Bahas Pembentukan FTAAP di APEC Peru, RI Soroti Keselarasan dan Pendekatan Ekonomi
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia menyampaikan pentingnya aspek fleksibilitas, pendekatan yang berimbang, dan upaya kerja sama di Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) dalam pembahasan pembentukan Free Trade Area of the Asia-Pacific (FTAAP).
Indonesia menekankan, upaya mengatasi perbedaan masing-masing ekonomi menjadi hal utama jika ingin pembentukan FTAAP menjadi kenyataan. Hal ini disampaikan Direktur Perundingan Antar Kawasan dan Organisasi Internasional Kemendag Reza Pahlevi Chairul
Hal tersebut disampaikan saat memimpin Delegasi Indonesia pada Dialog ke-2 terkait FTAAP dalam Pertemuan Kedua Komite Perdagangan dan Investasi (Committee on Trade and Investment 2, atau CTI2).
“Kami menekankan pentingnya kerja sama dalam mengatasi berbagai perbedaan di antara Ekonomi APEC, terlebih mengingat perbedaan prioritas dan tingkat pembangunan,” ucap Reza dalam keterangan tertulisnya, Kamis (16/5/2024).
Reza menjelaskan, wacana pembentukan FTAAP pertama kali diajukan perwakilan pelaku usaha APEC (APEC Business Advisory Council/ABAC) pada 2004 saat keketuaan Chile. Visi ini kemudian ditindaklanjuti untuk dikaji melalui mandat Para Pemimpin APEC pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC 2006 di Vietnam.
Baca Juga
Di tengah polarisasi dan fragmentasi ekonomi global saat ini, Ekonomi APEC sedang menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibandingkan saat pertama kali wacana pembentukan FTAAP diangkat. Untuk itu, Peru selaku tuan rumah menginisiasi rangkaian dialog mengenai FTAAP dalam pertemuan CTI sepanjang 2024.
Pada dialog ke-2 kali ini, Ekonomi APEC bertukar pandangan mengenai strategi untuk memajukan agenda FTAAP. Tukar pandangan ini termasuk juga mengenai usulan pembahasan isu-isu baru pada sistem perdagangan internasional yang dinamis dan kontribusinya pada kawasan regional yang berstandar tinggi dan komprehensif.
“Dengan prinsip kesepakatan yang berbasis konsensus dan tidak mengikat, APEC telah menjadi tempat yang ideal untuk menyalurkan dan mengembangkan berbagai ide inovatif,” terangnya.
Selain program peningkatan kapasitas dan mekanisme pertukaran informasi, Reza pun menyebutkan bahwa para Ekonomi APEC juga sedang mempertimbangkan berbagai gagasan untuk memajukan agenda FTAAP.
“Termasuk pembahasan isu-isu perdagangan dan investasi masa depan. Dalam konteks ini, kami menegaskan pentingnya menyelaraskan pembahasan isu-isu baru secara seimbang,” tandas Reza.
Diketahui pada 2023, total ekspor perdagangan Indonesia ke kawasan APEC mencapai US$ 188,72 miliar. Surplus nilai perdagangan Indonesia–APEC pada 2023 mencapai US$ 18,83 miliar. Para anggota Ekonomi APEC menjadi tujuan dari sekitar 73 % ekspor Indonesia 2023.

