Bursa AS Melewati Pekan Penuh Kemenangan Saat Pengangguran Membengkak
JAKARTA, investortrust.id - Ekonomi Amerika Serikat (AS) sedang mengalami kondisi anomaly seputar isu lapangan kerja. Bagaimana tidak, tingkat pengangguran membubung, saat lapangan justru bertumbuh. Sebagai bukti, pada Agustus lalu, data lapangan kerja yang tersedia 187.000, atau lebih tinggi dari perkiraan sebanyak 170.000 lapangan kerja baru.
Ironisnya, tingkat pengangguran malah melesat dari 3,5% menjadi 3,8% per Agustus 2023. Ini merupakan posisi sejak Februari 2022. Sementara itu, rata-rata pendapatan per jam meningkat 4,3% dibanding tahun sebelumnya, atau lebih rendah dari perkiraan sekitar 4,4%. Berbagai fakta tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja AS sedang melambat.
Baca Juga
Hubungan Dagang AS-China Memanas, Menteri Perdagangan AS Sambangi Beijing dan Shanghai
Meski terjadi ironi soal lapangan pekerjaan, bursa AS pekan lalu bisa digambarkan sebagai pekan penuh kemanangan. Saham-saham unggulan mencetak kenaikan di tengah kabar pasar tenaga kerja yang tergolong sedang tidak cerah. Alhasil, indek-indeks utama Wall Street mampu mencatat kinerja terbaik dalam beberapa bulan terakhir.
Pada sisi lain, pasar saham Eropa bergerak bervariasi. Indeks Stoxx 600 regional ditutup datar, indeks FTSE 100 Inggris meningkat 0,34%. Meski demikian, bursa utama Eropa lainnya malah berakhir negative. Sebut saja indeks Stoxx 600 terkoreksi 2,8%.
Kenaikan indeks-indeks utama AS merupkana reaksi atas laporan pekerjaan lapangan kerja yang meningkat. Indeks S&P 500 naik 0,18% Jumat lalu, yang berarti mencetak kenaikan hingga 2,5% selama pekan lalu sekaligus rekor sejak Juni lalu.
Baca Juga
Proyeksi IHSG dan Menu Saham Sepekan, Cermati ADRO, ITMG, BUKA, BFIN, MIDI dan BBHI
Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average tumbuh 0,33% atau selama sepekan mencatat kenaikan 1,4% lebih tinggi dari pekan sebelumnya. Selama Agustus, indeks Nasdaq Composite relative datar pergerakannya, namun pada pekan terakhir Agustus tumbuh 3,3%.
Salah satu fenomena saham AS selama bulan lalu terkait dengan Tesla. Saham ini anjlok 5% setelah perusahaan memotong harga mobil untuk pasar AS dan Tiongkok. Bahkan harga perangkat lunak Full Self-Driving Tesla juga diturunkan hingga $3.000.
Kenaikan ini tidak sejalan dengan pernyataan CEO Tesla Elon Musk sebelumnya bahwa harga produknya akan naik. Walau turun selama Agustus, secara akumulasi, harga Tesla di pasar justru melesat hampir 100% selama 2023 ini.

