Harga Minyak Melonjak Hampir 3%, AS Ancam ‘Sanksi Ekonomi Terberat’ untuk Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia melonjak lagi setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan Washington akan memberlakukan sanksi "terberat dalam sejarah" terhadap Iran.
Baca Juga
UEA Putus Hubungan Finansial dengan Iran, Harga Minyak Naik Lagi
Minyak mentah Brent, patokan harga minyak internasional, naik 2,4% dan ditutup pada US$93,78 per barel pada Kamis (20/8/2026). Minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober menguat 2,7% menjadi US$86,64 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah Bessent menegaskan bahwa Amerika Serikat akan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dengan tujuan melumpuhkan rezim di Teheran.
"Kami memiliki blokade dan kami akan memberlakukan sanksi terberat dalam sejarah. Ini akan berhasil," kata Bessent kepada CNBC.
Ia membandingkan strategi tersebut dengan tekanan ekonomi yang pernah diterapkan AS terhadap Venezuela dan Kuba.
"Ini berhasil di Venezuela ketika kami menerapkan blokade. Ini sedang berhasil di Kuba sekarang dan ini akan berhasil di Iran, dan kami akan membuat rezim ini kolaps," ujarnya.
Bessent mengatakan akan menggelar konferensi pers pada Senin untuk menjelaskan lebih jauh rencana Presiden Donald Trump dalam menjalankan "perang ekonomi" terhadap Iran.
Ancaman Trump
Trump pada Rabu mengancam Iran dengan "operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun".
Presiden AS tersebut juga memperingatkan negara-negara yang tetap melakukan bisnis dengan Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi.
Ancaman tersebut sempat mendorong harga minyak naik lebih dari 3% pada awal perdagangan Kamis.
Namun, Bessent mengatakan pasar kemungkinan salah menafsirkan pernyataan Trump. Menurutnya, peningkatan tekanan ekonomi justru dapat mengurangi kemungkinan pecahnya kembali perang terbuka dalam skala besar.
"Saya tidak yakin mengapa harga minyak melonjak karena hal ini. Jika kami menerapkan tekanan ekonomi maksimum, kemungkinan besar tidak akan ada dimulainya kembali operasi kinetik berskala besar," kata Bessent.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Washington ingin meningkatkan tekanan terhadap Teheran melalui instrumen ekonomi dan keuangan, bukan melalui eskalasi militer langsung.
Harga minyak juga terdorong setelah UEA mengumumkan penghentian seluruh transaksi perdagangan dan keuangan dengan Iran.
UEA merupakan salah satu mitra dagang utama Iran. Keputusan tersebut diambil setelah Abu Dhabi menyatakan dua rudal balistik telah ditembakkan dari Iran ke wilayahnya pada Selasa. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membantah bahwa Iran melakukan serangan tersebut.
Keputusan UEA semakin mempersempit jalur perdagangan dan keuangan Iran yang sebelumnya sudah berada di bawah tekanan berat akibat berbagai sanksi Amerika Serikat. Kondisi tersebut juga memperkecil peluang tercapainya kembali kesepakatan gencatan senjata antara Washington dan Teheran.
Risiko Pasokan Minyak
Bagi pasar energi, peningkatan tekanan ekonomi terhadap Iran menimbulkan kekhawatiran mengenai stabilitas pasokan minyak dari kawasan Teluk.
Iran merupakan salah satu produsen minyak utama dunia, sementara ketegangan yang melibatkan negara-negara Teluk berpotensi memengaruhi arus perdagangan energi melalui kawasan strategis tersebut.
Baca Juga
AS Ancam Isolasi Ekonomi Iran, Selat Hormuz Bisa Diblokade Tanpa Batas
Jika tekanan ekonomi berkembang menjadi eskalasi geopolitik atau militer, pasar berpotensi kembali memasukkan premi risiko yang lebih besar ke dalam harga minyak.
Sebaliknya, jika tekanan maksimum Washington berhasil mendorong penyelesaian diplomatik tanpa konflik terbuka berskala besar, kenaikan harga minyak berpotensi lebih terbatas.
Untuk sementara, pasar harus menghadapi kombinasi antara sanksi AS yang semakin agresif, putusnya hubungan ekonomi Iran-UEA dan ketidakpastian mengenai arah konflik serta gencatan senjata.

