Terima Presiden Korsel, Trump Nyatakan Ingin bertemu Pemimpin Korut
Poin Penting
• Lee ingin menyeimbangkan hubungan dengan AS tanpa memusuhi Tiongkok.
• Pemimpin Korea Utara Kim mengabaikan ajakan pertemuan Trump.
• Sumber mengatakan Korean Air akan membeli 100 pesawat Boeing.
• Korea Utara mengecam latihan militer.
WASHINGTON, investortrust.id – Presiden AS Donald Trump menyatakan keinginannya untuk bertemu Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tahun ini. Pernyataan itu muncul saat Trump menyambut Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dalam kunjungan resmi perdananya ke Gedung Putih.
Baca Juga
Ketegangan Meningkat, Kim Jong Un Sebut Korsel 'Musuh Utama'
“Saya ingin bertemu dengannya tahun ini,” ujar Trump di Oval Office, Senin (25/8/2025). Ia menantikan pertemuan dengan Kim “pada waktu yang tepat.” Namun, hingga kini Pyongyang belum merespons. Media pemerintah Korea Utara justru mengecam latihan militer gabungan AS–Korsel yang disebut sebagai upaya Washington “menduduki Semenanjung Korea.”
Trump dan Lee menggelar pertemuan pertama dalam suasana tegang. Trump sempat menyampaikan keluhan samar di media sosial tentang adanya “Purge atau Revolusi” di Korea Selatan, sebelum kemudian menarik kembali ucapannya sebagai kemungkinan “kesalahpahaman” di antara sekutu.
Meski berhasil menyepakati perjanjian dagang pada Juli lalu yang menyelamatkan ekspor Korea Selatan dari tarif AS yang lebih keras, kedua pihak masih berselisih soal energi nuklir, belanja militer, serta rincian kesepakatan yang mencakup janji investasi Korea Selatan senilai 350 miliar dolar AS di Amerika Serikat.
Baca Juga
Deal! Trump Tetapkan Tarif 15%, Korsel Janjikan Investasi Jumbo
Setelah bertemu Trump, Lee menghadiri forum bisnis bersama pejabat senior pemerintahan AS dan para CEO perusahaan Korea Selatan serta lebih dari 20 perusahaan AS, termasuk Carlyle Group, Nvidia, Boeing, GE Aerospace, Honeywell, dan General Motors.
Sumber mengatakan kepada Reuters bahwa maskapai nasional Korea Selatan, Korean Air diperkirakan akan memesan sekitar 100 pesawat Boeing.
KIM ABAIKAN AJAKAN TRUMP
Korea Utara tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait pernyataan Trump. Media pemerintahnya kemudian menyebut latihan militer gabungan AS-Korea Selatan membuktikan niat Washington untuk “menduduki” Semenanjung Korea dan menargetkan negara-negara di kawasan.
Sejak pelantikan Trump pada Januari, Kim mengabaikan ajakan berulang Trump untuk menghidupkan kembali diplomasi langsung yang pernah dijalankan saat masa jabatan 2017-2021, namun tak menghasilkan kesepakatan penghentian program nuklir Korea Utara.
Retorika Korea Utara semakin mengeras, dengan Kim berjanji mempercepat program nuklirnya serta mengecam latihan militer gabungan AS-Korea Selatan. Akhir pekan lalu, Kim mengawasi uji coba sistem pertahanan udara baru.
Di Oval Office, Lee menghindari konfrontasi teatrikal yang mewarnai kunjungan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada Februari dan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa pada Mei lalu.
Lee, dengan strategi yang sering dipakai tamu asing Trump, berbicara soal golf dan melontarkan pujian pada dekorasi interior Gedung Putih serta peran perdamaian Trump. Ia mengatakan kepada wartawan sebelumnya bahwa ia membaca memoar Trump tahun 1987, Trump: The Art of the Deal, untuk persiapan.
Kantor Lee mengatakan ia dan Trump membahas soal industri perkapalan dan Trump menekankan dukungannya bagi Lee. Mereka juga berbicara mengenai upaya percobaan pembunuhan terhadap mereka. Kantor Lee menyebut suasana pertemuan sedemikian rupa sehingga pernyataan bersama tertulis tidak diperlukan.
