AS-Rusia Diam-diam Bikin Kesepakatan Damai, Ukraina Makin Terpojok?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ukraina bisa menghadapi pilihan sulit setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Rusia diam-diam menyusun rencana damai untuk mengakhiri perang, termasuk kemungkinan konsesi besar kepada Moskow.
Baca Juga
Putin: Pembicaraan Damai dengan Ukraina BIsa Terjadi Asal Tidak dengan Zelensky
Pejabat senior militer AS berada di Ukraina pada Kamis (20/11/2025) dalam “misi pencarian fakta untuk bertemu pejabat Ukraina dan membahas upaya mengakhiri perang” dengan Rusia, menurut juru bicara Angkatan Darat AS.
Kunjungan ini dilakukan sehari setelah laporan media menyebut Washington dan Moskow telah melakukan pembicaraan rahasia dan merumuskan rencana damai 28 poin tanpa melibatkan Kyiv.
Rencana tersebut — pertama kali dilaporkan oleh Axios, lalu oleh Financial Times dan Reuters — kabarnya mencakup usulan agar Ukraina menyerahkan wilayah di Donbas kepada Rusia, menghentikan penggunaan kategori senjata tertentu, dan memangkas kekuatan militernya hingga 50%.
Salah satu laporan di The Telegraph menyebut Rusia dapat menguasai Donbas sementara Ukraina tetap menjadi pemilik legal, dengan Moskow membayar “sewa” atas wilayah tersebut. CNBC tidak dapat mengonfirmasi informasi tersebut.
Seorang pejabat senior Ukraina mengatakan kepada Reuters bahwa Kyiv telah menerima “sinyal” mengenai usulan AS, meski Ukraina tidak terlibat dalam penyusunannya.
Kremlin pada Rabu membantah adanya “terobosan baru” dalam proposal damai sejak pertemuan Presiden Vladimir Putin dan Presiden Donald Trump pada Agustus. Juru bicara Dmitry Peskov menolak mengomentari laporan Axios secara spesifik.
Gedung Putih juga tidak mengonfirmasi secara eksplisit keberadaan rencana 28 poin tersebut, namun Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memastikan ada proposal baru yang sedang digodok.
“Untuk mengakhiri perang kompleks dan mematikan seperti ini dibutuhkan pertukaran gagasan yang serius dan realistis,” tulis Rubio di X, seperti dikutip CNBC. Ia menambahkan bahwa perdamaian permanen membutuhkan “konsesi sulit dari kedua pihak.”
Ukraina sendiri belum berkomentar secara terbuka, namun isu rencana damai diperkirakan menjadi bagian pembahasan antara Presiden Volodymyr Zelenskyy dan delegasi AS pada Kamis.
Baca Juga
Trump Sebut Pertemuan Putin–Zelenskyy Sedang Diatur, Kyiv Siap Tanpa Syarat
Zelenskyy sebelumnya mengatakan bahwa hanya Presiden Trump dan AS yang “memiliki kekuatan cukup untuk mengakhiri perang ini.” Ia menegaskan Ukraina mendukung setiap upaya dan “proposal kuat yang adil” untuk mengakhiri perang.
Wakil Menteri Luar Negeri Ukraina Serhii Kyslytsia menanggapi laporan tersebut dengan menyebut Rusia sedang mendorong “pabrik proposal tidak realistis.”
Apakah Ukraina akan menerima konsesi sebesar itu masih sangat diragukan, namun Kyiv berada dalam posisi rentan mengingat ketergantungannya pada bantuan militer AS. Dukungan Eropa tetap kuat tetapi realisasinya lebih lambat dibanding masa awal perang.
Diplomat Eropa pun tampak kecewa terhadap rencana damai yang tidak melibatkan Ukraina atau kawasan. Kepala kebijakan luar negeri UE Kaja Kallas mengatakan, “Agar rencana apa pun berhasil, harus didukung Ukraina dan Eropa.”
Institute for the Study of War (ISW) menyebut rencana tersebut — jika benar — setara dengan “kapitulasi penuh Ukraina” serta membuka jalan bagi agresi Rusia di masa mendatang. Mereka menilai rencana itu pada dasarnya sama dengan tuntutan maksimal Rusia pada awal 2022 di Istanbul.

