Harga Minyak Jatuh setelah Capai Level Tertinggi Tujuh Pekan
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak turun pada hari Rabu (19/06/2024) setelah mencapai level tertinggi dalam tujuh minggu. Optimisme permintaan di musim panas dan kekhawatiran atas meningkatnya konflik mengimbangi laporan industri yang mengatakan persediaan minyak mentah AS meningkat secara tak terduga.
Baca Juga
Harga Minyak Menguat Dipicu Potensi Babak Baru Konflik Israel - Hizbullah
Minyak mentah berjangka Brent turun 6 sen, atau 0,1%, menjadi $85,33 per barel pada pukul 18.03 GMT, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 8 sen, atau 0,1%, menjadi $81,57 per barel.
Brent mencapai $85,84 per barel di awal sesi, tertinggi sejak 1 Mei, sementara WTI diperdagangkan hingga $81,96 per barel, level tertinggi sejak 30 April.
Aktivitas perdagangan sepi karena hari libur federal AS.
“Kondisi saat ini memberikan gambaran yang mengecewakan tetapi ada tanda-tanda positif yang menunjukkan prospek yang lebih optimis,” kata Tamas Varga dari pialang minyak PVM, seperti dikutip CNBC.
Menurut Varga, harga Brent yang berada di angka $8 di atas harga terendah pada awal Juni menunjukkan optimisme bahwa keseimbangan minyak global pada akhirnya akan mengetat.
Kedua harga minyak acuan tersebut, yang telah pulih dengan kuat dalam dua minggu terakhir, naik lebih dari $1 pada sesi sebelumnya setelah serangan drone Ukraina menyebabkan kebakaran terminal minyak di pelabuhan utama Rusia.
Di Timur Tengah, Menteri Luar Negeri Israel Israel Katz memperingatkan kemungkinan “perang habis-habisan” dengan Hizbullah Lebanon, bahkan ketika AS berupaya menghindari konflik yang lebih luas antara Israel dan kelompok yang didukung Iran.
Perang yang meningkat berisiko mengganggu pasokan di wilayah penghasil minyak tersebut.
“Potensi peningkatan ketegangan di Timur Tengah menambah risiko pasokan terhadap permintaan minyak,” kata Bart Melek, kepala strategi komoditas di TD Bank, seraya menambahkan bahwa data ekonomi AS baru-baru ini mendukung spekulasi bahwa Federal Reserve akan bergerak menuju penurunan suku bunga. dalam beberapa bulan mendatang.
Data Tiongkok minggu ini menunjukkan output industri bulan Mei tertinggal dari ekspektasi, namun penjualan ritel, yang merupakan ukuran konsumsi, menandai pertumbuhan tercepat sejak bulan Februari.
Sementara itu, stok minyak mentah AS naik 2,264 juta barel dalam pekan yang berakhir 14 Juni, sumber pasar mengatakan pada hari Selasa, mengutip angka dari American Petroleum Institute. Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan penurunan stok minyak mentah sebesar 2,2 juta barel.
Namun, persediaan bensin turun 1,077 juta barel, sementara persediaan sulingan naik 538.000 barel, kata sumber yang tidak mau disebutkan namanya.
Data stok resmi dari Badan Informasi Energi AS akan dirilis pada hari Kamis.
Baca Juga

