Beri Kuliah Umum di Universitas Hiroshima, Menperin Ungkap Strategi Baru Industrialisasi Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan kuliah umum di Universitas Hiroshima, Jepang, dengan mengusung tema “Strategi Baru Industrialisasi Indonesia untuk Ketahanan Pangan dan Energi”. Kegiatan ini dihelat dalam rangka kunjungan kerja Menperin di Negeri Sakura seusai menghadiri World Expo Osaka 2025.
Dalam forum akademik yang dihadiri mahasiswa, dosen, peneliti, serta kalangan industri Jepang itu, Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan, Indonesia tengah mengembangkan pendekatan baru dalam industrialisasi. Pendekatan itu berpijak pada konteks global yang berubah cepat, sekaligus untuk menjawab tantangan dalam negeri yang kian kompleks.
“Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Asta Cita, sebuah visi pembangunan nasional yang mencakup delapan misi besar. Enam di antaranya telah dioperasionalkan melalui sebuah kerangka strategis yang disebut sebagai Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN),” kata Menperin dalam keterangan tertulis, Senin (14/7/2025).
Baca Juga
Perang Iran-Israel Ancam Rantai Pasok, Menperin Beberkan Dampaknya ke Industri Manufaktur Nasional
Agus Gumiwang menegaskan, SBIN bukanlah sekadar lanjutan pendekatan masa lalu, melainkan pembaruan dari gagasan-gagasan terbaik dalam ekonomi Pembangunan. Gagasan-gagasan tersebut telah disesuaikan dengan konteks Indonesia serta tertanam dalam realitas global yang multipolar, terdigitalisasi, dan bergerak menuju dekarbonisasi.
Untuk mewujudkan visi besar tersebut, menurut Agus Gumiwang, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjalankan empat program utama yang saling terkait dan saling menguatkan dalam kerangka SBIN. Program pertama adalah hilirisasi sumber daya alam yang bukan lagi jargon politik semata, melainkan bentuk nyata dari pergeseran struktural dalam model ekonomi.
Nikel, Bauksit, Minyak Sawit
Menperin mencontohkan, hingga 2019, Indonesia masih mengekspor nikel, bauksit, dan minyak sawit dalam bentuk mentah. Produk-produk ini menciptakan nilai tambah yang rendah, lapangan kerja yang terbatas, dan menghasilkan keuntungan yang tidak stabil. Namun sejak tahun itu, pemerintah mulai mewajibkan pengolahan sumber daya tersebut di dalam negeri melalui kebijakan hilirisasi.
Baca Juga
Menperin: Toyota, Daihatsu, dan Suzuki Komitmen Tak Lakukan PHK
“Transformasi ini terlihat jelas di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah. Dahulu merupakan daerah yang relatif terisolasi, kini Morowali menjelma menjadi pusat industri yang kompetitif secara global, menjadi rumah bagi klaster perusahaan multinasional di sektor pemurnian nikel dan komponen baterai,” tutur dia.
Program kedua, kata Agus Gumiwang, yaitu pentingnya penguasaan teknologi industri. Melalui peta jalan Making Indonesia 4.0, pemerintah memacu transformasi industri dari sistem produksi tradisional menuju sistem yang lebih cerdas, terhubung, dan terintegrasi secara digital.
“Di sektor tekstil, misalnya, telah diimplementasikan penenunan berbasis sensor dan sistem pewarnaan tanpa limbah. Selanjutnya, di sektor makanan dan minuman, teknologi blockchain diterapkan untuk ketertelusuran produk dari hulu ke hilir. Pada sektor komponen otomotif, integrasi teknologi mendorong perakitan robotik dan sistem logistik just-in-time,” papar dia.
Baca Juga
RI Kena Tarif Impor Trump 32%, Menperin Agus: Jangan Panik, Negosiasi Berlanjut
Menurut Menperin, perubahan ini tidak hanya menyasar perusahaan besar. Ribuan industri kecil dan menengah (IKM) juga telah diperkenalkan pada teknologi serupa melalui pusat-pusat keunggulan dan pelatihan yang didanai pemerintah, termasuk kerja sama erat dengan lembaga pelatihan dan industri di Jepang.
Agus Gumiwang menyampaikan, program ketiga adalah industrialisasi hijau yang menyatakan bahwa era pembangunan yang mengorbankan lingkungan demi pertumbuhan ekonomi telah usai. Sebab, pasar, pemodal, dan regulator kini menuntut industri untuk memenuhi prinsip-prinsip keberlanjutan.
Menuju Ekonomi Sirkular
Menperin mengungkapkan, di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah, pemerintah mewajibkan sistem penggunaan kembali air limbah, efisiensi energi, dan penerapan simbiosis industri. Selanjutnya di Jawa Barat, limbah dari pabrik minyak kelapa sawit diolah menjadi biogas dan digunakan sebagai bahan bakar industri. Adapun di Sumatera, pabrik semen memanfaatkan abu terbang (fly ash) dari pembangkit listrik sebagai bahan baku alternatif.
“Semua upaya ini menjadi bagian dari transisi menuju ekonomi sirkular. Indonesia tidak hanya ingin memenuhi standar ESG (environmental, social, and governance), tetapi juga ingin menurunkan biaya produksi, meningkatkan daya saing industri, serta menarik lebih banyak investasi hijau,” tegas dia.
Baca Juga
Menperin Agus Sebut Geliat Potensi Pasar Industri Otomotif di RI Masih Besar, Ini Buktinya
Untuk program keempat, Menperin menyoroti pentingnya pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai fondasi keberhasilan industrialisasi. Tanpa adanya tenaga kerja yang terampil, insinyur, wirausahawan, dan inovator, semua strategi tidak akan berjalan optimal.
Jepang, menurut Menperin, telah memainkan peran sangat penting dalam proses tersebut. Melalui kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan dan industri Jepang, Indonesia kini memiliki kurikulum bersama di bidang robotika, permesinan presisi, otomatisasi pabrik, dan material berkelanjutan.
“Lulusan program ini tidak hanya mendapatkan gelar akademik, tetapi juga keterampilan yang relevan secara global serta pengalaman langsung di dunia industri,” ungkap Agus.

