Harga Minyak Melonjak Dipicu Kekhawatiran Pasokan Rusia
NEW YORK, Investortrust.id - Harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam beberapa bulan. Para trader menilai serangan Ukraina baru-baru ini terhadap kilang-kilang Rusia akan mempengaruhi pasokan minyak bumi global.
Baca Juga
Pada Selasa (19/03/2024), minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman April naik ke level tertinggi sejak Oktober. WTI terkerek $1,03, atau 1,3%, menjadi $83,75 per barel. Patokan global, minyak mentah Brent naik 68 sen, atau 0,8%, menjadi $87,57 per barel, tertinggi sejak 3 November.
Ukraina telah meningkatkan serangan terhadap infrastruktur minyak Rusia tahun ini, dengan setidaknya tujuh kilang menjadi sasaran drone pada bulan ini. Serangan tersebut telah menghentikan 7%, atau sekitar 370.500 barel per hari, kapasitas penyulingan Rusia, menurut perhitungan Reuters.
Meskipun aktivitas penyulingan yang lebih rendah telah menyebabkan peningkatan ekspor minyak mentah Rusia, hal ini juga dapat menyebabkan pengurangan produksi minyak mentah karena negara tersebut menghadapi kendala penyimpanan, kata analis energi StoneX Alex Hodes.
Berdasarkan perhitungan Hodes, serangan terhadap kilang Rusia dapat mengakibatkan penurunan sekitar 350.000 barel per hari pasokan minyak bumi global dan meningkatkan harga minyak mentah AS sebesar $3 per barel.
Sekalipun serangan tersebut tidak mengakibatkan hilangnya pasokan minyak mentah Rusia secara langsung, masih terdapat efek limpahan pada harga minyak akibat melonjaknya margin produk olahan, tulis analis SEB Research Bjarne Schieldrop pada hari Senin.
Minyak mendapat dukungan dari penurunan ekspor minyak mentah dari Arab Saudi dan Irak, serta tanda-tanda menguatnya permintaan dan pertumbuhan ekonomi di Tiongkok dan AS.
Pembangunan rumah untuk satu keluarga di AS meningkat tajam pada bulan Februari, Departemen Perdagangan melaporkan. Pembangunan rumah dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mendukung permintaan minyak.
“Data permintaan minyak yang mengejutkan dari sisi positifnya dan perpanjangan pemotongan sukarela OPEC+ hingga akhir Juni telah mendukung harga,” kata analis UBS Giovanni Staunovo, seperti dikutip CNBC.
“Brent kemungkinan akan diperdagangkan pada kisaran $80-90 per barel tahun ini, dengan perkiraan akhir Juni sebesar $86 per barel,” kata Staunovo.
Baca Juga

