Iran Lawan Israel. Mana Yang Lebih Berotot?
Jakarta, investortrust.id – Iran dan Israel adalah dua negara yang memiliki sejarah militeristik yang sangat panjang. Iran yang mewarisi sejarah Persia, merupakan kekuatan penting di Asia Tengah dan Timur Tengah dengan sejarah masa gemilang yang panjang. Kejayaan Persia hanya sekali runtuh saat Alexander Yang Agung menghabisi tentara pimpinan Darius III dan mengakhiri Dinasti Akhemeniyah. Setelahnya Iran tidak pernah dijajah kekuatan asing. Iran secara geografis seperti benteng alam yang sulit diserang namun mudah dipertahankan.
Peta dari google maps dan informasi tambahan Wikipedia memperlihatkan Pegunungan Zagros yang membentang dari Iran bagian barat, barat daya dan hingga Iran bagian Selatan, ujung pegunungan ini menyentuh laut di Teluk Persia dan Selat Hormuz di selatan, seperti pagar benteng alami yang menjadi batas dengan Irak. Di utara lebih sulit lagi, pegunungan Elburz membentengi Iran dari arah laut Kaspia, sementara masuk dari sisi timur seperti misi bunuh diri sebab dibatasi oleh Pakistan dan Afghanistan yang sungguh tidak ramah bagi kekuatan barat dan masih harus menghadapi benteng alam Pegunungan Timur.
Bila semua benteng alam itu bisa dilewati, masih ada rintangan dua padang pasir di tengah Iran, Dasht-e-Kavir dan Dash-e-Lut yang dengan suka cita menghisap kendaraan lapis baja dan tank dengan pasirnya. Panas yang menyengat, dataran garam, padang pasir penghisap, dan pegunungan kering dengan perbedaan suhu yang ekstrem membuat invasi darat ke Iran sama dengan misi bunuh diri massal.
Namun Israel juga tidak kalah dalam memamerkan "portofolio" peperangan. Bangsa ini telah melalui sejarah panjang peperangan sejak mereka keluar dari Mesir dipimipin Musa, masuk ke Tanah Perjanjian dengan Joshua sebagai komandan, berbagai peperangan pada masa Raja Samuel, Daud, Sulaiman, Perang Arab-Israel, Perang Enam Hari hingga yang terakhir dan terbesar adalah Perang Yom Kippur di mana Israel memenangkan perang melawan gabungan Mesir dan Suriah. Sesudahnya Israel lebih sering terlibat peperangan skala kecil hingga sedang dengan proxy Iran di Suriah, Libanon dan Palestina seperti milisi Hamas dan Hizbullah.
Preemptive Strike Israel
Dikutip dari AlJazeera, kini Israel berperang melawan Iran yang diduga sedang menyiapkan senjata nuklir dengan fasilitas pengayaan uranium di tiga tempat, Fordow, Natanz and Isfahan. Doktrin perang Israel berbeda dengan Iran yang menganut doktrin defensif, berbasis pada atriisi atau mengikis kekuatan musuh secara perlahan dan perang asimetris, Israel mengedepankan doktrin serangan pendahuluan, serangan presisi dan superioritas udara.
Tak heran Jika Israel melancarkan lebih dulu serangan ke tiga fasilitas nuklir Iran sebelum negara itu mampu menyelesaikan hulu ledak nuklir yang diduga akan digunakan untuk melenyapkan Israel, setidaknya demikian klaim dari petinggi militer Israel.
Israel melancarkan gelombang serangan terhadap situs militer dan nuklir Iran pada Jumat pagi (13/6/2025), menandai babak terbaru dalam eskalasi antara kedua rival Timur Tengah tersebut. Juru bicara militer Israel mengatakan lebih dari 200 jet angkatan udara Israel menyerang sekitar 100 target di seluruh Iran dalam serangan mendadak.
Militer Israel juga mengklaim telah membunuh "tiga komandan militer paling senior" Iran.
Dalam sebuah posting di X, militer Israel menyebutkan target pembunuhannya adalah Mohammad Bagheri, kepala staf angkatan bersenjata; Hossein Salami, komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC); dan Mayor Jenderal Gholam Ali Rashid, komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya.
Sebelumnya, Israel dan Iran telah saling serang dengan rudal pada tahun 2024.
