu Langkah sabotase oleh Amerika Serikat. Namun laporan Hersh ditolak Gedung Putih yang menyebutnya sebagai "fiksi".
Operasi "False Flag"
Di sisi lain para ahli juga tidak mengesampingkan potensi adanya operasi "false flag" yang dilakukan oleh Rusia, dengan petunjuk sengaja ditempatkan untuk menyalahkan Ukraina.
Operasi "false flag" adalah tindakan atau serangan yang dilakukan oleh satu pihak atau entitas dengan maksud untuk membuatnya terlihat seperti tindakan atau serangan yang dilakukan oleh pihak lain. Tujuan utama dari operasi semacam ini adalah untuk menyesatkan, menipu, atau mengelabui pihak lain, baik itu negara, organisasi, atau individu tertentu. Istilah "false flag" berasal dari praktik maritim di mana kapal perang menggunakan bendera negara lain untuk mengecoh musuh.
Seperti dikemukakan Andreas Umland, seorang analis di Stockholm Centre for Eastern European Studies, ia memandang Rusia amat berpotensi sebagai pelaku peledakan.
Keterlibatan yang dicurigai oleh Kyiv dalam serangan terhadap infrastruktur energi Eropa dapat mengancam dukungan dari sekutu, tentu akan menguntungkan Rusia.
Pada saat yang sama, pipa-pipa yang hancur dapat membantu Gazprom menghindari tuntutan ganti rugi atas gas yang tidak terkirim, meskipun perusahaan itu menunjukkan ketidaksetujuan untuk tetap membuka keran sebelum ledakan terjadi.
Menurut Umland, Moskow mungkin telah mencoba "membunuh dua burung dengan satu batu." Kremlin sendiri secara tegas membantah keterlibatan mereka.
Mungkin dibutuhkan waktu untuk mengetahui siapa dalang di belakang peledakan Nord Stream, hingga sejumlah negara yang melakukan penyelidikan benar-benar yakin bahwa petunjuk dari bukti-bukti hanya mengarah pada satu pihak saja. Atau bisa saja kasus ini akan tenggelam sedalam posisi Nord Stream di dasar Laut Baltik, karena besarnya potensi dan dampak diplomatik dari hasil temuan yang mereka dapatkan.

