Indikasi The Fed Pangkas Suku Bunga, Harga Minyak Lanjutkan Peningkatan
JAKARTA, Investortrust.id – Harga minyak mentah melanjutkan tren penguatan di hari ketiga, dan diperdagangkan pada level tertinggi dalam satu pekan menyusul data lapangan kerja AS yang mendukung potensi penurunan suku bunga Federal Reserve tahun ini. Penurunan suku bunga dibaca oleh pasar sebagai potensi peningkatan belanja hingga kenaikan harga sejumlah aset-aset berisiko termasuk minyak mentah.
Pada pembukaan perdagangan hari Jumat (10/5/2024) harga minyak mentah WTI dibuka menguat 0,6% di posisi US$79,76 per barel, begitu juga dengan harga minyak mentah brent dibuka lebih tinggi atau naik 0,5% di posisi US$84,33 per barel.
Berikutnya harga Brent melonjak di atas U$ 84 per barel setelah kenaikan dua hari, atau sekitar 1%, rebound dari rata-rata pergerakan 100 hari. Minyak West Texas Intermediate mendekati angka US$ 80 per barel. Naiknya permintaan tunjangan pengangguran di AS mencapai level tertinggi sejak bulan Agustus, sehingga diperkirakan akan mendorong penerapan kebijakan moneter yang lebih longgar. Dolar sendiri tergelincir pada hari Kamis, membuat komoditas menjadi lebih menarik.
Baca Juga
Kenaikan harga ini seperti menutupi sepinya transaksi dan kontrak berjangka sejak bulan Maret. Harga memang masih lebih tinggi tahun ini dibanding tahun sebelumnya, ditopang pengurangan pasokan oleh negara-negara anggota OPEC+, dan permintaan global yang kuat, hingga pengaruh eskalasi yang berulang di Timur Tengah. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya akan bertemu bulan depan untuk memutuskan besaran produksi pada paruh kedua tahun ini.
“Pasar minyak mentah akan tetap bergantung pada kebijakan pasokan OPEC,” kata analis ANZ Banking Group Ltd, Daniel Hynes dan Soni Kumari dalam sebuah catatan. “Pembatasan yang sedang berlangsung seharusnya mendukung harga, namun pasar rentan terhadap masalah geopolitik,” ujarnya dikutip Reuters, Jumat (10/5/2024).
Di Timur Tengah, Israel mengatakan akan terus melanjutkan perjuangannya melawan Hamas di Jalur Gaza bahkan tanpa bantuan dari AS. Sementara Presiden Joe Biden mengatakan AS akan menghentikan pengiriman senjata ke Israel jika negara tersebut melancarkan invasi darat ke Rafah.

