Mengapa Paus Fransiskus Tak Kunjungi Flores?
Oleh Primus Dorimulu,
Chief Executive Officer PT Investortrust Indonesia Sejahtera
INVESTORTRUST.ID — Masyarakat Flores kecewa ketika mendapatkan kepastian Paus Fransiskus dalam lawatan empat hari ke Indonesia tidak bisa mengunjungi Flores, Nusa Tenggara Timur.Mereka mungkin berpikir, dalam waktu empat hari mestinya Paus bisa menyempatkan diri ke Flores. Kekecewaan masyarakat bisa dipahami. Tapi, keterbatasan pemimpin 1,3 miliar umat Katolik dunia itu perlu pula dipahami.
Uskup Roma ke-266 itu kini berusia 88 tahun dan tidak dalam kondisi kesehatan yang baik. Akibat sejumlah penyakit, pria yang lahir 17 Desember 1936 di Buenos Aires dengan nama Jorge Mario Bergoglio itu harus berjalan dengan kursi roda. Ia belum pulih benar darı penyakit bronkitis yang menderanya sejak tahun lalu.
Pada Juni 2023, Paus juga menjalani operasi perut untuk memperbaiki hernia dan menghilangkan bekas luka yang menyakitkan. Sejak muda ia hidup dengan satu paru-paru, yang menyebabkan dirinya rentan terhadap penyakit pernafasan. Penyakit bronkitis membuat ia sulit berbicara dalam waktu lama. Pernah khotbah Kardinal Buenos Aires yang terpilih menjadi paus pada 13 Maret 2013 itu dibacakan oleh orang lain.
Namun, sejak beberapa bulan lalu, ia sudah bisa berkhotbah. Di sebuah paroki di Roma beberapa bulan lalu, Paus bisa menyampaikan sendiri pidatonya. Seperti dilaporkan Reuters, tidak ada tanda-tanda kelelahan akibat serangan bronkitis. Tapi, Paus masih di atas kursi roda. Ia belum bisa berjalan sendiri. Dengan keterbatasan ini, ia mengunjungi Indonesia untuk memenuhi berbagai harapan umat.
| Paus Fransiskus (kanan) masih menggunakan kursi roda karena kesehatannya belum sepenuhnya pulih. Meski belum bisa berjalan sendiri, dengan keterbatasan ini, ia mengunjungi Indonesia untuk memenuhi berbagai harapan umat. Foto: istimewa. |
Jadwal Paus cukup padat. Setibanya di Indonesia, 3 September 2024, Paus dijadwalkan bertemu Presiden Joko Widodo. Para hari berikutnya, 4 September, Paus mengunjungi Gereja Katedral dan berdiskusi dengan para pemimpin Gereja Katolik di Indonesia. Hari ketiga, 5 September, acaranya cukup padat. Paus dijadwalkan mengunjungi Masjid Istiglal dan bertemu para pemuka tokoh lintas agama. Pada sore hari, Paus memimpin Misa di Stadiun Gelora Bung Karno (GBK) Senayan.
Misa di GBK akan dısiarkan TV nasional dan internasional. Sekitar 1,3 miliar umat Katolik yang tinggal di berbagai belahan bumi bisa menyaksikan langsung lewat saluran televisi dan platform digital. Stadiun GBK --berkapasitas 110.000 orang-- akan dipadati umat.
Membawa Berkat bagi Indonesia
Kunjungan Paus merupakan kehormatan bagi bangsa Indonesia dan kebanggaan umat Katolik. Selain itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai tuan rumah akan memanfaatkan kedatangan Paus untuk membetot perhatian dunia terhadap Indonesia. Pertama, 8,5 juta umat Katolik di Indonesia selama ini bisa menjalankan ibadah dengan leluasa, meski ada sejumlah insiden. Ada toleransı dalam kehidupan beragama. Umumnya, umat beragama di Indonesia hidup berdampingan damai.
Kedua, Indonesia dengan berbagai kekayaan alam dan budaya akan semakin dikenal dunia. Selama beberapa hari, sebagian penduduk dunia akan melihat Indonesia dan berbicara tentang Indonesia. Luar biasa. Kunjungan Paus membawa berkat bagi Indonesia.
