Wall Street Melaju, S&P 500 Tembus Rekor Tertinggi Sepanjang Masa
NEW YORK, investortrust,id – Pasar saham AS ditutup naik pada Selasa waktu AS atau Rabu (19/02/2025). Ketiga indeks utama Wall Street menguat, bahkan indeks S&P 500 mencetak rekor baru.
S&P 500 ditutup pada level tertinggi sepanjang masa setelah saham menguat menjelang penutupan perdagangan. Investor tampaknya mengabaikan hambatan perdagangan global dan inflasi.
Baca Juga
Indeks S&P 500 naik 0,24% menjadi rekor penutupan di 6.129,58, setelah menyentuh rekor intraday 6.129,63 sebelum perdagangan ditutup. Nasdaq Composite naik 0,07% menjadi 20.041,26, sementara Dow Jones Industrial Average bertambah 10 poin, atau 0,02%, untuk menyelesaikan sesi di 44.556,34.
Sektor energi menjadi sektor dengan kinerja terbaik di S&P 500, naik 1,9%, dengan Halliburton dan Valero Energy memimpin kenaikan. Saham teknologi juga mengalami kenaikan.
Namun, pelemahan sekitar 1% di sektor konsumsi dan 1,2% di layanan komunikasi membebani pasar secara lebih luas. Meta Platforms ditutup turun 2,76%.
"Secara keseluruhan, pasar masih mencoba keluar dari konsolidasi yang terjadi sejak awal Desember. Minggu ini menandai dimulainya musim laporan keuangan sektor ritel, tetapi berita dari Washington, terutama mengenai tarif, bisa terus menjadi faktor yang tidak terduga bagi pasar," urai Chris Larkin, managing director perdagangan dan investasi di E-Trade dari Morgan Stanley.
Wall Street baru saja melewati pekan yang menguntungkan bagi indeks-indeks utama. Dow naik sekitar 0,6% minggu lalu, sementara S&P 500 menguat 1,5%. Nasdaq naik 2,6%.
Sebagian besar kenaikan minggu lalu terjadi pada Kamis setelah rencana Presiden Donald Trump untuk menerapkan tarif timbal balik terhadap negara-negara yang mengenakan bea masuk atas barang-barang AS menenangkan investor yang khawatir bahwa tarifnya akan lebih ketat.
Baca Juga
Perang Dagang Memanas, Trump Tandatangani Rencana Tarif Resiprokal Besar-Besaran
Pasar saham mengalami volatilitas di awal tahun ini. Investor memperhatikan data inflasi dengan cermat, berharap inflasi terus mereda sehingga Federal Reserve tetap berada di jalur untuk menurunkan suku bunga.
"Saya pikir ada kemungkinan, meskipun kecil, bahwa Federal Reserve berbalik arah tahun depan karena inflasi menjadi isu hingga 2026," kata Steve Wyett, kepala strategi investasi di BOK Financial. Hal itu belum tercermin dalam valuasi aset saat ini. Wyett mengaku lebih optimististis, tetapi tetap menekankan agar realistis.

