Beragam Sentimen Warnai Pergerakan Harga Minyak, Apa Saja?
NEW YORK, Investortrust.id - Minyak mentah berjangka ditransaksikan beragam pada perdagangan hari Rabu (28/02/2024).
Baca Juga
Berbagai sentimen mewarnai pergerakan harga. Antara lain, persediaan minyak mentah AS yang meningkat dan OPEC+ yang sedang mempertimbangkan untuk memperpanjang pengurangan produksinya hingga kuartal kedua.
Dikutip dari CNBC, kontrak West Texas Intermediate untuk bulan April turun 33 sen, atau 0,42% menjadi $78,54 per barel. Brent berjangka bulan April naik 3 sen, atau 0,04%, menjadi $83,68 per barel.
Stok minyak mentah komersial AS naik 4,2 juta barel pada minggu lalu, menurut EIA (Energy Information Administration). Peningkatan persediaan yang dicatat oleh pemerintah federal lebih rendah dari lonjakan 8,4 juta barel yang dilaporkan oleh American Petroleum Institute.
Persediaan minyak di AS meningkat karena laju kilang yang memproses minyak mentah menjadi produk jadi menurun dalam beberapa pekan terakhir.
Minyak mentah AS dan patokan global bersiap untuk naik 6,3% pada bulan ini. Kontrak berjangka bulan pertama diperdagangkan dengan harga premium hingga bulan-bulan berikutnya. Premi untuk pengiriman segera dibandingkan pengiriman selanjutnya biasanya merupakan tanda pengetatan pasar minyak mentah.
OPEC+ sedang mempertimbangkan untuk memperpanjang pengurangan produksi sukarela hingga kuartal kedua, kata sumber kepada Reuters. Kartel dan sekutunya pada November lalu sepakat untuk memangkas 2,2 juta barel per hari pada kuartal pertama.
Pemotongan produksi OPEC diperkirakan akan membatasi risiko penurunan harga minyak mentah, sementara kapasitas cadangan yang ditahan oleh kartel akan membatasi risiko kenaikan, sehingga secara efektif menjaga Brent dalam kisaran $70 hingga $90, menurut catatan penelitian dari Goldman Sachs yang diterbitkan minggu ini.
Harga minyak mentah bulan ini juga mendapat dukungan dari konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah dengan meningkatnya ketegangan di perbatasan Israel-Lebanon dan militan Houthi yang melanjutkan serangan mereka terhadap pelayaran komersial di Laut Merah.
Namun Goldman memandang premi risiko geopolitik pada harga minyak tidak terlalu besar dan produksi minyak mentah tidak terpengaruh oleh konflik yang terjadi saat ini.
Baca Juga
Terimbas Sanksi Rusia dan Gangguan Pengiriman, Harga Minyak Melonjak Lebih dari 1%