Di Oval Office, presiden liberal Korea Selatan itu mendorong Trump untuk terlibat dengan Korea Utara.
“Saya berharap Anda bisa membawa perdamaian ke Semenanjung Korea, satu-satunya negara yang masih terbelah di dunia, sehingga Anda bisa bertemu dengan Kim Jong Un, membangun Trump World (kompleks real estat) di Korea Utara agar saya bisa bermain golf di sana, dan agar Anda benar-benar memainkan peran sebagai pembawa damai bersejarah dunia,” kata Lee dalam bahasa Korea, seperti dikutip Reuters.
Baca Juga
Lee Jae-myung Menang Pemilu Korsel, Tolak Warisan Kekuasaan Darurat
Ekonomi Korea Selatan sangat bergantung pada AS, dengan Washington menopang keamanan Seoul melalui pasukan dan penangkal nuklir. Trump telah menyebut Seoul sebagai “mesin uang” yang mengambil keuntungan dari perlindungan militer AS.
ISU SULIT
Trump terus menekan Seoul terkait kesepakatan dagang yang sudah dicapai serta isu terkait aliansi militer bilateral.
“Saya rasa kita sudah menyelesaikan kesepakatan soal perdagangan. Mereka punya beberapa masalah dengan itu, tetapi kami tetap pada pendirian kami … Mereka akan menjalankan kesepakatan yang sudah mereka setujui,” kata Trump setelah bertemu Lee. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut, dan Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Trump juga mengatakan sambil duduk bersama Lee bahwa ia akan mengangkat “intel” yang diterimanya mengenai penyelidikan di Korea Selatan yang menurutnya menargetkan gereja dan pangkalan militer. Gedung Putih tidak memberikan informasi tambahan saat diminta.
Bulan ini, polisi Seoul menggerebek Gereja Sarang Jeil yang dipimpin pendeta evangelis Jun Kwang-hoon, tokoh yang memimpin protes mendukung mantan presiden Yoon Suk Yeol yang telah lengser.
Pada Juli, jaksa yang menyelidiki upaya Yoon untuk memberlakukan darurat militer mengeluarkan surat penggeledahan untuk bagian Korea dari sebuah pangkalan militer yang dioperasikan bersama AS. Pejabat Korea Selatan mengatakan pasukan dan perlengkapan AS tidak menjadi subjek penggeledahan.
Gerakan sayap kanan di Korea Selatan, terutama kalangan Kristen evangelis dan pendukung Yoon, melihat dirinya sebagai korban penganiayaan komunis.
Baca Juga
Lee Jae-myung Menang Pemilu Korsel, Tolak Warisan Kekuasaan Darurat
Trump diperkirakan akan menekan Lee agar berkomitmen pada peningkatan belanja pertahanan, termasuk untuk biaya pemeliharaan 28.500 tentara AS di Korea Selatan.
Ketika ditanya apakah ia akan mengurangi jumlah tersebut demi memberi AS fleksibilitas regional yang lebih besar, Trump menjawab: “Saya tidak ingin mengatakan itu sekarang,” namun menambahkan bahwa mungkin Seoul sebaiknya memberikan kepemilikan atas “tanah tempat kami memiliki benteng besar,” yang tampaknya merujuk pada Camp Humphreys, pangkalan militer AS di Korea Selatan.
Sebelum pertemuan, Lee mengatakan kepada wartawan bahwa akan sulit bagi Seoul untuk menerima tuntutan AS agar mengadopsi “fleksibilitas” – sebuah referensi penggunaan pasukan AS untuk operasi yang lebih luas, termasuk ancaman terkait Tiongkok.
Lee ingin menempuh jalan seimbang dalam bekerja sama dengan AS, sekaligus menghindari memusuhi Tiongkok, mitra dagang utama Seoul. Bahkan saat menuju Washington, ia mengirim delegasi khusus ke Beijing yang menyampaikan pesan untuk menormalisasi hubungan.
Lee akan menyoroti sebagian dari investasi Korea Selatan yang direncanakan di AS ketika ia mengunjungi galangan kapal di Philadelphia milik Hanwha Group pada Selasa. Trump dijadwalkan menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Korea Selatan pada 30 Oktober–1 November.

