Inflasi PCE AS Agustus Melunak, Ekspektasi Kenaikan Bunga Fed Menurun
Poin Penting
|
WASHINGTON D.C., investortrust.id - Inflasi PCE (personal consumption expenditures) AS pada Agustus melunak, lebih rendah dari perkiraan. Inflasi PCE merupakan indikator yang menjadi acuan utama Federal Reserve, sehingga menurunkan ekspektasi bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga pada Oktober.
Departemen Perdagangan AS pada Rabu (30/9/2026) melaporkan indeks harga PCE naik 0,3% secara bulanan pada Agustus. Secara tahunan, PCE meningkat 3,4%.
Baca Juga
Inflasi AS Agustus 3,4% YoY, Ekspektasi Kenaikan Bunga Fed Menguat
Kenaikan tersebut lebih rendah dari perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones, yakni masing-masing 0,3% secara bulanan dan 3,7% secara tahunan.
Sementara itu, PCE inti yang tidak memasukkan harga pangan dan energi naik 0,2% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi inti PCE mencapai 3%.
Angka tersebut juga lebih rendah dari perkiraan ekonom yang memprediksi kenaikan 0,3% secara bulanan dan 3,3% secara tahunan.
Meski Federal Reserve secara resmi menggunakan PCE secara keseluruhan sebagai indikator inflasi pilihannya, para pejabat bank sentral AS umumnya memperhatikan PCE inti sebagai ukuran yang lebih baik untuk melihat tren inflasi jangka panjang.
Namun, data terbaru tersebut perlu dibaca dengan memperhatikan perubahan metodologi yang dilakukan Biro Analisis Ekonomi (BEA). Lembaga tersebut mengubah metode penghitungan sejumlah komponen indeks, termasuk biaya jasa hukum, perangkat lunak dan aksesori komputer, serta pengelolaan portofolio.
Perubahan metodologi tersebut memangkas angka PCE inti Juli sebesar 0,36 poin persentase.
Pasar keuangan langsung merespons positif data inflasi tersebut. Kontrak berjangka saham AS menguat setelah laporan dirilis, sementara yield Treasury bergerak turun.
Pelaku pasar juga mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober dan mulai memperkirakan kenaikan berikutnya lebih mungkin terjadi pada Desember.
"Ini merupakan kabar baik bagi investor yang khawatir terhadap lonjakan yield obligasi baru-baru ini dan memperkuat alasan untuk tidak menaikkan suku bunga pada Oktober," kata David Russell, global head of market strategy TradeStation, dikutip CNBC.
Namun, Russell mengingatkan bahwa data tersebut relatif tertinggal karena belum mencerminkan lonjakan harga solar pada September.
Di sisi lain, data menunjukkan pendapatan pribadi masyarakat AS naik 0,2% pada Agustus, sementara belanja konsumen meningkat 0,9%. Ekonom sebelumnya memperkirakan pendapatan naik 0,4% dan belanja meningkat 0,8%.
Masih di Atas Target Fed
Meskipun lebih rendah dari perkiraan, tingkat inflasi PCE masih jauh di atas target Federal Reserve sebesar 2%.
Baca Juga
The Fed Kerek Bunga ke 3,75%-4%, Masih Terbuka Kenaikan Lagi Tahun Ini
Kondisi tersebut membuat peluang kenaikan suku bunga lanjutan tetap terbuka setelah kenaikan 25 basis poin pada September. "Setelah revisi metodologi besar-besaran sekalipun, inflasi PCE masih tinggi, bagaimanapun cara kita melihatnya," kata Sonu Varghese, global macro strategist di Carson Group.
Menurutnya, perekonomian AS masih menunjukkan aktivitas yang kuat, sementara kebijakan moneter masih relatif longgar. Hal tersebut membuat The Fed harus menentukan seberapa besar pengetatan yang dibutuhkan.
Kenaikan harga energi menjadi pendorong utama inflasi pada Agustus. Harga bensin melonjak 4,4%, sedangkan jasa transportasi naik 1,4%. Harga barang dan jasa energi secara keseluruhan meningkat 2,3%.
Baik harga barang maupun jasa masing-masing naik 0,3%.
Data ekonomi lainnya menunjukkan perekonomian AS tumbuh lebih kuat dari perkiraan sebelumnya. Produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal II 2026 tumbuh pada laju tahunan 2,2%, menurut estimasi final Departemen Perdagangan.
Angka tersebut naik tajam dari estimasi sebelumnya sebesar 1,5%. Revisi tersebut mencerminkan kontribusi yang lebih besar dari belanja konsumen, belanja pemerintah dan investasi.
Penjualan final riil kepada pembeli domestik swasta, salah satu indikator yang diperhatikan pejabat The Fed untuk mengukur permintaan dasar perekonomian, tumbuh 4,6%. Angka tersebut direvisi naik 0,4 poin persentase.
Inflasi PCE untuk periode April-Juni juga direvisi lebih rendah. PCE utama tercatat 5%, sementara PCE inti 3,3%, masing-masing 0,3 poin persentase lebih rendah dari estimasi sebelumnya.
Bagi Federal Reserve, kombinasi data inflasi dan pertumbuhan ekonomi tersebut menciptakan tantangan dalam menentukan arah kebijakan berikutnya.
Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams pada Selasa mengatakan tidak ada kebutuhan untuk terburu-buru setelah keputusan kenaikan suku bunga pada September.
"Dengan tindakan kebijakan yang kami ambil pada pertemuan September, tidak ada kebutuhan untuk mendesak, dan kami memiliki waktu untuk mengumpulkan lebih banyak informasi," ujar Williams.
Namun, Williams tetap menyatakan kenaikan suku bunga lainnya "mungkin tepat dilakukan pada akhir tahun".
Pernyataan tersebut, ditambah data inflasi terbaru, membuat pasar menggeser ekspektasi kenaikan suku bunga berikutnya dari Oktober menuju Desember.
