Myawaddy Jatuh ke Tangan Pemberontak, Rakyat Myanmar Mengungsi ke Thailand
JAKARTA, investortrust.id - Ratusan pengungsi Myanmar menyeberangi perbatasan sungai antara Myanmar dan Thailand pada hari Jumat setelah jatuhnya kota perbatasan Myawaddy yang strategis ke tangan pemberontak yang melawan junta militer Myanmar.
Beberapa masyarakat yang mengungsi mengaku takut serangan udara balasan oleh militer Myanmar akan dilakukan terhadap Myawaddy, sebuah kota berpenduduk sekitar 200.000 orang yang terletak di seberang Sungai Moei dari kota Mae Sot di Thailand.
“Itulah mengapa saya melarikan diri ke sini. Mereka tidak bisa mengebom Thailand,” kata seorang wanita, Moe Moe Thet San, warga Myawaddy yang mengantri di pos pemeriksaan perbatasan seperti dilaporkan Reuters, Jumat (12/4/2024). Dia telah melintasi perbatasan bersama putranya yang masih kecil.
Menteri Luar Negeri Thailand Parnpree Bahiddha-Nukara mengatakan pada hari yang sama bahwa pemerintahnya sedang mempersiapkan masuknya pengungsi dan dia mendesak junta Myanmar untuk mengurangi kekerasan.
Thailand juga bekerja sama dengan anggota ASEAN untuk menghidupkan kembali rencana perdamaian yang sempat terhenti di Myanmar, kata Parnpree.
“Ini adalah negara tetangga kami dan kami tidak ingin melihat kekerasan,” kata Parnpree kepada wartawan setelah kunjungannya ke Mae Sot. “Kami ingin melihat mereka berbicara satu sama lain. Mereka bisa menggunakan kami sebagai perantara jika mereka mau.”
Myawaddy direbut dari kendali militer oleh pasukan anti-junta yang dipimpin oleh kelompok pemberontak Persatuan Nasional Karen (KNU) pada hari Kamis (11/4/2024).
Thailand pun tengah mempertimbangkan rute perdagangan alternatif jika terjadi penutupan jalan perbatasan akibat pertempuran tersebut, kata Parnpree.
Baca Juga
Menlu Malaysia Temui Presiden Jokowi Bahas Konflik Myanmar hingga Palestina
Sekelompok tentara junta yang berjumlah kurang dari 200 orang yang mundur awal pekan ini dari markas mereka ke perbatasan Thailand masih berada di wilayah tersebut dan pihak berwenang Thailand sejauh ini belum menerima permintaan apa pun dari mereka untuk menyeberang, kata Parnpree.
“Mereka harus menjatuhkan senjatanya, berganti pakaian sipil sebelum kami mengizinkan mereka melintasi perbatasan,” katanya.
Kelompok tentara junta militer yang berlindung di dekat jembatan diserang oleh pesawat tak berawak yang dikerahkan oleh kelompok perlawanan pada Jumat malam, demikian media lokal melaporkan.
Keamanan di daerah tersebut diperketat setelah serangan, dengan tentara Thailand bersenjata berpatroli di tepi sungai dan menutup beberapa bagian di bawah salah satu dari dua jembatan yang menghubungkan Myawaddy.
Juru bicara Junta Zaw Min Tun mengatakan kepada media Myanmar bahwa beberapa pasukannya telah meninggalkan markas mereka. Dan negosiasi sedang berlangsung dengan Thailand.
Myanmar berada dalam kekacauan sejak tahun 2021, ketika militer yang berkuasa menggulingkan pemerintahan sipil terpilih, sehingga memicu protes yang ditangani dengan kekerasan.
Kemarahan berubah menjadi gerakan perlawanan bersenjata berskala nasional yang kini bergerak terkoordinasi dengan kelompok pemberontak etnis yang sudah mapan.
Banyak orang yang melarikan diri dari Myanmar mengantri di perbatasan pada hari Jumat di tengah keamanan yang ketat di pihak Thailand, termasuk kendaraan yang dilengkapi senapan mesin yang menghadap ke sungai Moei.
“Saya takut dengan serangan udara,” kata Moe Moe Thet San, berusia 39 tahun. “Serangan udara menimbulkan suara sangat keras yang mengguncang rumah saya.”
Jatuhnya Myawaddy telah merampas daerah dengan pendapatan yang cukup penting bagi junta militer, yang sudah bergulat dengan ekonomi yang sedang anjlok.
Militer Myanmar diprediksi masih berupaya melakukan serangan balik, didukung oleh angkatan udaranya, untuk merebut kembali kota tersebut, kata Dulyapak Preecharush, seorang profesor Kajian Asia Tenggara di Universitas Thammasat di Bangkok.
“Jadi ada pertanyaan tentang potensi intensifikasi pertempuran dalam beberapa hari mendatang,” katanya kepada Reuters.
Pada hari Kamis, Perdana Menteri Thailand Srettha Thavisin mengatakan pertempuran di Myanmar tidak boleh meluas ke wilayah udara negaranya.
Dalam sebuah wawancara dengan Reuters pekan lalu, Srettha mengatakan junta Myanmar “kehilangan kekuatan” ketika ia mendorong dilakukannya pembicaraan dengan pemerintah militer.
Thailand, yang mengaku pihaknya tetap netral dalam konflik Myanmar, dapat menerima hingga 100.000 orang pengungsi akibat konflik. Thailand pun telah berupaya menjalin hubungan, termasuk pengiriman bantuan, dengan negara tetangganya tersebut sejak Srettha berkuasa pada Agustus lalu.