Pada tanggal 2 Oktober 2024, Iran menyerang kota-kota besar Israel dengan sedikitnya 180 rudal balistik pada tanggal 2 Oktober. Juru bicarar Korps Garda Revoulis Islam (IRGC) mengatakan rudal-rudal tersebut ditembakkan sebagai respons Teheran terhadap pembunuhan warga sipil di Gaza dan Lebanon, dalam serangan Israel, serta pembunuhan para pemimpin IRGC, Hamas, dan Hizbullah. Israel kemudian membalas dengan melakukan serangan terhadap sekitar 20 target militer di Iran pada tanggal 25 Oktober sebagai respons atas apa yang dikatakannya sebagai serangan selama berbulan-bulan oleh "Iran dan proksi-proksinya" di wilayah tersebut.
Namun, serangan Israel pada hari Jumat, 13 Juni 2025, menandai eskalasi yang lebih dramatis, dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah mengancam "hukuman berat" bagi Israel sebagai tanggapan.
Risiko eskalasi bertambah besar setelah Amerika Serikat turut campur dengan menaburkan benih berupa selusin bom penghancur bunker, GBU-57 seberat 13 ton di mana 2,4 ton adalah hulu ledak dari perut enam unit pembom siluman strategis jarak jauh, B-2 Spirit pada Minggu (22/6/2025) yang dijatuhkan di fasilitas nuklir Iran di Fordow, provinsi Qom. Lalu bagaimana sejatinya kekuatan kedua negara yang tidak pernah akur ini bila disandingkan tanpa campur tangan negara-negara pendukung seperti Amerika, Eropa, Rusia, dan Cina?
Berikut adalah penampakan persenjataan masing-masing negara.
Jumlah tentara
Menurut The Military Balance 2023, yang diterbitkan oleh lembaga pemikir yang berbasis di Inggris, International Institute for Strategic Studies (IISS): Iran memiliki 610.000 personel aktif, termasuk 350.000 personel di angkatan darat, 190.000 personel di Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), 18.000 personel di angkatan laut, 37.000 personel di angkatan udara, dan 15.000 personel di pertahanan udara. Selain itu, Iran memiliki pasukan cadangan sebanyak 350.000 personel. Wajib militer wajib bagi pria Iran yang berusia 18 tahun ke atas, dengan beberapa pengecualian.
Israel memiliki 169.500 personel aktif, termasuk 126.000 personel angkatan darat, 9.500 personel angkatan laut, dan 34.000 personel angkatan udara. Israel memiliki pasukan cadangan sebanyak 465.000 personel. Israel mewajibkan wajib militer bagi sebagian besar pemuda dan pemudi di atas usia 18 tahun, dengan pengecualian tertentu. Beruntung bagi Israel karena dipisahkan oleh dua negara–Irak dan Yordania dari Iran. Apa jadinya bila dua negara yang tidak pernah akur ini berbagi perbatasan dan tentara Iran didukung 30 persen penduduk Iran yang bersenjata nekat menyerbu Israel yang hanya memiliki personil yang sangat terbatas?
Pada segi jumlah populasi dan luas wilayah, Iran boleh mentertawakan Israel yang hanya memiliki 9,845,000 penduduk (data 2024) dibanding 90,608,707 warga negara Iran yang geram dan tidak sabar berperang dengan Israel. Jumlah warga Iran sebanyak itu tersebar di wilayah seluas 1,745,150 km2, sedangkan penduduk Israel mendiami wilayah seluas, bukan, bukan seluas, sesempit 22,070 km2. Perbandingan wilayah Israel dan Iran adalah satu berbanding hampir 80, artinya luas wilayah Iran 79,07 kali lebih besar.
Belanja militer
Kali ini giliran Israel bertepuk dada. Negara kecil ini ternyata lebih boros menghamburkan uang untuk belanja militer, bukan hal yang mengherankan sebab Israel dikepung negara-negara yang lebih besar dan juga terlibat perang berkepanjangan dengan Hamas, Hizbullah dan Lebanon.
