Bagikan

Presiden Prabowo Terima Sambutan Khusus saat Pembukaan KTT BRICS dari Presiden Lula

Poin Penting

Lula da Silva secara khusus menyambut Presiden Prabowo sebagai peserta penuh pertama dari Indonesia di KTT BRICS ke-17.
Lula mengkritik keras melemahnya multilateralisme dan menyebut Dewan Keamanan PBB kehilangan kredibilitas dalam menyelesaikan konflik global.
Meskipun kritis, Lula tetap memuji kontribusi historis PBB dalam proses dekolonisasi, perdamaian Timor Leste, dan pelarangan senjata kimia.

RIO de JANEIRO, Investortrust. id - Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva menyambut secara khusus kehadiran Presiden Indonesia Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-17 di Rio de Janeiro, Minggu (6/7/2025). Dalam pidato pembukaannya, Lula secara khusus mengucapkan selamat datang kepada Presiden Prabowo, yang untuk pertama kalinya hadir sebagai wakil Indonesia setelah resmi menjadi anggota penuh BRICS.

"Secara khusus, saya menyampaikan selamat datang kepada Presiden Prabowo, yang berpartisipasi untuk pertama kalinya dalam KTT BRICS sebagai anggota penuh," ujar Lula di hadapan para pemimpin negara-negara BRICS dan mitra, seperti ditayangkan dalam Youtube Sekretariat Presiden RI. 

Dalam pidatonya, Lula menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi dunia saat ini, terutama runtuhnya multilateralisme dan lemahnya peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menyelesaikan berbagai konflik global. Ia menegaskan bahwa KTT BRICS kali ini berlangsung di tengah situasi dunia yang paling sulit dibandingkan tiga perhelatan sebelumnya yang pernah digelar di Brasil.

Baca Juga

Presiden Lula Sebut BRICS sebagai Pewaris Semangat Konferensi Bandung 1955

“Baru-baru ini PBB genap berusia 80 tahun, dan kita menyaksikan runtuhnya multilateralisme secara belum pernah terjadi sebelumnya,” tegasnya.

Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 pada Minggu, 6 Juli 2025, di Museum of Modern Art (MAM), Rio de Janeiro, Brasil. Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr  

Ia menyoroti bahwa pendirian PBB dulunya menjadi simbol kekalahan fasisme dan lahirnya harapan kolektif. Namun kini, multilateralisme yang menjadi semangat utama PBB kembali terancam. “Dengan multilateralisme yang kembali diserang, kedaulatan kita juga kembali dipertaruhkan. Kemajuan besar yang telah dicapai dengan susah payah, seperti sistem perdagangan dan iklim, kini terancam,” ungkapnya.

Lula juga menyampaikan kritik tajam terhadap Dewan Keamanan PBB yang dinilainya kehilangan kredibilitas dan kerap tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan sebelum intervensi militer dilakukan. “Pertemuan Dewan Keamanan PBB kini kehilangan kredibilitas, bahkan sering tidak diajak berkonsultasi sebelum intervensi militer dimulai,” katanya.

Ia juga menyoroti bagaimana retorika lama digunakan kembali untuk membenarkan intervensi ilegal, serta ancaman baru terhadap reputasi badan seperti Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Baca Juga

Presiden Lula sambut Hangat Presiden Prabowo di KTT BRICS

Ia menilai banyak konflik di dunia seperti di Ukraina, Gaza, dan kawasan Sahel terus dibiarkan berlarut-larut, sementara PBB gagal menjadi fasilitator efektif dalam mencari solusi damai. Namun Lula tetap memberi apresiasi terhadap peran PBB di sejumlah momen penting, termasuk dalam proses dekolonisasi, larangan senjata kimia dan biologis, serta misi perdamaian di Timor Leste.

Presiden RI Prabowo Subianto berjabat tangan dengan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva saat menghadiri rangkaian kegiatan rapat pleno KTT BRICS 2025 di Museum of Modern Art (MAM) Rio de Janeiro, Brasil, Minggu (6/7/2025). Tim Media Presiden Prabowo Subianto  

“PBB memainkan peran penting dalam proses dekolonisasi. Larangan atas senjata biologis dan kimia adalah bukti nyata keberhasilan multilateralisme,” ujarnya.

Lula juga menyebut keberhasilan kawasan Amerika Latin yang telah memilih menjadi zona bebas senjata nuklir sejak 1968 dan mengapresiasi kepemimpinan Uni Afrika dalam pencegahan konflik. Ia menyerukan reformasi mendalam terhadap tata kelola global agar mencerminkan realitas multipolar abad ke-21. “Untuk mengatasi krisis kepercayaan, kita harus mereformasi Dewan Keamanan PBB secara mendalam: menjadikannya lebih sah, lebih representatif, lebih efektif, dan lebih demokratis,” ujar Lula. Menurutnya, penambahan anggota tetap baru dari Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Karibia bukan sekadar tuntutan keadilan, melainkan kebutuhan demi menjamin kelangsungan hidup PBB.

Lula mengajak seluruh anggota BRICS untuk bersama-sama membangun fondasi tata kelola global yang lebih kuat. Ia meyakini bahwa keberagaman dan representasi BRICS menjadikannya kekuatan nyata untuk menciptakan perdamaian dan menjadi penengah konflik.

“Menunda proses ini hanya akan membuat dunia semakin tidak stabil dan berbahaya. Setiap hari yang kita habiskan dengan struktur internasional yang usang dan eksklusif, adalah hari yang hilang untuk menyelesaikan krisis besar umat manusia,” tutupnya. 

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024