Prabowo Berpidato Urutan Ketiga di PBB: Pengakuan Besar untuk Diplomasi Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Indonesia mencatat tonggak penting dalam sejarah diplomasi di Sidang Majelis Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan berpidato pada urutan ketiga, tepat setelah Presiden Brasil dan Presiden Amerika Serikat. Posisi ini, meskipun tampak sebagai detail teknis, menyimpan arti strategis yang besar.
“Indonesia mendapat slot sebagai pembicara urutan ketiga tahun ini bukanlah hal remeh. Itu menandakan adanya pengakuan terhadap peran, relevansi, dan kredibilitas diplomasi Indonesia di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian,” ujar Khairul Fahmi, Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) dalam pernyataan tertulisnya, Senin (22/9/2025).
Sejak 1955, Brasil selalu membuka pidato di forum Sidang Umum PBB, sementara Amerika Serikat sebagai tuan rumah menempati urutan kedua. Penentuan urutan negara lain biasanya mempertimbangkan faktor protokol, status politik, serta signifikansi diplomasi masing-masing. Karena itu, kesempatan Indonesia berbicara di posisi ketiga adalah sebuah pengakuan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Jika menengok sejarah, Presiden Soekarno pernah berpidato di urutan ke-46, Presiden Soeharto di urutan ke-61, Presiden Megawati di urutan ke-17, sementara Susilo Bambang Yudhoyono tercatat tiga kali dengan urutan 20, 21, dan 16. Presiden Joko Widodo dua kali berpidato secara virtual, keduanya di urutan ke-16. Kini, Prabowo menempati urutan ketiga — lompatan signifikan yang menjadikan Indonesia salah satu negara pembuka percakapan dunia di forum multilateral terbesar ini.
Urutan strategis ini membuat Prabowo dapat menyampaikan pesan ketika perhatian dunia masih segar dan media global fokus pada agenda awal. Indonesia pun memiliki kesempatan mengatur nada perdebatan, memengaruhi isu-isu utama yang dibahas, dan memosisikan diri sebagai suara yang diperhitungkan.
Dikatakan Khairul, momentum ini hadir di tengah krisis global yang kompleks, mulai dari perang Rusia–Ukraina, konflik Gaza–Israel yang meluas, hingga ketegangan di Indo-Pasifik dan gejolak ekonomi global. Dalam lanskap demikian, suara dari Global South sangat dinantikan. Pidato Prabowo dapat menjadi sarana menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang menolak politik blok, mendorong solusi damai, serta memperjuangkan tata kelola global yang adil dan inklusif.
Baca Juga
Sejarah Baru Indonesia di Sidang Umum PBB, Prabowo Dapat Nomor Urut Pidato Tertinggi
Isu-isu seperti ketahanan pangan, energi, kesehatan global, hingga keadilan iklim berpotensi diangkat karena relevan dengan kepentingan negara berkembang dan dunia secara keseluruhan. Posisi ini juga mempertegas pengakuan atas kepemimpinan Indonesia di kawasan maupun global, sebagai jembatan antara Utara dan Selatan, Barat dan Timur, serta negara maju dan berkembang.
Diplomasi Indonesia belakangan ini memang mencatat prestasi menonjol, mulai dari keberhasilan menjadi tuan rumah KTT G20, memimpin ASEAN dalam menghadapi krisis Myanmar, hingga konsistensi dalam menyuarakan solusi dua negara bagi Palestina. Kehadiran Prabowo di panggung PBB memperkuat konsistensi diplomasi tersebut.
Secara simbolis, pidato ini juga bermakna personal bagi Prabowo yang merupakan putra ekonom dan negarawan Sumitro Djojohadikusumo, tokoh penting dalam arah pembangunan Indonesia. Kini, Prabowo melanjutkan warisan itu dengan membawa visi Indonesia yang percaya diri, mandiri, dan disegani dunia.
"Namun, posisi terhormat ini juga datang dengan tanggung jawab besar. Dunia akan menilai apakah pidato Prabowo mampu menghadirkan pesan yang kuat dan konkret, atau hanya berhenti pada retorika. Bagi publik dalam negeri, pidato ini akan menjadi tolok ukur arah politik luar negeri Indonesia lima tahun ke depan," ujar Khairul.
Dengan berbicara di urutan ketiga, lanjut Khairul, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk mengatur percakapan dunia, memperkuat perannya sebagai pemimpin Global South, serta memperjuangkan kepentingan nasional di meja diplomasi internasional.

