Prancis Izinkan Bos Telegram Pergi ke Dubai meski Sedang Terjerat Kasus Hukum
PARIS, investortrust.id - Pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Telegram, Pavel Durov diizinkan meninggalkan Prancis untuk sementara di tengah kasus hukum yang menjeratnya. Durov ditangkap dan dilarang meninggalkan Prancis sejak Agustus 2024.
Durov menghadapi tuduhan atas dugaan keterlibatan dalam kejahatan terorganisasi. Pemerintah Prancis kemudian mendakwanya atas berbagai pelanggaran terkait operasional Telegram.
Setelah menjalani proses interogasi, Durov didakwa atas beberapa tuduhan karena gagal membatasi penyebaran konten ekstremis dan teroris di platformnya. Ia kemudian dibebaskan dengan jaminan 5 juta euro dan dilarang meninggalkan Prancis.
Baca Juga
Pendiri Telegram Ditangkap Buntut Moderasi Konten, Ini Respons Menkominfo
Namun, pada Sabtu (15/3/2025) lalu, Durov diketahui telah terbang ke Dubai dengan izin otoritas Prancis. Menurut laporan AFP, Minggu (16/3/2025), ia berangkat dari Bandara Le Bourget menuju Uni Emirat Arab (UEA), tempat kantor pusat Telegram berada.
Durov memiliki tiga kewarganegaraan, yakni Rusia, Prancis, dan UEA. Namun demikian, ia dikenal sebagai miliarder tertutup yang jarang tampil di depan publik.
Selama interogasi pada Desember lalu, Durov sempat menyalahkan otoritas Prancis karena tidak memberi tahu Telegram soal dugaan aktivitas kriminal di platformnya. Namun, ia kemudian mengakui tuduhan yang ia hadapi.
Baca Juga
Lambat Beri Respons, Telegram Didenda Rp 10 Miliar oleh Negara Tetangga RI
Penyidik Prancis mengajukan lebih dari selusin kasus, termasuk eksploitasi anak, perdagangan narkoba, penipuan, penjualan senjata, dan perekrutan pembunuh bayaran.
Penangkapan Durov oleh otoritas Prancis juga memperuncing perdebatan global mengenai kebebasan berbicara di dunia digital. Sejumlah pihak, seperti Elon Musk, sempat berpendapat bahwa ia tidak seharusnya bertanggung jawab atas penyalahgunaan di Telegram, sementara yang lain menilai kelalaiannya dalam pengawasan membuatnya layak dihukum. (C-13)

