AS: Rusia Susun Pasukan Lebih Cepat dan Bertambah 15% di Garis Depan
JAKARTA, investortrust.id - Rusia dilaporkan menyusun kembali pasukannya jauh lebih cepat dari perkiraan awal, demikian disampaikan Jenderal Angkatan Darat AS Christopher Cavoli, Panglima Tertinggi Sekutu NATO di Eropa, dalam sebuah pernyataan pada 10 April lalu.
Intelijen AS melaporkan, Angkatan Bersenjata Rusia telah kekurangan pasukannya dalam jumlah besar akibat jatuhnya korban jiwa dalam perang di Ukraina, namun kampanye untuk merekrut sukarelawan berjalan sangat baik dan lebih dari sekadar menutupi kekurangan di medan perang yang dialami Moskow. Cavoli memperkirakan tentara Rusia telah bertambah dari sekitar 1 juta orang pada awal perang, yang 300.000 orang di antaranya bertugas di garis depan.
Komandan tertinggi militer Amerika di Eropa ini mengatakan kepada Komite Angkatan Bersenjata DPR AS dalam sidang pada tanggal 10 April, bahwa tentara Rusia “sebenarnya bertambah lebih besar hingga 15%” dibandingkan ketika mereka menginvasi Ukraina pada tanggal 24 Februari 2022.
“Selama setahun terakhir, Rusia meningkatkan kekuatan pasukan garis depannya dari 360.000 orang menjadi 470.000,” lanjut Cavoli. Ia menambahkan bahwa peningkatan jumlah tersebut didapat dari langkah Rusia yang menaikkan usia wajib militernya dari 27 menjadi 30.
Baca Juga
Dengan kebijakan tersebut, kata Cavoli, Rusia mampu memperbesar “jumlah wajib militer yang tersedia sebanyak 2 juta orang di tahun-tahun mendatang.”
“Singkatnya, Rusia berada di jalur yang tepat untuk memimpin militer terbesar di benua ini,” kata Cavoli. Ia juga menambahkan bahwa apa pun hasil perang di Ukraina, “Rusia akan menjadi lebih besar, lebih mematikan, dan lebih marah terhadap Barat dibandingkan saat mereka melakukan invasi.”
Sementara itu di sisi lain posisi Ukraina dalam konflik telah melemah secara signifikan sejak awal tahun ini, ketika Amerika kehabisan dana untuk Ukraina dan menghentikan pasokan persenjataannya ke Ukraina. Seperti diberitakan IntelliNews, Ukraina kini berada dalam krisis amunisi karena mulai kehabisan rudal jarak jauh dan amunisi pertahanan udara.
Rusia melancarkan serangan rudal besar-besaran terhadap Ukraina pada bulan Januari, dengan harapan dapat menguras persenjataan rudalnya. Hal ini ditingkatkan dengan serangan yang lebih besar lagi pada akhir bulan Maret yang berhasil menargetkan infrastruktur listrik penting Ukraina. Dan taktik ini tampaknya berhasil, karena Kyiv semakin tidak mampu melindungi fasilitas-fasilitas tersebut.

