Pasar Asia-Pasifik Melemah di Tengah Meredupnya Harapan Pemotongan Bunga Fed
JAKARTA, investortrust.id - Pasar Asia-Pasifik melemah pada Senin (13/1/2025), setelah laporan pekerjaan AS pada Jumat lalu mengurangi harapan investor untuk pemotongan suku bunga awal oleh Federal Reserve.
Baca Juga
Wall Street Ambles Setelah Rilis Data Tenaga Kerja AS, Dow Jones Anjlok Hampir 700 Poin
Dikutip dari CNBC, indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,9%, sementara CSI 300, indeks acuan Tiongkok daratan, terkoreksi 0,75%, setelah pada Jumat ditutup di level terendah sejak September 2024.
Tiongkok dijadwalkan merilis data perdagangan Desember pada hari ini, sementara India diperkirakan akan melaporkan angka inflasinya.
Pasar Jepang tutup karena hari libur. Indeks Kospi Korea Selatan turun 0,85%, sementara Kosdaq melemah 0,53%.
Indeks S&P/ASX 200 Australia jatuh 1,17%.
Investor di Asia terus memantau imbal hasil obligasi Tiongkok setelah bank sentral negara itu menangguhkan pembelian obligasi pemerintah pada Jumat lalu. Imbal hasil obligasi 10 tahun Tiongkok jatuh ke level terendah sepanjang masa bulan ini.
Yuan onshore Tiongkok mencapai level terendah dalam 16 bulan terhadap dolar pekan lalu, sementara yuan offshore telah melemah selama beberapa bulan sejak September lalu.
Pekan ini, Bank of Korea dijadwalkan mengadakan pertemuan pada Kamis, sementara Australia akan merilis tingkat pengangguran untuk bulan Desember di hari yang sama. Tiongkok dijadwalkan mempublikasikan data PDB kuartal keempat 2024 pada Jumat, bersamaan dengan data penjualan ritel dan output industri.
Saham-saham AS merosot pada Jumat setelah laporan pekerjaan yang kuat.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 696,75 poin, atau 1,63%, menjadi 41.938,45. Indeks S&P 500 melemah 1,54% menjadi 5.827,04, sementara Nasdaq Composite jatuh 1,63% menjadi 19.161,63. Kerugian pada Jumat tersebut mendorong ketiga indeks utama masuk ke zona merah untuk tahun 2025.
Baca Juga
Pekerjaan di AS Bertambah 256.000 pada Desember 2024, Tingkat Pengangguran Turun
Payroll AS bertambah 256.000 pada Desember, lebih tinggi dari perkiraan ekonom yang disurvei oleh Dow Jones yang memproyeksikan kenaikan sebesar 155.000. Tingkat pengangguran, yang diperkirakan tetap di 4,2%, turun menjadi 4,1% selama bulan tersebut. Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun melonjak ke level tertinggi sejak akhir 2023 setelah laporan itu.

