Powell: Inflasi Amerika Serikat Masih Terlalu Tinggi
JAKARTA, Investortrust.id - Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat Jerome Powell menegaskan bahwa inflasi di Amerika Serikat masih terlalu tinggi meskipun mengalami perlambatan baru-baru ini. Pernyataan Powell pada Kamis (19/10/2023) tersebut memberikan opini bahwa opsi kenaikan suku bunga berikutnya masih akan terbuka.
“Bukti-bukti berupa pertumbuhan yang bertumbuh di atas tren atau tanda-tanda baru tentang ketatnya pasar tenaga kerja dapat membenarkan kebijakan moneter yang lebih ketat," kata Powell dalam sebuah konferensi pers di New York, yang dilansir RTE.ie, Jumat (20/10/2023).
The Fed sendiri baru-baru ini memperlambat kebijakan moneter ketatnya yang agresif, yang telah mengerek tingkat bunga pinjaman acuannya ke posisi tertinggi dalam 22 tahun. The Fed berusaha untuk mengendalikan inflasi tanpa mendorong ekonomi AS ke dalam resesi.
Baca Juga
Core inflation atau inflasi inti, yang diukur oleh Federal Reserve telah turun lebih dari separuhnya sejak mencapai puncaknya pada Juni tahun lalu. Namun dinilai The Fed masih tetap tinggi di atas target jangka panjang bahwa inflasi harus dipatok sebesar 2%.
"Inflasi masih terlalu tinggi, dan perbaikan data (indikator ekonomi) adalah awal dari keyakinan bahwa inflasi bergerak secara berkelanjutan ke arah tujuan kami (inflasi sebesar 2%)," kata Powell dalam pidatonya.
"Kita belum dapat mengetahui seberapa lama arah (inflasi) yang lebih rendah ini akan berlanjut, atau inflasi akan stabil dalam beberapa kuartal mendatang," lanjutnya, dengan menambahkan bahwa Federal Reserve akan melanjutkan kebijakannya dengan "hati-hati" pada pertemuan (Federal Open Market Committee/FOMS) mendatang.
Sementara itu Kepala Ekonom Ernst & Young, Gregory Daco dalam catatan kepada kliennya menyebut bahwa The Fed berpotensi menahan kenaikan suku bunga di November 2023.
Baca Juga
"Federal Reserve tidak terburu-buru untuk menerapkan kebijakan lebih ketat dalam kebijakan moneter. Kenaikan suku bunga pada bulan November bisa dikesampingkan," kata Daco.
Saham-saham AS sendiri anjlok setelah pernyataan Powell, menutup perdagangan Jumat dalam kontraksi.
Powell mengatakan sikap kebijakan Federal Reserve saat ini masih restriktif, dan masih akan menerapkan kebijakan yang bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan ekonomi dan inflasi, dan terus menekan aktivitas ekonomi yang lebih rendah atau penurunan inflasi yang diinginkan oleh The Fed.
“Ekonomi AS saat ini sedang menghadapi tingkat suku bunga yang lebih tinggi, setidaknya untuk saat ini, dan tanpa kesulitan," kata Powell.
"Apakah kebijakan saat ini dirasa terlalu ketat? Saya harus katakana tidak," tambahnya.
Data-data terbaru menunjukkan penguatan berkelanjutan ekonomi AS yang didukung oleh belanja konsumen yang kuat, sementara pasar tenaga kerja yang ketat menunjukkan sebaliknya, sebuah tanda pelemahan.
Powell memperingatkan bahwa "berbagai ketidakpastian, baik indikator lama maupun indikator yang baru tetap mempersulit kebijakan moneter.
Baca Juga
Keputusan-keputusan mendatang dari Federal Reserve akan "berdasarkan keseluruhan data yang masuk, pandangan yang berkembang, dan keseimbangan risiko," katanya.
Sedangkan Daco optimistis bahwa The Fed sudah usai dalam periode kebijakan moneternya yang ketat.
"Pandangan kami tetap bahwa Federal Reserve telah selesai dengan siklus kebijakan likuiditas ketatnya, namun dipangkasnya suku bunga masih tidak akan terjadi hingga Juni 2024," kata Daco.
Sepakat dengan Daco, para trader bursa berjangka memberikan probabilitas sebesar 99% bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunganya pada pertemuan 1 November mendatang, menyusul pertemuan berikutnya, demikian data yang dilansir dari CME Group.

