Dow Melonjak di Atas 200 Poin, Wall Street Catat Pekan Positif di Tengah Kisruh ‘Shutdown’
Poin Penting
- S&P 500 dan Dow naik 1,1% pekan ini, Nasdaq +1,3%, Russell +2%.
- Penutupan pemerintah AS hari ketiga belum hentikan optimisme pasar.
- Saham teknologi terpukul, Palantir anjlok 7,5%.
- Investor bertaruh Fed pangkas suku bunga lagi akhir Oktober.
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS sebagian besar menguat pada Jumat waktu AS atau Sabtu (04/10/2025) WIB. Indeks S&P 500 naik tipis 0,01% di 6.715,79, Dow Jones Industrial Average melonjak 238,56 poin atau 0,51% menjadi 46.758,28. Russell 2000 juga naik 0,72% menjadi 2.476,18. Sementara itu, Nasdaq Composite turun 0,28% ke 22.780,51. Keempat indeks sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di sesi sebelumnya.
Baca Juga
Tak Terpengaruh ‘Shutdown’ Pemerintah AS, Wall Street Terbang Tembus Rekor Baru
Saham-saham sempat turun akibat penurunan saham teknologi utama seperti Palantir Technologies, Tesla, dan Nvidia. Palantir memimpin penurunan S&P 500, anjlok 7,5%, sementara Tesla dan Nvidia masing-masing turun lebih dari 1% dan hampir 1%.
Indeks Volatilitas CBOE melonjak, menandakan beberapa investor berebut membeli perlindungan terhadap potensi penurunan S&P 500 lewat kontrak opsi jual.
Namun, tiga indeks utama tetap mencatat akhir pekan positif. S&P 500 naik sekitar 1,1% dalam sepekan, sama seperti Dow, sementara Nasdaq yang sarat teknologi meningkat 1,3%. Russell yang berisi saham berkapitalisasi kecil melonjak hampir 2% dalam periode tersebut.
Investor mengabaikan kekhawatiran seputar penutupan pemerintah yang memasuki hari ketiga Jumat ini. Meskipun penghentian itu memperburuk kekhawatiran mendasar tahun ini mengenai hambatan makroekonomi dan kebijakan, risiko inflasi, serta pasar tenaga kerja yang melambat, investor memperkirakan akan berlangsung singkat, sehingga membatasi potensi pukulan terhadap ekonomi AS. Pelaku Wall Street juga percaya bahwa penutupan ini tidak akan menghentikan momentum perdagangan berbasis kecerdasan buatan. Penutupan sebelumnya juga tidak menjadi penggerak pasar.
Penutupan ini menyebabkan blackout data ekonomi, dan jeda hampir semua aktivitas Departemen Tenaga Kerja, yang memblokir rilis laporan ketenagakerjaan non-pertanian September pada Jumat. Meski itu menghilangkan faktor yang dapat menekan saham, hal ini mengurangi jumlah data ekonomi yang bisa dipertimbangkan Fed untuk keputusan suku bunga pada pertemuan Oktober. Pasar sebagian besar memperkirakan bank sentral akan memangkas suku bunga acuannya sebesar seperempat poin persentase, menurut CME FedWatch.
Baca Juga
Kepercayaan Konsumen AS Merosot, ‘Shutdown’ Ancam ‘Blackout’ Data Ekonomi
Menambah kekhawatiran berlanjut terkait pasar tenaga kerja, Presiden Donald Trump mengancam akan melakukan PHK besar-besaran dan mengatakan Kamis bahwa Demokrat telah memberinya “kesempatan yang belum pernah terjadi sebelumnya” untuk memangkas lembaga federal. Menteri Keuangan Scott Bessent juga mengatakan bahwa kekosongan pendanaan saat ini dapat menyebabkan “pukulan terhadap PDB, pukulan terhadap pertumbuhan, dan pukulan terhadap pekerja Amerika.” Kantor Anggaran Kongres memperkirakan 750.000 pegawai federal akan dirumahkan setiap hari.
Pernyataan mereka datang sehari setelah data payroll swasta mencatat penurunan terbesar sejak Maret 2023 pada September, menurut ADP. Laporan Rabu itu menjadi tanda lain melemahnya pasar tenaga kerja, dan beberapa pihak percaya kondisi pasar tenaga kerja yang lemah ditambah penutupan memperkuat alasan bagi Fed untuk memangkas suku bunga.
Baca Juga
Tak Terpengaruh ‘Shutdown’ Pemerintah AS, Wall Street Terbang Tembus Rekor Baru
“Kami melihat pengganti laporan pekerjaan Departemen Tenaga Kerja yang tertunda dari sumber swasta pada September cukup lemah untuk membenarkan pemangkasan suku bunga lagi oleh Federal Reserve pada pertemuan FOMC 29 Oktober,” beber Jennifer Timmerman, analis strategi investasi senior di Wells Fargo Investment Institute, seperti dikutip CNBC.
Menurut dia, prospek pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh Fed, yang diperkuat oleh sinyal kuning bagi ekonomi dari data pekerjaan terbaru, telah mengokohkan reli saham dan membuat imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun cukup rendah, di 4,11%, untuk mengangkat S&P 500 ke rekor tertinggi baru.

