China Serukan Penolakan ‘Proteksionisme’ dalam KTT Trilateral dengan Jepang dan Korsel
JAKARTA, investortrust.id - Tiongkok pada hari Senin (27/05/2024) mendesak Jepang dan Korea Selatan untuk menolak “proteksionisme” dan menjunjung perdagangan bebas ketika para pemimpin negara-negara tersebut bertemu dalam pertemuan puncak trilateral di Seoul.
Baca Juga
Resmi, Biden Naikkan Tarif Impor Jadi 100% untuk EV Buatan China
Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang mengatakan dia menentang menjadikan masalah ekonomi dan perdagangan menjadi “permainan politik atau masalah keamanan,” saat dia bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida dan Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol.
Li mengatakan, ketiga negara harus melihat satu sama lain sebagai “mitra dan peluang untuk pembangunan,” lapor Xinhua.
Ini adalah pertemuan puncak trilateral yang kesembilan antara Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan, namun yang pertama dalam empat tahun terakhir ketika mereka berupaya untuk memperkuat kembali hubungan ekonomi dan keamanan.
Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan setelah KTT, ketiga pemimpin sepakat untuk “melembagakan” kerja sama tiga arah dengan secara rutin mengadakan KTT trilateral dan pertemuan tingkat menteri.
Mereka juga sepakat untuk melanjutkan pembicaraan guna “mempercepat negosiasi” untuk perjanjian perdagangan bebas yang bertujuan agar menjadi “adil, komprehensif, berkualitas tinggi, dan saling menguntungkan.”
KTT ini dinilai penting untuk menstabilkan hubungan antara ketiga negara. “Meskipun hal tersebut tidak diwujudkan dalam suatu inisiatif konkrit,” kata Stephen Nagy, seorang profesor di Universitas Kristen Internasional di Tokyo.
Tiongkok ingin menarik Korea Selatan dan Jepang agar menjauh dari inisiatif yang diajukan Amerika Serikat, katanya dalam acara “Capital Connection” CNBC.
“Di bawah kepemimpinan Presiden Biden, terdapat keberhasilan luar biasa dalam menyatukan Seoul, Tokyo, dan Washington melalui prinsip-prinsip Camp David,” katanya. Ia menambahkan bahwa Tiongkok mewaspadai kerja sama ini dan ingin menciptakan “irisan” antara AS, Korea Selatan, dan - Jepang.
KTT ini diadakan pada saat keamanan regional siaga, di tengah ancaman nuklir dan rudal dari Korea Utara. Menjelang KTT, Pyongyang mengumumkan rencana peluncuran roket.
Ketiga negara bersama-sama menyerukan denuklirisasi Semenanjung Korea dan berjanji “melakukan upaya positif untuk penyelesaian politik.”
Menurut Nagy, baik Jepang maupun Korea Selatan menyadari bahwa Tiongkok memiliki pengaruh ‘yang sangat kecil’ terhadap Korea Utara’.
“J,ika ada kerja sama dalam membendung proliferasi senjata dari Korea Utara, hal itu tidak akan datang dari kerja sama khusus dari Tiongkok, namun dari kerja sama satu sama lain dan dengan Amerika Serikat,” tambahnya.
Di bidang ekonomi, negara-negara tersebut sepakat untuk memastikan adanya persaingan global yang transparan dalam perdagangan dan investasi.
“Kami berbagi kebutuhan untuk melanjutkan komunikasi di bidang pengendalian ekspor,” kata mereka dalam pernyataan itu.
Menjelang KTT, Li mengadakan pembicaraan bilateral dengan para pemimpin Korea Selatan dan Jepang. Dia juga meminta kedua negara untuk menjaga rantai pasokan tanpa hambatan dan menjaga sistem perdagangan bebas global.
Kishida dari Jepang mengatakan dia menyatakan “keprihatinan serius” kepada Li dalam pembicaraan mereka akhir pekan lalu mengenai isu-isu seperti situasi di Laut Cina Selatan.
Dia juga menyatakan bahwa Jepang memantau dengan cermat perkembangan relevan di Taiwan, termasuk aktivitas militer Tiongkok di dekat pulau tersebut. Perdana Menteri Jepang menggarisbawahi bahwa perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan sangat penting bagi komunitas internasional, termasuk Jepang.
Baca Juga

