Korban Tewas Serangan Hamas di Israel Capai 600 Orang
JAKARTA, Investortrust.id - Setidaknya 600 warga Israel tewas, termasuk 44 tentara, dan lebih dari 2.000 orang terluka, dalam pertempuran berkelanjutan dengan militan Palestina di selatan Israel dan Gaza. Demikian dilaporkan oleh media Israel yang dikutip Irish Times, Minggu (8/10/2023).
Sementara itu sedikitnya 313 warga Palestina tewas, termasuk 20 anak-anak, dan hampir 2.000 orang lainnya terluka akibat serangan udara di Gaza sejak Sabtu, seperti yang dilaporkan otoritas Palestina. Di Tepi Barat dilaporkan tujuh orang juga tewas oleh tembakan tentara Israel.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa Israel sedang berada dalam perang setelah militan Hamas menerobos ke wilayah Israel dari Gaza yang terkepung pada Sabtu (7/10/2023). Sejumlah militan Hamas menerobos dan meluncurkan serangan kilat pada Sabtu pagi waktu setempat. Netanyahu pun memperingatkan penduduk Gaza untuk meninggalkan wilayah tersebut seraya berjanji akan mengubah sebagian wilayah tersebut "menjadi reruntuhan".
Baca Juga
Seorang pejabat militer Israel mengatakan "ratusan teroris" telah tewas dan puluhan ditangkap dalam pertempurandengan militan Hamas di Gaza dan selatan Israel.
Dalam kesempatan tersebut pihak militer Israel juga mengakui terdapat "sejumlah besar" warga sipil dan tentara Israel yang ditawan para militan dan dibawa ke Gaza. Di utara Israel, baku tembak singkat antara Israel dan kelompok militan Hizbullah Lebanon memicu juga kekhawatiran akan konflik yang lebih luas.
Menanggapi konflik terbuka di Israel dan Gaza, Paus Fransiskus pada hari Minggumendesak kedua belah pihak untuk untuk mengakhiri serangan dan kekerasan di Israel. Ia mengatakan bahwa terorisme dan perang tidak akan memecahkan masalah apa pun, tetapi hanya akan membawa lebih banyak penderitaan dan kematian bagi orang-orang yang tidak bersalah.
Baca Juga
Hamas Lakukan Serangan Fatal, Netanyahu Bersumpah Belas Lebih Keras
"Perang adalah kekalahan, hanya kekalahan. Mari kita berdoa untuk perdamaian di Israel dan Palestina," kata paus dalam pidato mingguannya kepada jemaat di Lapangan Santo Petrus.
Lebih dari 900 warga Israel yang terluka dalam serangan kilat oleh Hamas telah dibawa ke rumah sakit beberapa jam setelah kelompok Palestina tersebut meluncurkan serangan terbesarnya.
Di pihak Palestina seperti yang diungkapkan Kementerian Kesehatan Palestina, 232 orang telah tewas dan 1.700 terluka akibat serangan udara Israel di wilayah yang dikepung tersebut.
Sedangkan Netanyahu dalam sebuah siaran resmi yang ditayangkan di televisi mengatakan bahwa militer Israel akan ‘membalas hari hitam ini.’ "Perang ini akan memakan waktu. Ini akan sulit. Semua tempat yang digunakan Hamas, kami akan mengubahnya menjadi reruntuhan. Keluar dari sana sekarang," tegasnya.
Baca Juga
Tank Canggih Israel, Merkava, Keok Dihajar Granat Hamas. Intip Speknya
Israel sendiri akan menghentikan pasokan listrik, bahan bakar, dan barang kebutuhan ke Gaza, sesuai dengan pernyataan dari kantor Perdana Menteri padaSabtu malam. Akibatnya sebagian besar wilayah gelap gulita pada malam hari.
Disampaikan Netanyahu, "fase pertama" dari operasi kontra telah berakhir, dan Israel telah berhasil menghadapi sebagian besar militan Hamas. Dia pun bersumpah akan melanjutkan serangan ini "tanpa batasan dan tanpa henti".
Sejumlah pemuda Israel bercerita bagaimana mereka melarikan diri dari pesta dansa padaSabtu pagi ketika para penembak Hamas, didukung oleh hujan roket, memasuki kota-kota dan desa-desa di sepanjang perbatasan.
Pesta luar ruangan yang dihadiri oleh beberapa ratus orang di dekat kibbutz Reim segera bubar dan puluhan orang berlarian melintasi ladang dan jalan untuk menyelamatkan diri, sementara di latar belakang terdengar tembakan senjata.
Para penembak Hamas menargetkan setidaknya 22 lokasi dalam serangan awal mereka, yang berlanjut jauh setelah matahari terbenam. Para militan menangkap sejumlah sandera di dua kota dan menduduki kantor polisi di kota ketiga.
Sementara setelah matahari terbenampada hari Sabtu, serangan udara Israel di Gaza meningkat, meratakan beberapa gedung hunian dengan ledakan besar, termasuk sebuah menara 14 lantai yang berisi puluhan apartemen serta kantor Hamas di pusat Kota Gaza.Pasukan Israel mengaku telah memberikan peringatan sebelumnya agar tidak ada laporankorban jiwa yang jatuh.
Tak lama setelah itu, hujan roket Hamas ke wilayah tengah Israel mengenai empat kota, termasuk Tel Aviv dan pinggiran kota terdekat. Dalam persitiwa ini dilaporkan dua orang mengalami luka serius. Diberitakan bahwa sepanjang Sabtu, Hamas telah menembakkan lebih dari 3.500 roketke wilayah Israel.
Di kota selatan Gaza, Rafah, serangan udara Israel berlanjut pada Sabtu malam meratakan sebuah rumah, menewaskan 12 anggota keluarga Abu Qouto. Sepuluh anggota keluarga di kota utara Jebalya tewas dalam serangan udara lainnya, demikian disampaikan seorang kerabatnya yang dikutip AP. Belum diketahui alasan pemboman pada rumah-rumah tersebut.
Dalam kesempatan berbeda Presiden AS Joe Biden dari Gedung Putih telah menyampaikan bahwa ia telah berbicara dengan Netanyahu untuk mengatakan bahwa Amerika Serikat "berdiri bersama rakyat Israel di tengah serangan teroris ini. "Israel memiliki hak untuk membela diri dan rakyatnya, tanpa syarat," ujarnya seperti disiarkan di sejumlah televisi nasional di Amerika Serikat.
Sedangkan Raja Abdullah dari Yordania mengaku telah berbicara dengan Biden, dan meminta dilakukannya upaya internasional lebih tinggi untuk menghentikan eskalasi kekerasan. Sementara Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken untuk mendesak agar kekerasan di dan sekitar Gaza dihentikan.
Sejumlah maskapai penerbangan membatalkan lebih dari 80 penerbangan ke dan dari Tel Aviv pada Sabtu malam, atau sekitar 14 persen dari seluruh penerbangan yang dijadwalkan.
Penyusupan Hamas pada Simchat Torah, hari yang biasanya penuh sukacita ketika orang Yahudi menyelesaikan siklus tahunan membaca gulungan Taurat, menghidupkan kembali kenangan yang menyakitkan bagi Israel dari Perang Timur Tengah 1973 hampir 50 tahun yang lalu, di mana Mesir dan Suriah meluncurkan serangan mengejutkan pada hari Yom Kippur, hari paling suci dalam kalender Yahudi. Serangan dilakukan untuk merebut kembali wilayah Suriah dan Mesir yang diduduki oleh Israel.

