Minyak Brent Tembus US$113 per Barel, Pasar Cemas AS Kembali Serang Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia melonjak setelah investor mengkhawatirkan eskalasi konflik di Timur Tengah. Sentimen pasar memburuk menyusul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) berencana melanjutkan serangan terhadap Iran, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Baca Juga
Brent Bertahan di Atas US$108, Biaya Angkut Minyak Melonjak 7 Kali Lipat Gegara Perang
Dikutip dari CNBC, kontrak berjangka minyak mentah Brent melonjak 4% dan ditutup pada US$113,17 per barel pada Kamis (22/10/2026). Ini merupakan level tertinggi bagi patokan minyak internasional itu sejak 4 Mei. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,4% menjadi US$99,47 per barel.
The New York Times melaporkan, mengutip sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, bahwa militer AS dan Israel telah menyusun rencana khusus untuk melancarkan kembali serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada bulan depan. Para pejabat tersebut menyebut persiapan untuk operasi yang berlangsung singkat tetapi intensif masih berjalan.
Presiden AS Donald Trump kemudian mengatakan Washington tidak sedang bernegosiasi dengan Teheran. Ketika ditanya wartawan pada Rabu malam, Trump menyatakan bahwa sesuatu akan terjadi terkait Iran dalam waktu dekat, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
“Sebagian besar orang tampaknya berpikir itu akan terjadi setelah pemilihan. Kita akan melihat apa yang terjadi,” kata Trump.
Ketegangan regional juga meningkat setelah pemerintah AS memerintahkan pegawai pemerintah yang tidak bertugas dalam keadaan darurat beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott menyatakan melalui unggahan di platform X bahwa perintah tersebut hanya berlaku untuk Arab Saudi. Ia membantah laporan bahwa Washington telah memerintahkan sejumlah stafnya di kawasan Teluk yang lebih luas untuk meninggalkan wilayah tersebut.
Pigott menjelaskan, keputusan itu diambil menyusul meningkatnya serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terhadap sasaran sipil di Arab Saudi.
Media pemerintah Saudi melaporkan, sedikitnya dua orang tewas dan delapan lainnya terluka dalam serangan terhadap Bandara Internasional King Fahd di Dammam, pesisir timur Arab Saudi, pada Rabu.
Di tengah meningkatnya ancaman keamanan, perusahaan minyak raksasa Saudi Aramco juga memerintahkan sejumlah karyawannya meninggalkan kantor pusat perusahaan di Dhahran dan bekerja dari rumah. Informasi tersebut disampaikan sejumlah sumber yang mengetahui persoalan itu kepada Reuters pada Kamis.
Fasilitas Aramco sebelumnya berulang kali menjadi sasaran serangan kelompok Houthi.
Lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan terhadap perekonomian global, terutama melalui kenaikan biaya bahan bakar, transportasi, dan produksi. Namun, dampak ekonomi dari kenaikan harga energi saat ini dinilai mungkin tidak separah beberapa dekade lalu karena konsumen relatif lebih mampu menghadapi guncangan harga energi.
Baca Juga
Inflasi AS September Tembus 3,7% YoY, Harga Minyak Jadi Biang Kerok
David Wagner, kepala ekuitas sekaligus manajer portofolio di Aptus Capital Advisors, mengatakan harga minyak US$100 per barel saat ini memiliki konsekuensi berbeda dibandingkan ketika harga berada pada level yang sama 20 hingga 30 tahun lalu.
Ia menilai harga minyak mentah masih berada jauh di bawah rekor historisnya apabila disesuaikan dengan inflasi.
Wagner juga merujuk data pemerintah AS yang menunjukkan bahwa bensin menyerap sekitar 5% dari pendapatan siap belanja rata-rata warga Amerika satu dekade lalu. Porsi tersebut kini tinggal sekitar setengahnya.
Kondisi itu mengindikasikan bahwa rumah tangga AS relatif memiliki ruang lebih besar untuk menanggung kenaikan biaya energi. Meski demikian, apabila harga minyak terus bertahan tinggi, tekanan terhadap daya beli masyarakat dan perekonomian global tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai.
