AS dan Inggris Umumkan Kesepakatan Dagang, tapi Soal Baja Masih 'Menggantung'
KANANASKIS, investortrust.id – Amerika Serikat dan Inggris mengumumkan babak baru dalam hubungan dagang mereka di sela-sela KTT G7, dengan penandatanganan perjanjian penurunan sebagian tarif oleh Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Keir Starmer. Namun, kesepakatan ini masih menyisakan ganjalan, belum terselesaikannya isu baja dan aluminium.
Baca Juga
Trump Ungkap Kesepakatan Dagang AS-Inggris, Pertahankan Tarif Dasar 10%
Donald Trump menandatangani kesepakatan pada Senin (16/6/2025) yang secara resmi menurunkan sebagian tarif atas impor dari Inggris, sementara kedua negara terus merundingkan perjanjian dagang formal.
Kesepakatan ini menegaskan kembali kuota dan tarif atas mobil buatan Inggris serta menghapus tarif untuk sektor dirgantara Inggris, namun isu mengenai baja dan aluminium tetap belum terselesaikan.
Industri strategis lainnya, seperti farmasi, tidak disebutkan dalam kesepakatan tersebut.
Trump mengatakan hubungan dengan Inggris ‘fantastis’. “Kami sudah menandatanganinya dan sudah selesai,” ujar Trump, seperti dikutip Reuters. Ia sempat keliru menyebutnya sebagai kesepakatan dagang dengan Uni Eropa, sebelum kemudian mengklarifikasi bahwa kesepakatan itu dengan Inggris.
Starmer menyebut hari itu sebagai “hari yang sangat baik bagi kedua negara kita, sebuah tanda nyata kekuatan.”
Baja dan Aluminium
AS berniat memberlakukan kuota untuk impor baja dan aluminium dari Inggris yang akan dibebaskan dari tarif 25%, namun syaratnya Inggris harus menunjukkan jaminan keamanan atas rantai pasok dan fasilitas produksi baja, menurut perintah eksekutif yang dirilis Gedung Putih.
Besaran kuota akan ditetapkan oleh Menteri Perdagangan Howard Lutnick, demikian pernyataan Gedung Putih.
Inggris telah menghindari tarif hingga 50% atas baja dan aluminium yang dikenakan AS kepada negara lain pada awal bulan ini, namun berpotensi menghadapi tarif tinggi mulai 9 Juli jika kesepakatan pengurangan tarif tidak tercapai.
Baca Juga
Trump Tunda 90 Hari Pemberlakuan Tarif Baru, Ancam Tarif 125% untuk China
Kedua pemimpin negara menegaskan kembali rencana untuk memberikan produsen mobil Inggris kuota tahunan sebesar 100.000 unit mobil yang dapat diekspor ke AS dengan tarif 10%, lebih rendah dari tarif 25% yang dikenakan pada negara lain.
Rencana ini akan berlaku tujuh hari setelah dipublikasikan dalam Federal Register, kata Gedung Putih.
Kesepakatan tersebut juga menghapus tarif atas industri dirgantara Inggris, termasuk untuk suku cadang dan pesawat, menurut perintah eksekutif.
Inggris menjadi negara pertama yang menyepakati kesepakatan penurunan tarif dengan Trump, di mana AS menurunkan tarif atas impor mobil, aluminium, dan baja dari Inggris, dan Inggris sepakat untuk menurunkan tarif atas daging sapi dan etanol dari AS.
Namun implementasi kesepakatan sempat tertunda karena rincian teknis belum dirampungkan dan beberapa isu masih belum terselesaikan.
Inggris menyebut kesepakatan ini sebagai kemenangan besar bagi sektor dirgantara dan otomotifnya, dengan menyoroti bahwa Inggris adalah satu-satunya negara yang telah mencapai kesepakatan semacam ini dengan Washington.
“Mengimplementasikan perjanjian dagang biasanya butuh waktu berbulan-bulan, tapi kami berhasil mewujudkan kesepakatan pertama ini hanya dalam hitungan minggu. Dan kami tidak akan berhenti sampai di sini,” kata Menteri Perdagangan Inggris Jonathan Reynolds dalam pernyataan resminya.
Reynolds mengatakan kedua pihak menyetujui akses timbal balik atas 13.000 metrik ton daging sapi, seraya menegaskan bahwa impor dari AS harus memenuhi standar keamanan pangan Inggris yang ketat.
Ia menambahkan bahwa kedua negara masih fokus untuk mengamankan “hasil yang secara signifikan lebih menguntungkan” bagi sektor farmasi Inggris, dan pekerjaan akan terus berlanjut untuk melindungi industri dari potensi tarif tambahan yang dapat dikenakan melalui penyelidikan Section 232 oleh Departemen Perdagangan AS.
Ketika ditanya apakah kesepakatan ini melindungi Inggris dari ancaman tarif di masa depan, Trump menjawab ringan. “Inggris sangat terlindungi. Tahu kenapa? Karena saya menyukai mereka. Itu perlindungan terbaik mereka,” ujarnya.

