Harga Minyak Turun, G7 Lepas Cadangan 100 Juta Barel di Tengah Ancaman Serangan Saudi ke Houthi
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia bergerak melemah setelah negara-negara kelompok G7 mengumumkan pelepasan cadangan minyak mentah dan bahan bakar diesel untuk meredam lonjakan harga energi di tengah gangguan pasokan global.
Baca Juga
AS Disebut Kirim Kapal Induk Ketiga ke Timur Tengah, Minyak Brent Melonjak Lebih dari 4%
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, turun 6 sen menjadi US$102,25 per barel pada perdagangan Jumat (2/10/2026). Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi US$1,76 atau sekitar 1,9% menjadi US$91,11 per barel.
Para pemimpin G7 menyepakati pelepasan 100 juta barel cadangan minyak selama empat bulan ke depan. Pelepasan tersebut akan dipercepat pada tahap awal, terutama untuk pasokan diesel.
Dalam pernyataan bersama, para pemimpin G7 menyebutkan bahwa pelepasan cadangan bahan bakar diesel dalam jumlah besar akan dilakukan dalam 20 hari pertama.
G7 terdiri atas Prancis, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat (AS). Langkah tersebut ditempuh untuk meredam tekanan harga bahan bakar yang meningkat akibat konflik geopolitik dan gangguan distribusi energi.
Keputusan tersebut muncul ketika pasar energi global masih dibayangi ketidakpastian pasokan dari Eropa Timur dan Timur Tengah.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump sebelumnya mendesak negara-negara Eropa untuk melepaskan cadangan diesel guna mengatasi kekurangan pasokan bahan bakar global.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Kamis menegaskan bahwa petani, perusahaan transportasi, dan pelaku usaha di AS tidak seharusnya menanggung beban kelangkaan diesel global.
"Petani, pengemudi truk, dan pelaku usaha Amerika tidak seharusnya menanggung beban kekurangan diesel global," ujar Bessent.
Trump sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan memberlakukan larangan ekspor diesel AS. Namun, ia terlihat mulai melunakkan sikap tersebut pada awal pekan ini karena kebijakan itu berpotensi meningkatkan harga bensin di dalam negeri.
Ketergantungan Eropa terhadap pasokan diesel AS menjadi salah satu faktor yang memperumit persoalan tersebut.
Berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), sekitar separuh impor diesel Uni Eropa pada Agustus berasal dari AS. Kondisi ini memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi negara-negara Eropa apabila Washington benar-benar membatasi ekspor bahan bakar.
Ancaman Saudi Serang Houthi
Di tengah upaya negara-negara Barat memperbesar pasokan energi, ketegangan di Timur Tengah justru kembali meningkat.
Arab Saudi dilaporkan sedang merencanakan operasi militer terhadap kelompok militan Houthi di Yaman yang didukung Iran. Informasi tersebut disampaikan sejumlah pejabat regional dan Barat kepada Reuters.
Baca Juga
Saudi Tutup Pipa East-West Gara-Gara Serangan Houthi, Minyak Brent Dekati US$ 108
Rencana serangan itu muncul di tengah gangguan keamanan jalur pelayaran Laut Merah yang selama ini menjadi salah satu jalur penting perdagangan energi dan barang global.
Apabila operasi militer benar-benar dilakukan, risiko gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut dapat meningkat. Situasi ini berpotensi menghambat distribusi minyak dan produk energi, sekaligus meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi kapal.
Harga minyak pada perdagangan Kamis sebelumnya justru melonjak setelah muncul laporan bahwa AS akan mengirim kelompok tempur kapal induk ketiga ke Timur Tengah.
Brent sempat melonjak 4,4% menjadi US$102,31 per barel, sedangkan WTI naik 2,7% menjadi US$92,87 per barel.
Perbedaan arah pergerakan harga minyak dalam dua hari perdagangan tersebut memperlihatkan tarik-menarik antara upaya menambah pasokan dan meningkatnya risiko geopolitik.
Pelepasan cadangan minyak G7 dapat membantu menambah pasokan dalam jangka pendek. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada besarnya gangguan pasokan aktual, perkembangan konflik, serta kemampuan negara-negara produsen dan konsumen menjaga kelancaran distribusi energi.
Bagi pasar, persoalan bahan bakar solar menjadi perhatian tersendiri karena bahan bakar tersebut merupakan komponen penting dalam transportasi barang, industri, pertanian, dan aktivitas ekonomi.