Menurut lembar fakta yang diterbitkan oleh Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) pada bulan April 2024, Iran menghabiskan $15,4 miliar pada tahun 2023, meningkat 0,6 persen dari tahun 2022, Sedangkan Israel menghabiskan $30,5 miliar pada tahun 2023, meningkat 24 persen dari tahun 2022 – lonjakan yang sebagian didorong oleh perang di Gaza setelah serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober 2023.
Angkatan Darat: Bagai David dan Goliath
Persis seperti kisah David melawan Goliath, di atas kertas postur Angkatan Darat Israel jauh lebih kecil dibanding Iran. Menurut The Military Balance 2023, Iran memiliki sedikitnya 1.713 tank tempur utama, 2.070 senjata artileri, dan lebih dari 65.852 kendaraan lapis baja. Angkatan Darat juga memiliki 13 helikopter serang, sedangkan IRGC memiliki lima helikopter. Di sisi lain, Israel disebutkan hanya memiliki sekitar 1.300 tank tempur utama, 171 senjata artileri, dan lebih dari 35.000 kendaraan lapis baja. Namun, lagi lagi, Israel memiliki keunggulan peralatan yang lebih modern dan teknologi yang lebih maju.
Angkatan Udara: Teknologi Melawan Museum
Seperti telah disebutkan sebelumnya, Israel menganut doktrin serangan pendahuluan, serangan presisi dan superioritas udara sehingga tak heran meski jumlah jet tempurnya hanya sedikit lebih banyak dari jet tempur Angkatan Udara Iran, ditambah pula jet jet tempur Israel berusia lebih muda, membawa segudang teknologi baru dan terkini. Jet tempur terbaru Israel adalah jet tempur siluman F-35I Adir (F-35 Lightning versi ekspor khusus untuk Israel) yang diklaim oleh Iran telah ditembak jatuh sebanyak tiga unit dalam peperangan bulan Juni 2025.
Menurut The Military Balance 2023, Angkatan Udara Iran memiliki total 312 pesawat tempur, dan IRGC memiliki 23 lainnya. Jet jet tempur AU Iran kebanyakan jet tua buatan AS seperti F-14 Tomcat (satu-satunya operator selain AS di dunia), F-4 Phantom dan F-5 Tiger, peninggalan rezim Mohammad Reza Pahlavi yang digulingkan oleh Revolusi Islam pada tahun 1979 dan jet tempur yang sedikit lebih muda buatan Uni Soviet terdiri dari Mig-29, Su-22, Su-24 bahkan terdapat Chengdu F-7 yang adalah Mig-21 buatan Cina. Mig-21? Iya betul, tidak salah, Mig-21 yang sangat terkenal pada masa perang dingin dan perang Vietnam, namun kini jet tempur Rusia itu telah banyak yang menghuni museum, termasuk Museum Satria Mandala di Jakarta.
Untuk helikopter serang, AU Iran punya dua unit, Angkatan Darat memiliki 50, dan IRGC memiliki lima. Uniknya, tulang punggung helikopter serang Iran adalah AH-1 Cobra buatan AS yang diperoleh ketika rezim Reza Pahlevi menjalin hubungan mesra dengan AS dan menjadi sekutu saat AS tidak ingin Irak menjadi kekuatan dominan di wilayah itu. Kekuatan AU Iran diyakini semakin lemah pada peperangan di bulan Juni 2025 ketika militer Israel merilis video yang memperlihatkan proses penghancuran beberapa jet tempur Iran saat masih berada di landasan. Meski belum bisa dikonfirmasi, namun tidak adanya perlawanan jet tempur Iran memperkuat dugaan tersebut.
Israel bisa dibilang cukup digdaya di udara karena memiliki 345 pesawat tempur dan 43 helikopter serang, semuanya memiliki keunggulan avionik, peperangan elektronika dan fitur siluman pada F-35I Adir. Jet jet tempur Israel memiliki usia yang lebih muda dan lebih modern dibanding lawan mereka di sisi Iran. Kedua negara juga disebutkan telah menerima jet tempur terbaru seperti F-15 EX lansiran AS untuk Israel dan Su-35 untuk Iran dari Rusia. Namun kedua jenis jet tempur itu belum bisa dikonfrimasi karena statusnya yang belum operasional dan tidak terlibat peperangan bulan Juni 2025.
