Wall Street Ambruk Dipicu Lonjakan Yield Obligasi AS, Dow Anjlok Lebih 700 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham Amerika Serikat kembali berada di bawah tekanan pada Kamis waktu AS atau Jumat (21/8/2026) WIB. Imbal hasil Treasury terus meningkat meski Departemen Keuangan AS telah meluncurkan program pembelian kembali surat utang untuk meredam lonjakan yield.
Dow Jones Industrial Average anjlok 703,84 poin atau 1,32% menjadi 52.759,21. Indeks S&P 500 turun 0,87% menjadi 7.641,16 dan Nasdaq Composite melemah 1% menjadi 26.067,17.
Baca Juga
Pasar Obligasi AS Kembali Bergejolak, Intervensi Bessent Mulai Dipertanyakan
Kenaikan yield obligasi menjadi salah satu faktor utama yang membebani saham. Yield Treasury 10 tahun naik lebih dari 5 basis poin menjadi 4,704%, sedangkan yield Treasury 30 tahun meningkat lebih dari 5 basis poin menjadi 5,248%.
Kenaikan tersebut membawa yield kembali melewati level sebelum Treasury mengumumkan rencana setidaknya menggandakan pembelian kembali obligasi pemerintah bertenor 10, 20 dan 30 tahun dalam beberapa bulan mendatang.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC bahwa nilai program buyback tersebut bahkan dapat melebihi US$4 miliar yang diumumkan sebelumnya.
Namun, investor meragukan kemampuan program tersebut untuk mengatasi persoalan mendasar di pasar obligasi.
Adam Phillips, managing director of investments di EP Wealth Advisors, menilai program buyback bukan solusi untuk seluruh persoalan pasar obligasi AS.
"Ini bukan obat untuk penyakit pasar obligasi. Ada kekuatan struktural yang berperan dan benar-benar berada di luar kendali Treasury maupun pemerintahan," ujarnya, dikutip CNBC.
Menurut Phillips, dampak positif dari intervensi pemerintah sebelumnya terhadap pasar obligasi cenderung hanya berlangsung sementara. Karena itu, diperlukan langkah yang lebih kuat apabila pemerintah ingin menciptakan dampak yang bertahan lama.
Harga Minyak Naik
Tekanan terhadap saham semakin besar karena harga minyak kembali naik di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Presiden Donald Trump mengatakan melalui Truth Social pada Rabu bahwa Amerika Serikat akan memulai operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap sebuah negara.
Trump menyebut langkah tersebut sebagai "Economic Warfare and Isolation" atau perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca Juga
AS Ancam Isolasi Ekonomi Iran, Selat Hormuz Bisa Diblokade Tanpa Batas
Bessent kemudian mengatakan pada Kamis bahwa Amerika Serikat akan menjatuhkan "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran.
Ketegangan geopolitik tersebut mendorong harga minyak semakin tinggi. Kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober naik hampir 3% menjadi US$86,83 per barel.
Sementara itu, minyak Brent, patokan global, naik lebih dari 2% menjadi US$93,78 per barel.
Kenaikan harga minyak menambah kekhawatiran investor karena dapat kembali memberikan tekanan terhadap inflasi sekaligus mempersempit ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga.
Saham Walmart Terpukul
Selain kenaikan yield dan harga minyak, tekanan terhadap Wall Street juga datang dari penurunan tajam saham Walmart.
Saham perusahaan ritel tersebut anjlok sekitar 9%, menjadi salah satu penekan terbesar Dow Jones. Walmart mencatat kinerja terburuknya dalam lebih dari empat tahun setelah penjualan sebanding di Amerika Serikat tidak memenuhi ekspektasi analis.
Perusahaan tersebut juga memberikan proyeksi laba yang telah disesuaikan untuk kuartal III dan sepanjang tahun yang berada di bawah harapan pasar.
Penurunan saham Walmart memperburuk sentimen pasar yang sebelumnya telah dibayangi kekhawatiran mengenai tingginya biaya pinjaman dan meningkatnya yield obligasi pemerintah AS.
Wall Street sebenarnya baru saja mengakhiri sesi positif sehari sebelumnya. S&P 500 berhasil menghentikan penurunan selama tiga sesi berturut-turut setelah yield Treasury jangka panjang turun menyusul pengumuman program buyback pemerintah. Namun, pemulihan itu kembali terancam setelah yield obligasi meningkat lagi.

