Wall Street Tertekan Data Manufaktur AS, Dow Jones Merosot 100 Poin
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham Amerika Serikat (AS) Senin waktu AS atau Selasa (4/06/2024) ditutup bervariasi. Wall Street tampak tertekan data manufaktur AS yang lemah. Nasdaq menguat, S&P 500 naik tipis, ssedangkan Dow Jones merosot lebih dari 100 poin.
Indeks Dow Jones Industrial Average memulai perdagangan bulan Juni dengan penurunan setelah data manufaktur AS yang lemah menimbulkan kekhawatiran terhadap kekuatan perekonomian. Perbankan, sektor industri dan saham-saham lain yang bergantung pada pertumbuhan ekonomi memimpin penurunan ini.
Baca Juga
Tak Sesuai Ekspektasi, Indeks Manufaktur AS Mei Turun Jadi 48,7
Indeks Dow tergelincir 115,29 poin, atau 0,30% menjadi ditutup pada 38,571.03. S&P 500 naik tipis 0,11% untuk menyelesaikan sesi di 5.283,40, sedangkan Nasdaq Composite bertambah 0,56% menjadi 16.828,67.
Saham-saham siklis yang nasibnya terkait erat dengan pertumbuhan ekonomi melemah, dengan sektor energi, industri, dan material ditutup di zona merah. Sebelumnya, sektor manufaktur AS menunjukkan tanda-tanda perlambatan, dengan indeks manufaktur ISM sebesar 48,7 pada bulan Mei, menyebabkan imbal hasil Treasury dan dolar melemah. Angka di bawah 50 merupakan indikasi kontraksi.
Pada hari Senin, Nvidia naik hampir 5% setelah mengumumkan rangkaian chip kecerdasan buatan baru, sebuah tanda bahwa Nvidia siap berjuang untuk tetap menjadi yang terdepan dalam ruang yang sangat kompetitif. Pembuat chip tersebut mengatakan akan meningkatkan arsitektur chip AI-nya setiap tahun.
Wall Street mengalami penguatan di bulan Mei, dengan rata-rata ketiga indeks utama mencatatkan positif keenam dalam tujuh bulan terakhir. Nasdaq naik 6,9% di bulan Mei, bulan terbaik sejak November 2023.
Namun, reli tersebut tampaknya mulai melemah menjelang akhir bulan. Ketiga rata-rata tersebut semuanya ditutup pada bulan Mei lebih dari 1% di bawah rekor tertingginya, bahkan dengan Dow menambahkan lebih dari 500 poin pada hari Jumat. Nasdaq turun 1,1% minggu lalu karena saham-saham chip anjlok.
“Dengan kondisi teknis yang masih terbatas, sedikit ketakutan yang muncul, kami tetap berpegang pada seruan agar volatilitas meningkat selama musim panas,” demikian catatan kepala strategi investasi Wolfe Research, Chris Senyek, seperti dikutip CNBC.
Minggu pertama bulan Juni penuh dengan pembaruan ekonomi lebih lanjut. Investor menunggu data penggajian swasta pada hari Rabu dari ADP diikuti oleh laporan pekerjaan bulan Mei pada hari Jumat. Investor nampaknya menginginkan perlambatan ekonomi yang akan memberikan lampu hijau kepada Federal Reserve untuk memangkas suku bunga, namun tidak terlalu memperlambat perekonomian yang akan menimbulkan kekhawatiran resesi.
Baca Juga

