Wall Street Tumbang Dihantam Inflasi dan Aksi Jual Saham AI
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat melemah pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (15/10/2026) WIB. Pelemahan dipicu data inflasi konsumen AS September yang lebih tinggi dari perkiraan dan aksi jual saham teknologi terkait kecerdasan buatan (AI).
Indeks S&P 500 turun 1,11% menjadi 7.718,94. Nasdaq Composite merosot 1,88% ke posisi 26.692,87, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 48,62 poin atau 0,09% menjadi 51.621,48.
Baca Juga
Inflasi AS September Tembus 3,7% YoY, Harga Minyak Jadi Biang Kerok
Penguatan sejumlah saham kesehatan, termasuk UnitedHealth dan Amgen, membantu menahan penurunan Dow Jones yang beranggotakan 30 saham.
Tekanan terhadap pasar muncul setelah Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga konsumen (CPI) meningkat 0,6% secara bulanan pada September. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,7%, lebih tinggi daripada perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 3,6%.
Inflasi inti, yang tidak memasukkan harga makanan dan energi, juga melampaui ekspektasi. Core CPI naik 0,3% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan, dibandingkan perkiraan masing-masing 0,2% dan 2,5%.
“Laporan inflasi itu membuat kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Desember semakin terbuka,” kata Philip Blancato, kepala strategi pasar di Osaic, kepada CNBC.
Ia juga memperkirakan inflasi inti dapat berada di sekitar 3% pada tahun depan apabila kenaikan harga minyak terus memberikan tekanan terhadap perekonomian.
Kekhawatiran investor bertambah karena harga energi masih tinggi. Menurut American Automobile Association (AAA), rata-rata harga bensin di AS mencapai US$4,33 per galon, naik dari sekitar US$3,08 per galon pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pekan sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan pelonggaran sementara terhadap pembatasan ekspor bahan bakar diesel Rusia. Namun, analis menilai kesepakatan tersebut belum tentu cukup untuk menurunkan biaya bahan bakar secara berarti bagi pengemudi truk dan petani.
Harga minyak AS juga kembali meningkat. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 1,01% menjadi US$95,09 per barel.
Meski demikian, Blancato mengatakan dirinya tidak terlalu khawatir terhadap pasar saham maupun obligasi. Ia menilai kenaikan inflasi terbaru berpotensi bersifat sementara dan sebagian dampaknya telah diperhitungkan oleh pasar.
Saham AI Anjlok
Di luar inflasi, investor juga mencermati risiko pembiayaan yang semakin besar pada perusahaan teknologi di luar kelompok Magnificent Seven. Pasar khawatir sejumlah perusahaan terlalu mengandalkan utang untuk membiayai ekspansi bisnis AI.
Baca Juga
Wall Street Melemah Jelang Rilis Data Inflasi AS, Saham Bank dan Chip Tertekan
Saham CoreWeave anjlok lebih dari 15%, sedangkan Oracle merosot hampir 9%. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap perusahaan yang membutuhkan pendanaan besar untuk membangun infrastruktur AI.
Saham produsen cip juga melanjutkan tren penurunan. Micron Technology, yang telah terkoreksi lebih dari 3% pada sesi sebelumnya, kembali turun 4%. Advanced Micro Devices (AMD) dan SanDisk masing-masing merosot lebih dari 5%, sementara Intel melemah 4%.
Tekanan tidak hanya terjadi di sektor teknologi. Saham Bank of America turun hampir 5% setelah pendapatan perusahaan pada kuartal III tidak memenuhi ekspektasi pasar.
Bank tersebut juga menghadapi sanksi federal lebih dari US$1,2 miliar. Regulator menyatakan Bank of America gagal melaporkan transaksi mencurigakan senilai lebih dari US$5 miliar.
Sementara itu, Morgan Stanley membukukan hasil kuartalan yang melampaui perkiraan. Namun, saham perusahaan tersebut tetap berakhir turun hampir 3%.
Pergerakan pasar menunjukkan investor menghadapi dua kekhawatiran, yaitu inflasi yang berpotensi membuat suku bunga tetap tinggi lebih lama dan risiko valuasi serta pendanaan di sektor teknologi yang terkait dengan AI. Kombinasi keduanya menekan saham, terutama perusahaan teknologi dan produsen cip.
