Mobil EV-nya Keok dari China, Biden Naikkan Tarif Impor Produk Asal China
JAKARTA, Investortrust.id - Presiden AS Joe Biden akan mengumumkan tarif impor baru terhadap China, yang salah satunya adalah tarif impor kendaraan listrik. Dilaporkan Wallstreet Journal, Sabtu (11/5/2024), penerapan tarif impor baru terhadap negeri Tirai Bambu ini disebut-sebut akan diterapkan pekan depan.
Masih menurut Wallstreet Journal yang dikutip Thenationalnews.com, pungutan terhadap kendaraan listrik asal China bakal meningkat empat kali lipat jika aturan tarif baru ini diterapkan.
Pejabat perdagangan AS yang dikutip memproyeksikan akan terjadi kenaikan tarif impor sebesar 100%, diikuti tambahan bea masuk sebesar 2,5% yang sejatinya berlaku untuk semua kendaraan yang diimpor ke AS.
Keputusan ini merupakan puncak dari peninjauan kembali tarif Pasal 301 (Section 301 Tariff) yang pertama kali diberlakukan pada tahun 2018 di bawah pemerintahan mantan presiden Donald Trump terhadap barang-barang dari China senilai sekitar US$ 300 miliar.
Section 301 Tariff merupakan bagian dari undang-undang perdagangan Amerika Serikat yang memungkinkan Pemerintah AS untuk menegosiasikan, memberlakukan, dan menanggapi praktik perdagangan yang tidak adil atau diskriminatif dari negara lain. Pasal ini memberikan otoritas kepada Pemerintah AS, khususnya kantor United States Trade Representative (USTR), untuk menyelidiki dugaan pelanggaran hak kekayaan intelektual (HKI), praktik perdagangan yang tidak adil, atau tindakan lain yang merugikan kepentingan perdagangan AS.
Pemerintahan Biden diperkirakan akan menargetkan sektor-sektor industri China seperti kendaraan listrik, semikonduktor, baterai, dan sel surya untuk dikenakan tarif baru. Keputusan tersebut merupakan kelanjutan dari seruan Biden bulan lalu untuk menaikkan tarif baja dan aluminium asal China. Padahal, China saat ini hanya mengekspor produk logam tersebut dalam jumlah yang tidak signifikan.
Kebijakan kenaikan tarif impor ini diduga merupakan bagian dari langkah Amerika Serikat untuk menyelamatkan manufaktur kendaraan listriknya, dari serbuan produk asal China yang jauh lebih murah.
BYD sebagai pabrikan kendaraan listrik asal China baru-baru ini diberitakan menyalip Tesla sebagai produsen nomor satu di dunia. Dari sisi penjualan global, BYD juga disebut-sebut telah menjadi pemimpin global, meninggalkan Amerika Serikat.
AS punya dua kekhawatiran utama, pertama adalah langkah Beijing yang secara diam-diam mensubsidi kendaraan listriknya dengan tujuan memenangkan persaingan. Strategi ini oleh para pemimpin Eropa dan AS telah memicu membanjirnya ekspor mobil listrik murah.
Tak Cuma AS, Uni Eropa juga meluncurkan penyelidikan subsidi kendaraan listrik China pada bulan Oktober 2023 lalu, yang menyebabkan pengenaan tarif impor tambahan.
Klaim berikutnya yang menjadi kekhawatiran pasar AS dan Eropa adalah, disematkannya kamera dan perangkat pengumpulan data di mobil produksi BYD dan koleganya, yang membuka potensi upaya spionase. AS berpendapat bahwa informasi mengenai infrastruktur penting dan militer di AS akan dikirimkan secara real-time ke produsen dari mobil yang berkeliaran di jalan.
Dalam kesempatan berbeda, Kementerian Luar Negeri China menyampaikan bahwa penerapan tarif impor baru oleh pemerintahan AS akan “sangat mengganggu” pertukaran ekonomi dan perdagangan antara kedua negara. Mereka meminta Washington untuk membatalkan tarif baru tersebut, seraya mengatakan bahwa China akan mengambil langkah-langkah untuk membela hak dan kepentingannya.
“Alih-alih memperbaiki praktik yang salah, Amerika Serikat malah terus mempolitisasi masalah ekonomi dan perdagangan,” kata Lin Jian, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China pada briefing rutin di hadapan media pada hari Jumat (10/5/2024).
Dalam pernyataannya bulan lalu, Biden menyebut bahwa AS menentang “praktik ekonomi tidak adil dan kelebihan kapasitas industri” yang dilakukan Beijing.“Saya tidak ingin bertengkar dengan China. Saya mencari persaingan, tetapi persaingan yang sehat.”
Berbeda dengan Biden, kandidat calon presiden dari Partai Republik, Donald Trump malah menjanjikan penerapan tarif sebesar 60% lebih tinggi untuk semua barang asal China.
Trump mengatakan bahwa industri otomotif Amerika akan “berdarah-darah darah” jika dia kalah pada Pilpres Amerika Serikat yang akan digelar bulan November 2024. Trump juga berjanji akan menerapkan tarif impor yang ketat pada kendaraan buatan China yang masuk ke Amerika.
Kekhawatiran bakal tergusurnya manufaktur mobil EV Amerika Serikat oleh hasil produksi China juga sempat dikemukakan CEO Tesla Elon Musk. Dalam laporan pendapatan perusahaan pada bulan Januari lalu ia menyebut, jika tidak ada penerapan hambatan perdagangan, manufaktur EV China menurutnya akan “menghancurkan sebagian besar perusahaan mobil lain di dunia”.

