Wall Street ‘Mixed’, Eskalasi di Timur Tengah dan Anjloknya Saham Chip Tekan Pasar
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak bervariasi pada perdagangan Senin waktu AS atau Selasa (13/10/2026) WIB. Indeks S&P 500 turun tipis 0,06%. Nasdaq Composite melemah 0,44%. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average menguat 195,60 poin atau 0,38%.
Penurunan Nasdaq terutama dipengaruhi saham Micron Technology yang merosot 3,9%. Investor mengevaluasi meningkatnya persaingan dari ChangXin Memory Technologies (CXMT), produsen chip memori asal China yang melaporkan kemajuan dalam pengembangan struktur chip baru.
Persaingan tersebut menambah perhatian pasar terhadap posisi produsen semikonduktor AS di tengah upaya China memperkuat kemampuan industri chip domestiknya.
Baca Juga
Saham Berjangka AS Bergerak Terbatas, Investor Menanti Laporan Laba ‘Bank Raksasa’ Wall Street
Sebaliknya, Dow Jones mendapat dukungan dari saham Salesforce yang naik 2% setelah Bank of America menaikkan rekomendasinya sebanyak dua tingkat. Kenaikan saham tersebut membantu menopang indeks meskipun saham teknologi lainnya mengalami tekanan.
Konflik Geopolitik Bayangi Pasar
Di pasar energi, harga minyak naik setelah Trump mengumumkan gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina pada akhir pekan, yang kemudian dituduh dilanggar oleh Zelenskyy.
Minyak mentah WTI naik sekitar 2% ke kisaran US$94 per barel, sedangkan Brent menguat sekitar 2% menuju US$107 per barel.
Baca Juga
Minyak Brent Tembus US$106, Serangan Mematikan di Riyadh Picu Kekhawatiran Pasokan
Tekanan geopolitik juga meningkat setelah Trump mengatakan sedang mempertimbangkan untuk bergabung dengan Arab Saudi dalam menghadapi kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran. Pernyataan tersebut menyusul serangan mematikan di bandara internasional Riyadh.
Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya operasional perusahaan dan menambah tekanan inflasi. Kondisi ini menjadi salah satu risiko yang diperhitungkan investor ketika memasuki musim laporan keuangan.
Meski demikian, Wall Street sebelumnya mencatat pekan yang positif. Reli saham teknologi membantu investor mengabaikan kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi.
Dow Jones dan S&P 500 masing-masing mencatat kenaikan mingguan kedua dalam tiga pekan terakhir. Nasdaq Composite juga membukukan penguatan selama empat pekan berturut-turut.
Proyeksi Laba S&P 500
Investor berharap laporan keuangan kuartal III dapat memberikan dorongan bagi pasar saham di tengah ketidakpastian geopolitik.
Menurut John Butters dari FactSet, laba perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 diperkirakan tumbuh 29,6% pada kuartal III-2026. Jika terealisasi, pertumbuhan tersebut akan menjadi yang keempat kalinya secara beruntun ketika indeks mencatat kenaikan laba di atas 25%.
Investasi besar-besaran dalam pembangunan pusat data untuk mendukung kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan laba tersebut.
Musim laporan keuangan akan semakin intensif pekan ini, dengan enam bank besar AS dijadwalkan mengumumkan hasil kinerja mereka. Bank-bank tersebut meliputi Bank of America, Citigroup, Goldman Sachs, JPMorgan Chase, Morgan Stanley, dan Wells Fargo.
Kinerja sektor perbankan akan memberikan gambaran mengenai kondisi bisnis, aktivitas kredit, serta dampak biaya pendanaan dan suku bunga terhadap profitabilitas.
“Perhatian pasar akan sangat terpusat pada laporan keuangan perusahaan,” ujar Tim Holland, kepala investasi di Orion, kepada CNBC.
Menurut Holland, sekalipun data inflasi pekan ini lebih tinggi daripada perkiraan, investor kemungkinan masih menilai kenaikan tersebut belum cukup untuk menggagalkan keputusan Federal Reserve mempertahankan suku bunga. Perkiraan pasar yang dirujuk melalui CME FedWatch menunjukkan suku bunga AS secara umum diperkirakan tetap stabil pada pertemuan The Fed berikutnya.
Holland menilai investasi belanja modal untuk pengembangan infrastruktur AI masih menjadi faktor penting yang menopang pasar saham.
Ia juga mengakui bahwa reli pasar saham pada akhirnya dapat menghadapi tekanan. Namun, untuk saat ini, besarnya investasi perusahaan dalam pengembangan AI tetap menjadi salah satu perhatian utama investor.
Tunggu Data inflasi
Selain laporan keuangan, investor akan mencermati indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) September yang dijadwalkan dirilis pada Rabu, serta indeks harga produsen atau producer price index (PPI) pada Kamis.
Data tersebut akan membantu investor menilai perkembangan tekanan harga di tingkat konsumen dan produsen, terutama ketika harga energi kembali meningkat.
Baca Juga
Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperumit prospek kebijakan moneter. Namun, respons pasar juga akan bergantung pada kekuatan laba perusahaan, prospek pertumbuhan, dan penilaian investor terhadap kemampuan The Fed mempertahankan suku bunga.
Pekan ini juga menandai empat tahun sejak dimulainya tren pasar bullish S&P 500, setelah indeks tersebut mencatat level penutupan terendah di 3.577,03 pada Oktober 2022.
Sejak titik tersebut, S&P 500 telah meningkat lebih dari dua kali lipat.
Pergerakan selanjutnya akan bergantung pada kemampuan perusahaan memenuhi ekspektasi laba, perkembangan inflasi, dan ketahanan sektor teknologi di tengah persaingan global serta ketidakpastian geopolitik.
