Trump: Kunjungan Xi Jinping ke Vietnam bertujuan untuk Rugikan Amerika Serikat
WASHINGTON, Investortrust.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh bahwa tur Xi Jinping ke sejumlah negara Asia Tenggara bertujuan untuk merugikan Amerika Serikat, pascapenetapan tarif impor besar-besaran terhadap Beijing.
Seperti diberitakan, Xi Jinping memulai tur lima harinya ke Vietnam, Malaysia, dan Kamboja pada hari Senin (14/4/2025). Di Hanoi, pada lawatan pertamanya, Presiden China tersebut membahas hubungan dagang dengan para pemimpin Vietnam. Soal pembicaraan antara China dan Vietnam, Trump menyebut bahwa pertemuan itu kemungkinan adalah forum untuk merencanakan cara merugikan AS.
“Saya tidak menyalahkan China, saya (juga) tidak menyalahkan Vietnam,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Selasa (15/4/2025) seperti dikutip Independent.co.uk. “Itu pertemuan yang menyenangkan. Pertemuan seperti, mencoba mencari cara, ‘Bagaimana kita bisa merugikan Amerika Serikat?’” tutur Trump.
Setelah Trump memberlakukan tarif efektif sebesar 145 persen terhadap ekspor Tiongkok ke AS, Beijing menyebut tindakan AS tidak adil dan berikutnya menerapkan tarif balasan sebesar 125% atas barang-barang asal Amerika.
Kebijakan tarif baru tersebut membuat pasar saham dan obligasi bergejolak, hingga Trump kemudian menurunkan tarif menjadi 10% untuk hampir semua negara, termasuk tiga negara yang menjadi tujuan tur Xi, serta mengumumkan jeda penegakan selama 90 hari guna memberikan waktu untuk negosiasi.
Baca Juga
Siasati Tarif Trump, Xi Jinping Akan Melawat ke Asia Tenggara Perkuat Hubungan Ekonomi
Namun, Trump tetap mempertahankan tarif tinggi terhadap Tiongkok, meskipun kemudian memberikan pengecualian untuk kategori barang tertentu, seperti komputer, ponsel pintar, dan chip, yang diimpor dari negara produsen utama di Asia tersebut.
Kunjungan Xi ke Vietnam dilakukan setelah To Lam menyerukan penguatan hubungan dagang dengan negara tetangganya, China.
“Pasar mega China selalu terbuka untuk Vietnam,” kata Xi seperti dikutip oleh kantor berita Xinhua, seraya menambahkan bahwa “China dan Vietnam harus memperkuat fokus strategis dan bersama-sama menolak perundungan sepihak.”
“Sebuah perahu kecil dengan satu layar tidak akan mampu menghadapi gelombang badai, dan hanya dengan bekerja sama kita bisa berlayar dengan stabil dan jauh,” ujarnya.
Vietnam, yang merupakan pusat industri dan perakitan utama, adalah sumber penting bagi AS untuk berbagai produk mulai dari alas kaki dan pakaian hingga elektronik. Menurut estimasi berdasarkan data bea cukai Vietnam, sekitar 30% dari PDB negara tersebut bergantung pada ekspor ke Amerika Serikat.

