Konflik Timur Tengah Memanas, Minyak Brent Naik Tipis
NEW YORK, Investortrust.id - Harga minyak mentah Brent sedikit menguat dalam sesi singkat pada awal pekan ini.
Baca Juga
Abaikan Perkiraan Permintaan Global, Harga Minyak Naik Lebih dari 1%
Pasar masih mengkhawatirkan pasokan akibat ketegangan di Timur Tengah. Namun, kenaikan diimbangi oleh tanda-tanda melemahnya permintaan.
Pada Senin (19/02), harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman April 2024 ditutup naik 9 sen menjadi US$ 83,56 per barel.
Sedangkan, pasar AS libur, sehingga harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Maret 2024 tidak memiliki data penutupan.
Baik Brent maupun WTI berjangka, pada pekan lalu masing-masing naik sekitar 1,5% dan 3%, mencerminkan meningkatnya risiko meluasnya konflik Timur Tengah.
Konflik di Timur Tengah berlanjut selama akhir pekan ketika serangan Israel membuat rumah sakit terbesar kedua di Jalur Gaza tidak dapat beroperasi.
Pada hari Sabtu, pejuang Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal tanker minyak tujuan India.
AS telah mengusulkan kepada Dewan Keamanan PBB untuk menentang serangan Israel di Rafah dan mendukung gencatan senjata sementara di Gaza, menurut rancangan teks yang dilihat oleh Reuters.
Dorongan kenaikan harga minyak diimbangi melambatnya perkiraan permintaan dari International Energy Agenc (IEA) dan kenaikan harga produsen AS yang lebih besar dari perkiraan pada bulan Januari, sehingga memperkuat kekhawatiran inflasi dan mengangkat dolar AS.
Indeks dolar AS, yang melacak mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama lain, telah menguat selama lima minggu berturut-turut dan sedikit lebih tinggi pada hari Senin. Penguatan dolar membuat minyak dalam mata uang dolar kurang menarik bagi investor yang memegang mata uang lain, sehingga mengurangi permintaan.
“Harga minyak cukup berfluktuasi dalam beberapa pekan terakhir, sebagian karena penguatan dolar AS,” kata Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index, seperti dikutip Reuters.
Dampak dolar AS telah mengimbangi langkah-langkah pendukung seperti situasi Timur Tengah, intervensi OPEC yang sedang berlangsung, dan harapan kondisi ekonomi di China akan membaik pada kuartal mendatang.
Baca Juga
Harga Minyak Merosot 1% Dipicu Peningkatan Stok Minyak Mentah AS

