Blinken Tak Sepakat Soal Gencatan Senjata di Gaza
JAKARTA, Investortrust.id - Mengemuka perbedaan pendapat antara para pemimpinnegara-negara Arab dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken dalam konferensi pers terkait gencatan senjata segera yang harus diterapkan di Gaza. Usulan gencatan senjata ditolak Antony Blinken sebagai tindakan yang kontraproduktif.
Blinken, dalam kunjungan keduanya ke Timur Tengah sejak dimulainya perang, berdiri di samping koleganya dari Yordania dan Mesir berbicara di depan media. Blinken sebelumnya telah bertemu dengan para pejabat Mesir, Yordania, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, hingga pejabat Palestina sepanjang Sabtu sore (4/11/2023). Pertemuan tersebut diadakan untuk merumuskan cara melindungi warga sipil di Gaza dan, meningkatkan aliran bantuan ke wilayah yang terkepung di saat Israel terus melakukan serangan udara.
Para pemimpin Arab, yang menyesalkan terjadinya kematian warga sipil di Palestina dalam perang antara Israel dan Hamas, mendesak Blinken untuk membujuk Israel menyetujui gencatan senjata. Namun, Blinken tidak sependapat, dan menyebutnya bahwa tindakan itu hanya akan menguntungkan kelompok militan Hamas untuk berkumpul kembali dan melancarkan serangan kembali.
Baca Juga
Australia Peringatkan, Israel Akan Hadapi Risiko Besar Jika Konflik Gaza Meluas
Paa menteri luar negeri negara-negara Arab berulang kali menyerukan agar pertempuran segera dihentikan dan mengutuk taktik perang Israel. "Kami tidak dapat menerima justifikasi hak bela diri, itu hukuman kolektif terhadap rakyat Palestina di Gaza," kata Sameh Shoukry Menteri Luar Negeri Mesir seperti dilansir theweek.in, Minggu (5/11/2023). "Ini sama sekali tidak bisa dianggap sebagai bela diri yang sah."
"Perang ini hanya akan menimbulkan lebih banyak penderitaan bagi rakyat Palestina dan Israel, dan hal ini akan mendorong kita semua ke dalam jurang kebencian dan dehumanisasi," ujar Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi dalam konferensi pers bersama dengan Blinken. "Maka, perlu dihentikan."
Namun, Blinken menjawab: "Menurut pandangan kami saat ini, gencatan senjata hanya akan membuat Hamas tetap bertahan, mampu berkumpul kembali dan mengulangi apa yang telah mereka lakukan."
Baca Juga
Korban Konflik Israel-Hamas Capai 10 Ribu Lebih, IDF Serang Ambulans di Gaza
Dia mengatakan AS mendukung “jeda kemanusiaan” dalam operasi serangan yang dilakukan Israel, tanpa merinci lebih lanjut apa yang ia sebut jeda kemanusiaan tersebut. Laporan sebelumnya menunjukkan bahwa Blinken berusaha membujuk pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menerima jeda lokal, tetapi sia-sia.
Di lain kesempatan ketika ditanya wartawan tentang “kemajuan apa yang telah dicapai dalam jeda kemanusiaan”, Presiden AS Joe Biden menjawab “Ya” dan berikutnya mengacungkan jempol.
Di sisi lain para pemimpin negara Arab juga menolak mendorong agenda utama diskusi yang diajukan Blinken soal Gaza pascaperang, dengan alasan terlalu dini untuk membahasnya. “Menghentikan pembunuhan dan memulihkan bantuan kemanusiaan adalah hal yang mendesak dan harus ditangani terlebih dahulu,” kata mereka.
“Apa yang terjadi selanjutnya? Bagaimana kita bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya?” kata Ayman al-Safadi Wakil Perdana Menteri Yordania. "Kita perlu meluruskan prioritas kita."
Baca Juga
Jokowi Melepas Bantuan Kemanusiaan untuk Warga Palestina di Gaza
Meskipun ada perbedaan pendapat, Blinken mengakui kekhawatiran negara-negara Arab mengenai jatuhnya korban sipil di Gaza. Dia juga menggarisbawahi risiko perang terhadap kedudukan Israel di negara-negara tetangga yang telah memiliki hubungan diplomatik selama beberapa dekade.
Shoukry dan al-Safadi menyampaikan bahwa mereka setuju untuk terus bekerja sama dengan Blinken dan pihak lainnya untukmengakhiri perang.
Blinken juga menyoroti meningkatnya kekerasan di Tepi Barat terhadap warga sipil Palestina. “Ini merupakan masalah serius yang semakin memburuk sejak konflik tersebut,” kata Blinken seraya menyebut bahwa ia telah membicarakan persoalan tersebut pada hari Jumat dalam pertemuannya dengan para pejabat Israel. “Pelakunya harus bertanggung jawab,” kata Blinken.
Para Pejabat tinggi AS akan terbang ke Turki pada hari Minggu (5/11/2023) dan diperkirakan tiba di Ankara pada hari Minggu malam untuk bertemu dengan para pejabat senior Turki pada hari berikutnya.
Sementara itu, kantor berita Palestina WAFA mengklaim bahwa 51 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam pemboman Israel terhadap kamp Maghazi di Gaza pada Sabtu malam.
Juru bicara Kementerian Kesehatan dari sisi Hamas di Gaza, Ashraf al-Qidra mengatakan sejumlah besar orang terbunuh tanpa memberikan angka pastinya. Kamp tersebut terletak di wilayah Deir al-Balah di Jalur Gaza tengah.

