Ambruknya Wall Street Tak Goyahkan Trump Lanjutkan Kebijakan Tarif
WASHINGTON, Investortrust.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa dirinya tidak akan menunda pemberlakuan tarif besar-besaran yang telah ia tetapkan terhadap berbagai negara di seluruh dunia, kendati penerapan tarif itu telah mengakibatkan gejolak besar di pasar modal, termasuk di mayoritas pasar saham AS.
Fluktuasi tajam terjadi pada tiga indeks pasar saham utama AS pada hari Senin (7/4/2025), karena para ekonom khawatir bahwa kebijakan tarif Trump yang ia sebut sebagai "Hari Pembebasan" dapat memicu resesi global.
Indeks S&P 500 menutup hari dengan penurunan 0,23%, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,91%, dan Nasdaq justru berakhir naik tipis 0,10%.
Ketiga indeks tersebut dibuka dengan penurunan tajam, dan Dow sempat anjlok hingga 1.700 poin menyusul kerugian yang lebih besar di pasar global. Namun, Dow tiba-tiba melonjak hampir 900 poin pada akhir pagi hari. S&P 500 pun berbalik dari kerugian sebesar 4,7% menjadi lonjakan 3,4%, yang bisa menjadi kenaikan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga
Minta Vietnam Hapus Kecurangan Non Tarif, AS Tolak Tawaran Tarif Impor 0%
Kenaikan mendadak ini tampaknya disebabkan oleh sebuah unggahan di media sosial yang secara keliru mengklaim bahwa Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, menyatakan bahwa Trump sedang mempertimbangkan jeda tarif selama 90 hari untuk semua negara kecuali Tiongkok.
Laporan awal muncul melalui saluran berita bisnis AS, CNBC. Namun kemudian Gedung Putih menegaskan kepada CNBC bahwa kabar tentang jeda 90 hari tersebut adalah "berita palsu".
Ambyarnya sektor finansial kembali menghantam investasi di seluruh dunia, dengan pasar saham di Hong Kong jatuh hingga 13,2%, menjadi hari terburuk sejak tahun 1997.
Sementara itu, indeks acuan Inggris, FTSE 100, ditutup turun 4,38%.
Ini merupakan salah satu penurunan terbesar dalam beberapa tahun terakhir, sebanding dengan penurunan di awal masa lockdown COVID-19, meskipun masih sedikit lebih ringan dibandingkan penurunan 4,95% pada hari Jumat sebelumnya.
Hanya segelintir dari 100 perusahaan paling bernilai di Bursa Saham London yang mengalami kenaikan harga saham sepanjang hari itu.
Berikutnya saat ditanya pada Senin malam di Ruang Oval apakah ia akan menunda tarif, Trump menjawab, "Kami tidak sedang mempertimbangkan itu."
Trump menambahkan bahwa negara-negara yang terdampak telah melakukan negosiasi dengan pemerintahannya, yang menurutnya akan mencoba mencapai "kesepakatan yang adil" dengan masing-masing negara tersebut. "Kami akan mendapatkan kesepakatan yang adil dengan setiap negara, dan jika tidak, mereka tidak akan bisa berpartisipasi dengan AS," tambahnya dikutip SkyNews.com, Selasa (8/4/2025).
Trump juga mengklaim bahwa AS "telah dirugikan oleh banyak negara selama bertahun-tahun", dan menegaskan: "Kami tidak bisa terus seperti ini. Kami tidak bisa menjadi bangsa yang bodoh lagi."

