China Serukan Deeskalasi, Kutuk Serangan Israel terhadap Pusat Bantuan Gaza
Poin Penting
|
BEIJING, investortrust.id – China mengutuk keras serangan Israel terhadap pusat-pusat distribusi bantuan kemanusiaan di Gaza yang telah menewaskan hampir 1.000 warga sipil sejak akhir Mei. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan bahwa serangan tersebut melanggar prinsip dasar hukum internasional.
Baca Juga
Memprihatinkan, Korban Tewas Perang Israel-Hamas di Gaza Tembus 55.000
"Kami menentang dan mengutuk semua tindakan yang merugikan warga sipil dan melanggar hukum internasional," ujar Guo, dikutip dari Antara, Selasa (22/7/2025). Ia menekankan bahwa keselamatan warga sipil dan pekerja kemanusiaan internasional harus menjadi prioritas dan menyerukan gencatan senjata segera.
Seruan China datang di tengah krisis kemanusiaan yang kian dalam. Otoritas Gaza melaporkan bahwa puluhan ribu warga, termasuk 60.000 bayi dan 60.000 ibu hamil, kini mengalami kekurangan gizi akut. Lebih dari 600.000 anak-anak di bawah usia 10 tahun juga terancam nyawanya akibat kelaparan yang parah.
Ironisnya, pusat-pusat distribusi bantuan yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi jebakan maut. Otoritas Gaza menyebut beberapa dari pusat tersebut telah menjadi sasaran serangan langsung saat warga mengantre makanan.
Di sisi lain, akses bantuan semakin tersumbat sejak Israel secara resmi melarang keberadaan UNRWA, badan PBB yang selama ini menjadi tulang punggung distribusi bantuan bagi pengungsi Palestina. Keputusan parlemen Israel pada akhir Oktober 2024, yang kemudian disahkan menjadi undang-undang pada Januari 2025, didasarkan pada tuduhan keterlibatan staf UNRWA dalam serangan Hamas — tuduhan yang hingga kini belum dibuktikan secara publik.
Baca Juga
Konflik ini juga semakin memperlihatkan dimensi baru, ketika fasilitas keagamaan ikut menjadi target militer. Serangan terhadap Gereja Keluarga Kudus di Gaza menewaskan dua warga dan melukai 13 lainnya, termasuk pastor dan seorang anak kecil. Sebelumnya, tentara Israel juga menghantam Gereja Baptis dan Gereja Ortodoks Yunani Santo Porphyrius — situs keagamaan tertua ketiga di dunia yang menjadi tempat perlindungan bagi warga Kristen dan Muslim.
Komite gereja Palestina mengeluarkan seruan agar pemimpin agama Kristen dunia turun tangan secara moral. “Diam adalah bentuk persetujuan. Dunia harus bersuara,” bunyi pernyataan tersebut.
Sementara kekerasan terus bereskalasi dan suara-suara internasional makin nyaring, China terlihat mengukuhkan posisi geopolitiknya sebagai penyeimbang moral dalam konflik yang selama ini didominasi oleh narasi dari Barat. Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda deeskalasi di lapangan.