Paus meninggalkan Indonesia, Jumat, 6 September 2024 menuju Port Moresby, Papua New Guinea dengan pesawat Garuda. Selanjutnya, Paus mengunjungi Dili, Timor Leste dan ke Singapura. Dalam kondisi fisik yang kurang sehat, Paus harus menjalani rangkaian acara yang cukup panjang.
Kunjungan terakhir Paus ke Indonesia terjadi pada 8-12 Oktober 1989. Saat itu, Paus Yohanes Paulus II tidak hanya mengunjungiJakarta, tapi juga Yogyakarta, Maumere, Medan, dan Dili.
Baca Juga
Paus Fransiskus Akan Bertemu dengan Ratusan Tokoh Lintas Agama di Masjid Istiqlal
Dalam memoar “Pope Francis, Life: My Story Through History” yang dirilis awal tahun 2024, Paus menceritakan kesehatannya, soal rawat inap di rumah sakit dan perawatan medis. Dijelaskan bahwa karena kesehatannya yang menurun, banyak orang berspekulasi tentang konklaf dan Paus baru. “Itu manusiawi. Tidak ada yang mengejutkan mengenai hal itu," tulisnya.
Paus memiliki jadwal yang padat selama satu dekade terakhir. Ia melakukan perjalanan ke lebih dari 60 negara. Ia juga berencana mengunjungi Amerika Serikat untuk berbicara di PBB.
Perhatian terhadap Flores
Kunjungan empat hari Paus ke Indonesia yang hanya terkonsentrasi di Jakarta sama sekali bukan pratanda pengganti St Petrus itu tidak memperhatikan Flores, pulau dengan mayoritas penduduk bergama Katolik. Pada tahun 2023, penduduk NTT beragama Katolik sebanyak 2,98 juta. Sekitar 35% umat Katolik Indonesia berdiam di NTT. Dari jumlah itu, sekitar 2,2 juta atau 75% berada di Flores.
Setidaknya, ada dua hal yang menunjukkan besarnya perhatian Paus terhadap Flores. Pertama, Paus Fransiskus telah menunjuk Pater Paulus Budi Kleden SVD sebagai Uskup Agung untuk Keuskupan Agung Ende (KAE), menggantikan Mgr Vinsentius Sensi Potokota Pr yang wafat 19 November 2023. Dengan keepercayaan baru ini, Budi harus meninggalkan jabatan sebagai Superior Jenderal Societas Verbi Divini (SVD) dunia.
Kedua, Paus baru saja menunjuk Pater Maksimus Regus sebagai Uskup Perdana Keuskupan Labuan Bajo, Manggarai Barat. Terbagi atas tiga kabupaten --Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur--, Manggarai adalah wilayah terluas di Flores. Selama ini, Keuskupan Manggarai meliputi tiga kabupaten tersebut.
Sejak Juli 2007, Pater Markus Solo Kewuta SVD resmi bergabung dengan Dewan Kepausan dan menangani Desk Dialog Katolik-Islam di Asia dan Pasifik. Pater Markus adalah orang Indonesia pertama di Kuria Tahta Suci Vatikan. Ia juga dipercayakan sebagai Wakil Presiden Yayasan Nostra Aetate, yang bertugas untuk memajukan Pendidikan Perdamaian dan Pembentukan Duta-duta Perdamaian dari berbagai agama non-Kristen.
Baca Juga
Menyambut Kedatangan Paus Fransiskus: Momentum Kebangkitan Umat Katolik Indonesia
Kekecewaan umat Katolik di Flores bisa dimengerti. Tapi, keterbatasan Paus dan kebijakan pemerintah dalam mengatur acara kunjungan Paus perlu pula dimengerti.
Melihat dari dekat Paus memberikan kesan tersendiri. Tapi, yang jauh lebih penting adalah kesediaan umat untuk mengikuti teladan Yesus sebagaimana ditunjukkan Paus. Dalam bukunya, “Pope Francis, Life My Story Through History”, ia mengingatkan umat untuk tidak melupakan sejarah masalah lalu. Pengalaman pahit dan tragedi kemanusiaan masa lalu mengingatkan kita semua untuk lebih mencintai sesama, selalu bergembira, memaafkan dengan tulus, serta memperhatikan sesama yang miskin, terpinggirkan, dan tıdak diperlakukan dengan adil. ***