Angkatan Laut: Israel Bukan Raja Lautan
Meski kecil peluangnya peperangan ini berlanjut di lautan karena faktor geografis– kecuali AS ikut campur dalam peperangan di Teluk Persia dan Selat Hormuz, namun perlu diintip juga kekuatan Angkatan Laut kedua negara. Menurut The Military Balance 2023, Iran memiliki 17 kapal selam taktis, 68 patroli dan kombatan pesisir, tujuh korvet, 12 kapal pendarat, 11 kapal pendarat, dan 18 kendaraan logistik dan pendukung, sedang Israel hanya memiliki lima kapal selam dan 49 kapal patroli dan kombatan pesisir.
Sistem pertahanan udara
Masih mengacu pada data dari The Military Balance 2023, pertahanan udara Israel bergantung pada apa yang dikenal sebagai sistem Iron Dome, yang diyakini telah mencegat sebagian besar rudal Iran pada Selasa malam. Iron Dome dilengkapi dengan radar yang mendeteksi proyektil yang masuk, berdasarkan kecepatan dan arahnya. Pusat kendali kemudian menghitung apakah proyektil tersebut menimbulkan ancaman bagi kota-kota Israel.
Proyektil yang tidak menimbulkan ancaman dibiarkan bila diperkirakan mendarat di ladang kosong. Jika menimbulkan ancaman, unit penembakan rudal meluncurkan rudal untuk menembak jatuh potensi ancaman. Setiap satu baterai peluncur berisi 20 rudal pencegat. Ada 10 baterai Iron Dome yang tersebar di sekitar Israel. Sistem lainnya mencegat rudal jarak menengah dan jauh, yakni David's Sling yang bertugas mencegat rudal musuh yang datang dengan jarak antara 40 km dan 300 km. Selain kedua sistem itu, Israel masih memiliki sistem Pertahanan Udara Arrow dengan tugas mencegat rudal dengan jangkauan yang lebih jauh hingga 2.400 km.
Sementara Iran mengandalkan Azarakhsh – yang berarti "petir" dalam bahasa Persia, menyergap rudal yang datang dari jarak pendek dan ketinggian rendah. Azarakhsh menganut sistem deteksi inframerah, dilengkapi dengan radar dan sistem elektro-optik untuk mendeteksi dan mencegat target. Azarakhsh memiliki mobilitas tinggi karena dapat dipasang pada kendaraan.
Selain Azarakhsh, Iran juga memiliki berbagai sistem pertahanan rudal permukaan-ke-udara yang berbeda, termasuk lebih dari 42 unit baterai S-200, S-300, dan Bavar-373 buatan Rusia; lebih dari 59 MIM-23 Hawk, HQ-2J, dan Khordad-15 jarak menengah buatan AS; dan 279 CH-SA-4 dan 9K331 Tor-M1 jarak pendek buatan Cina. Sebagai informasi, Turki pernah membeli sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia pada tahun 2017, versi yang lebih maju dibanding milik Iran, dan akibatnya, Turki ditendang oleh AS dari program jet tempur F-35 Lightning dan mendorong Turki mengembangkan jet tempur "siluman" KAAN. Jet KAAN ini akan dibeli oleh Indonesia dan kedua negara telah menandatangani kesepakatan pada pameran Indo Defence 2025 di Jakarta, (11/6/2025).
Rudal balistik
Menurut Proyek Pertahanan Rudal dari lembaga pemikir yang berbasis di AS, Center for Strategic and International Studies (CSIS), Iran memiliki setidaknya 12 jenis rudal balistik jarak menengah dan pendek yang berbeda di gudang senjatanya. Rudal-rudal ini berkisar dari Tondar 69, yang memiliki jangkauan 150 km, hingga Khorramshahr dan Sejjil, yang memiliki jangkauan hingga 2.000 km.
Sedangkan lawannya, Israel memiliki setidaknya empat jenis rudal balistik jarak kecil, menengah, dan menengah, mulai dari LORA dengan jangkauan 280 km hingga Jericho-3 dengan jangkauan antara 4.800 km dan 6.500 km. Namun, pada bulan Mei, Iran mengancam akan mengubah doktrin nuklirnya “jika keberadaan Iran terancam”.
Sumber: Al Jazeera; Wikipedia; Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI); Center for Strategic and International Studies (CSIS); The Military Balance 2023; Global Fire Power Index.

